Aurelie Moeremans dan Broken Strings, Dari Luka Pribadi hingga Ruang Pulih bagi Banyak Perempuan
Aurelie Moeremans bercerita pada Tribunnews.com tentang Broken Strings, buku yang ramai jadi buah bibir karena ungkap sisi kelamnya di masa lalu.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana
Ringkasan Berita:
- Buku Broken Strings tulisan artis peran, Aurelie Moeremans menghebohkan dunia maya.
- Buku itu garis besarnya membahas trauma dan masa lalu kelam Aurelie Moeremans ketika mengalami child grooming saat masih remaja.
- Ini penuturan sang artis dari buku yang ramai diperbincangkan ini.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Awal tahun 2026 dibuka dengan berbagai keriuahan di dunia hiburan tanah air.
Setelah spesial show Pandji Pragiwaksono yang dipermasalahkan oknun ormas, kini sebuah buku jadi buah bibir.
Baca juga: Buku Broken Strings Ramai Dibicarakan, Aurelie Moeremans: Jujur Aku Tak Menyangka
Buku yang ditulis oleh seorang artis peran, Aurelie Moeremans dari negeri Paman Sam, ramai diperbincangkan.
Buku itu garis besarnya membahas trauma dan masa lalu kelam Aurelie Moeremans ketika mengalami child grooming saat masih remaja.
Ia menjalani hubungan yang menipulatif bersama seorang pria yang jauh lebih dewasa ketika itu. Sosok pria itu kemudian dibeberkan Aurelie dalam buku dengan nama samaran 'Bobby'.
Fisiknya tak ada di Indonesia, namun hasil tulisannya berhasil membuat masyarakat, sosial media dan dunia hiburan di Indonesia riuh.
Sebuah karya tulis yang lahir dari kegelisahan, trauma dan rasa sakit di masa remaja, hadir dengan diberi judul 'Broken Strings' oleh sang penulis, Aurelie Moeremans yang memang tak menggunakan nama pena seperti penulis pada umumnya.
Dari ribuan kilometer di belahan bumi lainnya, dan dalam kondisi hamil tua, Aurelie dengan ramah mau berbagi cerita soal buku terbarunya itu kepada Tribunnews.com, lewat pesan di Whatsapp.
Berikut penggalan cerita Aurelie Moeremans Pada Tribunnews.com tentang Broken Strings.
Ide yang Disimpan Bertahun-tahun
Aurelie Moeremans memilih jalan yang tidak biasa ketika merilis Broken Strings pada 2025 lalu.
Alih-alih langsung menerbitkannya dalam bentuk buku fisik, ia justru menghadirkan kisah paling personal dalam hidupnya melalui e-book yang bisa diakses secara gratis.
Keputusan itu mencerminkan satu hal, ia menjadikan Broken Strings bukan sekadar karya literasi yang komersil.
Aurelie mengatakan jika buku ini jadi ruang kejujuran yang lahir dari proses panjang dan penuh kehati-hatian.
Aurelie mengungkapkan bahwa proses penulisan buku tersebut tidak bisa diukur hanya dari lamanya ia duduk menulis.
Secara emosional, kisah dalam Broken Strings telah disimpannya bertahun-tahun sebelum akhirnya berani dituangkan ke dalam susunan kata.
“Proses penulisannya sebenarnya cukup panjang. Ceritanya sudah aku simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku lakukan secara intens dalam beberapa bulan,” ujar Aurelie Moeremans kepada Tribunnews.com, Rabu (14/1/2026).
Ditulis dengan Hati-hati, Broken Strings Jadi Ruang Kejujuran Ungkap Isi Hati
Ia menegaskan memang sengaja memilih ritme yang pelan dalam menulis.
Bukan karena writer's block bahasa umum para penulis yang mengindikasikan hilangnya ide, tapi Aurelie memang ingin menulis itu secara hati-hati.
Aurelie tak mengejar buku itu harus rilis dalam waktu cepat, atau buru-buru disebarkan ke orang-orang.
Baca juga: Psikolog Komentari Keberanian Aurelie Moeremans Ungkap Child Grooming Lewat Buku Broken Strings
Ia memilih untuk menulis perlahan agar setiap cerita yang ditulis bisa mewakili perasaan pembaca yang mungkin bernasib sama.
"Ya aku nulis pelan-pelan, satu per satu, karena aku ingin setiap bagian ditulis dengan jujur dan hati-hati, bukan sekadar cepat selesai," ungkap Aurelie.
Kejujuran menjadi fondasi utama Broken Strings milik Aurelie Moeremans. Bahkan ia menuturkan bahwa sejak awal, tulisan itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk konsumsi publik.
Aurelie menjadikan menulis sebagai medium meluapkan traumanya, karena menurut Aurelie menulis adalah caranya berbicara dengan dirinya sendiri, sebuah proses yang lahir dari pengalaman pahit di masa kecil.
“Awalnya bukan untuk konsumsi publik. Aku menulis sebagai bentuk kejujuran ke diri sendiri,” katanya.
Trauma Bersuara, Buku Jadi Cara Berdamai dengan Masa Lalu
Bukan tanpa sebab, ia memilih memuntahkan semuanya dalam bentu tulisan karena mengingat bagaimana usahanya bersuara di masa lalu justru berujung pada luka baru.
“Dulu, waktu aku masih kecil dan mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan. Jadi ada trauma untuk bercerita," terang Aurelie.
Namun itu hanya niatan awal, karena waktu dan refleksi mengubah sudut pandangnya. Aurelie mulai melihat bahwa pengalaman yang ia anggap personal ternyata juga dialami banyak orang lain.
Kesadaran itu menjadi titik balik Broken Strings untuk akhirnya dibagikan dalam format ebook yang bisa diakses oleh siapapun lewat tautan yang disematkan di media sosialnya.
“Seiring waktu, aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka,” tuturnya.
Bagi Aurelie, menulis Broken Strings juga menjadi proses penting untuk berdamai dengan masa lalu. Ia menekankan bahwa buku ini tidak ditulis dengan semangat melawan atau membalas.
“Iya, sangat (membantu berdamai)” kata Aurelie.
"Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku.”
Proses tersebut membawanya pada satu kesimpulan personal yang kuat, yakni dirinya bisa berdamai dengan masa lalu tanpa harus memperbaiki atau membenarkan apa yang salah di waktu itu.
“Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah," ucap Aurelie Moeremans.
Tak Ingin Komersial
Keputusan untuk merilis Broken Strings dalam format e-book gratis pun bukan strategi pemasaran, melainkan perpanjangan dari niat awalnya. Aurelie menegaskan bahwa orientasi komersial bukanlah tujuan utama buku ini.
“Karena dari awal tujuanku bukan komersial,” ujarnya.
"Aku ingin ceritanya bisa diakses oleh siapa pun yang membutuhkan, tanpa hambatan," jelas Aurelie.
Ia menyadari ada banyak orang yang benar-benar membutuhkan bacaan ini, bukan sekadar penasaran. Bukan hanya dugaan saja, hal itu nyatanya sudah dirasakan Aurelie sejak bukunya viral.
“Aku tahu banyak yang penasaran tapi juga banyak yang benar-benar butuh bacaan ini untuk merasa tidak sendirian," katanya.
"Buku fisik tetap aku siapkan, tapi e-book gratis itu adalah bentuk niat awal buku ini," sambung Aurelie.
Menulis Buu Jadi Refleksi selama Kehamilan
Selama masa kehamilan buah cintanya dengan Tyler Bigenho, Aurelie mengaku berada dalam fase refleksi yang sangat intens, yang membuatnya banyak menulis. Namun ia menegaskan bahwa Broken Strings tidak dirancang sebagai awal dari seri buku, karena buku ini hanya berdiri sendiri.
“Selama hamil memang aku banyak menulis, karena aku lagi di fase refleksi yang dalam,” ungkapnya.
“Untuk Broken Strings, berdiri sendiri," tegasnya.
Jika suatu hari ia kembali merilis karya tulis, temanya mungkin masih beririsan membahas soal perempuan dan rasa trauma yang masih dekat dengannya.
Aurelie tak lagi menuliskan kisah masa kelamnya di masa lalu lewat sebuah tulisan seperti yang dicurahkannya dalam Broken Strings.
“Kalau nanti ada buku lain, mungkin temanya masih tentang perempuan, proses pulih, dan berdamai dengan diri sendiri, tapi bukan kelanjutan langsung dari cerita ini," terangnya.
Tak Menyangka Respon Publik
Respons publik yang besar menjadi sesuatu yang berada di luar dugaan Aurelie. Ia mengaku tidak pernah membayangkan Broken Strings akan memicu diskusi luas di Indonesia bahkan menuai beragam tanggapan.
“Jujur aku tidak menyangka,” katanya.
"Awalnya aku pikir buku ini akan dibaca secara terbatas. Tapi ternyata responsnya besar sekali. Ada dukungan, ada juga polemik, dan itu aku terima sebagai bagian dari proses," jelas Aurelie Moeremans.
Di antara semua reaksi itu, ada satu hal yang paling menyentuh hati Aurelie. Bukan polemik dari segelintir orang yang merasa tersinggung, atau dukungan rekan-rekan artis yang terasa tulus untuk Aurelie.
Tersentuh saat Bukunya Diakui Mewakili
Hal yang mengharukan baginya adalah ketika banyak perempuan muda dan orang tua yang merasa suara mereka terwakili oleh tulisannya.
“Yang paling menyentuh buat aku adalah ketika perempuan muda dan orang tua bilang mereka merasa terbantu,” ujarnya.
“Itu bikin semua ketakutan di awal terasa sepadan,” ucap Aurelie.
Lewat Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak hanya menuliskan kisah hidupnya sendiri.
Ia membuka ruang dialog, refleksi, dan pemulihan sebuah keberanian untuk jujur yang akhirnya menemukan gema jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Broken-Strings-aurelie.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.