Rabu, 8 April 2026

Joko Anwar Optimistis Film Indonesia Bersaing di Tingkat Dunia, Ini Alasannya

Joko Anwar meyakini film Indonesia mampu bersaing di kancah internasional, mengingat juga festival film lokal bahkan semakin populer.

Tribunnews.com/Bayu Indra Permana
SOUNDTRACK FILM - Joko Anwar ditemui di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, Senin (23/2/2026). Joko menggunakan lagu "Cicak Cicak di Dinding" untuk soundtrack film barunya berjudul 'Ghost In The Cell'. 

Ringkasan Berita:
  • Pertumbuhan industri film Indonesia sangat pesar seiring antusiasme penonton di Tanah Air yang sangat luar biasa
  • Menurut Joko Anwar, hal tersebut tak lepas dari populasi masyarakat Indonesia maka industri film dari segi ekonomi sangat menjanjikan apabila karyanya bagus dan mendapat apresiasi
  • Kendati demikian, Joko mengingatkan peluang besar tersebut masih diiringi sejumlah tantangan. Salah satunya keterbatasan infrastruktur, terutama pada tahap produksi hingga pascaproduksi film

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perfilman Indonesia semakin pesat pertumbuhannya menurut sutradara sekaligus produser ternama Tanah Air, Joko Anwar.

Sebagai sineas, ia merasakan dampak ekonomi yang bagus meski hanya dari penjualan tiket saja.

Menurutnya antuasias penonton di Indonesia saat ini sangat luar biasa.

"Tahun lalu kita berhasil menjual 84 juta tiket hanya untuk film Indonesia hampir 3,7 triliun hanya untuk tiket saja," kata Joko Anwar di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Enam Film Indonesia Tayang saat Lebaran 2026, Joko Anwar Sebut Tanda Industri Sehat

Menurutnya, hal tersebut tak lepas dari populasi masyarakat Indonesia maka industri film dari segi ekonomi sangat menjanjikan apabila karyanya bagus dan mendapat apresiasi.

Contoh saja seperti film Jumbo dan Agak Laen bahkan secara jumlah penonton berhasil mengungguli film-film Hollywood lainnya.

Ditambah adanya layanan streaming global turut memperluas jangkauan distribusi karya sineas Indonesia.

"Misalnya Netflix juga aktif mencari konten lokal. Mereka adalah partner kita yang bisa kita jadikan potensi, salah satunya karena film yang ditayangkan di streaming dapat diakses luas," ujarnya.

Meski begitu, sutradara film Pengabdi Setan ini mengingatkan peluang besar tersebut masih diiringi sejumlah tantangan. 

Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur, terutama pada tahap produksi hingga pascaproduksi film.

Di sisi lain, akses menuju pasar internasional juga masih menjadi kendala.

"Memiliki film bagus aja gak cukup untuk bisa mengakses pasar global," ungkapnya.

"Kita butuh jaringan, butuh sinergitas antara semua stakeholder, terutama filmmaker dan pemerintah sebagai pembuat keputusan," lanjut Joko Anwar.

Lebih lanjut, Joko Anwar berharap hal pendanaan yang transparan dan pemerataan akses bagi para pelaku industri, bisa menjadi kolaborasi antara pemerintah dan insan perfilman.

Ia meyakini film Indonesia mampu bersaing di kancah internasional, mengingat juga festival film lokal bahkan semakin populer.

Kendati demikian, ada catatan penting yang menjadi titik lemahnya perfilman Indonesia yaitu di naskah skenario.

(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved