Senin, 20 April 2026

Marcello Tahitoe Respons 'Broken Strings' Memoar Sang Mantan Aurelie Moeremans

Aurelie dalam memoarnya, secara terbuka mengisahkan pengalaman pahitnya menjadi korban child grooming saat masih remaja.

Wartakota/Arie Puji Waluyo
Marcello Tahitoe ketika ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (27/12/2024). 

Ringkasan Berita:
  • Marcello Tahitoe dan Aurelie Moeremans pernah pacaran 
  • Buku karya Aurelie jadi buah bibir karena berisikan memoar tentang pengalamannya sebagai korban child grooming
  • Ello memenuhi permintaan awak media untuk menyampaikan respons soal buku tersebut

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyanyi Marcello Tahitoe alias Ello merespons buku "Broken Strings" karya mantan kekasihnya, Aurelie Moeremans.

Buku karya Aurelie jadi buah bibir karena berisikan memoar tentang pengalamannya sebagai korban child grooming.

Ello memenuhi permintaan awak media untuk menyampaikan respons soal buku tersebut.

"Oke, habis ini gua harus cabut ya. Tipis, tapi padat aja," ucap Ello di kawasan Senayan Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026).

Baca juga: KPAI: Child Grooming Bukan Relasi Suka Sama Suka, Korban Tak Sadar dalam Bahaya

Ello memuji karya dari Aurelie. Ia mengucapkan selamat atas kelahiran dari karya yang sudah dikerjakan bertahun-tahun.

"Menanggapinya? Oke, saya cuma mau bilang selamat atas rilis karya literasinya. Luar biasa diterima apresiasinya," ungkap Ello.

Sambil berjalan dan berusaha menghindari awak media, Ello menyudahi jawaban soal buku tersebut.

"Sekarang saya mau pulang, ketemu sama istri dan anak saya. Terima kasih," kata Ello.

Aurelie dalam memoarnya, secara terbuka mengisahkan pengalaman pahitnya menjadi korban child grooming saat masih remaja.

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis terhadap anak. Pelakunya membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional terhadap korban. Umumnya berujung pelecehan seksual.

Melalui unggahan di Instagram Story-nya pada Minggu (18/1/2026), istri dari Tyler Bigenho ini menegaskan bahwa keberaniannya menulis buku ini didasari oleh keinginan untuk mengedukasi masyarakat.

"Ini bukan tentang aku, ini tentang kesadaran (awareness)," tulis Aurelie.

Bagi Aurelie, Broken Strings adalah upayanya memberikan "kompas" bagi anak muda dan orang tua.

Ia ingin para remaja mampu mengenali ciri-ciri manipulasi sejak dini agar tidak terjebak dalam situasi yang merusak masa depan mereka.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved