Rabu, 8 April 2026

Tinggi 10 Meter, Balon Raksasa Karakter Film "Pelangi di Mars" Mejeng di SCBD

Area sekitar balon raksasa tersebut ramai oleh masyarakat yang berhenti sejenak untuk berfoto maupun sekadar melihat balon dari jarak dekat.

Ringkasan Berita:
  • Balon raksasa tersebut merupakan bagian dari promosi film Pelangi di Mars, dengan tujuan afar menjangkau lebih banyak penonton di hari penayangannya di bioskop
  • Film tersebut bergenre fiksi ilmiah (sci-fi), seperti halnya film Star Wars dan Avatar
  • Pelangi di Mars mengangkat kisah berlatar tahun 2100, saat krisis air mengancam keberlangsungan Bumi

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebuah balon raksasa berbentuk karakter utama film Pelangi di Mars dengan tinggi mencapai 10 meter tampak menghiasi kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan, Kamis (19/2/206).

Dua karakter yang ditampilkan adalah Batik dengan ukuran lebih besar serta Pelangi.

Balon tersebut dipasang tepat di depan Hotel Ritz Carlton dan berada di sisi kiri Gedung Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan pantauan pada Kamis (19/2/2026) menjelang waktu berbuka puasa, area tersebut ramai oleh masyarakat yang berhenti sejenak untuk berfoto maupun sekadar melihat balon dari jarak dekat.

Dalam kesempatan yang sama, digelar pula konferensi pers yang dihadiri para kreator, sejumlah pemain, serta Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar.

Produser film, Dendi Reynando, menjelaskan bahwa promosi ini dilakukan untuk menjangkau lebih banyak penonton menjelang penayangan saat Lebaran.

"Kami ingin Pelangi di Mars terasa dekat dengan masyarakat sejak awal," katanya di lokasi.

"Karena itu kami memilih hadir langsung di ruang publik, supaya orang bisa melihat dan merasakan semangat film ini sebelum tayang di bioskop," lanjutnya.

Dendi juga mengakui biaya produksi film tersebut tergolong besar.

Baca juga: Tayang Lebaran! Ini Trailer Film Pelangi di Mars, Genre Sci-Fi Pertama Berteknologi XR di Indonesia

Meski demikian, ia menilai pembangunan dunia cerita dan karakter Pelangi di Mars dilakukan secara terencana agar dapat berkembang melampaui satu judul saja.

"Kami ingin ini tidak berhenti di satu karya. Pelangi di Mars kami siapkan sebagai intellectual property (IP) lokal yang bisa tumbuh berkelanjutan dan, mudah-mudahan, mampu bersaing dengan IP internasional," ujar Dendi.

Langkah ini dinilai berani karena tim produksi mengangkat genre fiksi ilmiah (sci-fi), yang masih relatif jarang digarap di industri perfilman Indonesia.

Jika kalian suka film Star Wars dan Avatar, kurang lebih genrenya seperti itu.

Film ini juga menjadi perhatian karena memanfaatkan animasi 3D serta teknologi Extended Reality (XR).

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved