Kamis, 14 Mei 2026

Bukan Sekadar Memoar, 'Broken Strings' Cara Aurelie Moeremans Memutus Rantai Trauma

Bagi Aurelie, atensi publik ini bukan soal popularitas, melainkan misi untuk menyuarakan isu yang selama ini tersembunyi: child grooming.

Tayang:
Editor: Willem Jonata
Instagram @aurelie
Kondisi Aurelie Moeremans pasca gegar otak 

Ringkasan Berita:
  • Memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings viral di media sosial. Buku itu menjadi perhatian masyarakat dunia maya
  • Bagi Aurelie, Broken Strings adalah upayanya memberikan "kompas" bagi anak muda dan orang tua.
  • Aurelie merasa terharu karena pesannya sampai ke hati pembaca

 


TRIBUNNEWS.COM – Aktris Aurelie Moeremans belakangan ini menjadi perbincangan hangat, menyusul viralnya memoar terbarunya yang bertajuk Broken Strings. 

Bagi Aurelie, atensi publik ini bukan soal popularitas, melainkan misi untuk menyuarakan isu yang selama ini tersembunyi: child grooming.

Dalam buku tersebut, wanita kelahiran Brussel, Belgia ini secara terbuka mengisahkan pengalaman pahitnya menjadi korban child grooming saat masih remaja.

Baca juga: Viral Kisah Aurelie Moeremans Alami Child Grooming, Kak Seto Puji Keberanian sang Artis Speak Up

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis terhadap anak. Pelakunya membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional terhadap korban. Umumnya berujung pelecehan seksual.

Melalui unggahan di Instagram Story-nya pada Minggu (18/1/2026), istri dari Tyler Bigenho ini menegaskan bahwa keberaniannya menulis buku ini didasari oleh keinginan untuk mengedukasi masyarakat.

"Ini bukan tentang aku, ini tentang kesadaran (awareness)," tulis Aurelie.

Bagi Aurelie, Broken Strings adalah upayanya memberikan "kompas" bagi anak muda dan orang tua.

Ia ingin para remaja mampu mengenali ciri-ciri manipulasi sejak dini agar tidak terjebak dalam situasi yang merusak masa depan mereka.

"Supaya anak muda tahu ciri-ciri child grooming dan bisa mengenalinya sejak awal. Supaya mereka bisa menghindar sebelum terlambat," ungkap wanita berusia 32 tahun tersebut.

Ia menyadari bahwa kasus yang dialaminya hanyalah puncak gunung es dari fenomena yang sering kali diabaikan oleh lingkungan sekitar.

Seringkali, korban justru tidak dipercaya atau bahkan disalahpahami oleh masyarakat.

"Kisahku hanya satu dari jutaan kasus serupa yang sering tidak terlihat, tidak dipercaya, dan disalahpahami," tulisnya lagi.

Ketulusan Aurelie dalam berbagi luka masa lalu membuahkan simpati luas dari warganet. Banyak kutipan dari bukunya yang diunggah ulang sebagai bentuk dukungan sekaligus peringatan bagi publik.

Merespons apresiasi tersebut, Aurelie merasa terharu karena pesannya sampai ke hati pembaca.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved