Selasa, 28 April 2026

Shalom Razade Perankan Sosok Hantu Tanpa Kepala Urban Legend Belitung

Tak hanya tantangan akting, Shalom juga harus menghadapi kesulitan menggunakan logat Belitung dan bahasa Belanda agar terasa autentik.

Tayang:
Tribunnews.com/Bayu Indra Permana
SHALOM JADI HANTU - Shalom Razade di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Ia menceritakan perannya sebagai sosok hantu film 'The Bell'. 
Ringkasan Berita:
  • Di film terbarunya berjudul The Bell, Shalom harus menghidupkan karakter hantu folklor atau urban legend dari Belitung bernama Penebok, hantu tanpa kepala
  • Shalom memerankan Isabella, perempuan keturunan Belanda-Belitung yang hidup di era 1930–1940-an
  • Ketertarikan Shalom terhadap karakter ini juga dipicu oleh fakta bahwa legenda Penebok masih jarang dikenal luas

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktris Shalom Razade bintangi film The Bell. Baginya, tantangan yang dihadapi terasa berbeda dibanding film-film sebelumnya yang dia bintangi.

Bukan sekadar memerankan sosok mistis, Shalom harus menghidupkan karakter hantu folklor atau urban legend dari Belitung bernama Penebok, hantu tanpa kepala.

Dalam film tersebut, Shalom memerankan Isabella, perempuan keturunan Belanda-Belitung yang hidup di era 1930–1940-an. 

Karakter ini tak hanya hadir sebagai manusia di masa lalu, tetapi juga memiliki transformasi menjadi sosok hantu Penebok yang menyimpan cerita tragis.

Baca juga: Wulan Guritno Aktif Lagi Jadi Produser, Putrinya Shaloom Perankan Film Malam 3 Yasinan

“Menarik sih karena lagi-lagi aku jadi setan, hahaha," ujar Shalom Razade di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).

"Tapi kali ini tanpa kepala,” terus Shalom.

Menurut Shalom, peran ini terasa unik karena Penebok bukan sekadar hantu untuk menakut-nakuti. 

Ia justru memiliki latar emosional yang kuat, karena sosok tersebut digambarkan sebagai arwah yang mencari kekasihnya di masa lalu, sehingga menghadirkan sisi drama dan romansa di balik teror.

“Kenapa Penebok mengumpulkan kepala-kepala ini kan ada tujuannya sebenarnya," ungkap Shalom.

"Bukan hantu untuk nakut-nakutin, tapi ternyata dia ingin bertemu kekasihnya,” jelasnya.

Ketertarikan Shalom terhadap karakter ini juga dipicu oleh fakta bahwa legenda Penebok masih jarang dikenal luas. 

Ia mengaku sempat mencari tahu asal-usul cerita tersebut dan menemukan bahwa kisahnya berkaitan dengan urban legend di Belitung.

“Aku belum pernah dengar si Penebok ini. Ternyata dari urban legend Belitung, dan ada cerita soal penemuan tubuh tanpa kepala di sana," jelasnya.

"Itu yang bikin aku makin tertarik,” ungkap Shalom.

Meski kembali memerankan hantu, Shalom menegaskan dirinya tidak merasa bosan dengan perannya itu.

Baginya, Isabella adalah karakter yang berbeda dibanding peran-peran sebelumnya. Ia melihat sosok ini sebagai perempuan kuat dengan sisi lembut yang tersembunyi.

“Dia kelihatan keras dan kuat, tapi sebenarnya punya sisi lembut juga. Itu yang bikin aku jatuh cinta sama karakternya,” katanya.

Tak hanya tantangan akting, Shalom juga harus menghadapi kesulitan dari segi bahasa. 

Karakter Isabella mengharuskannya menggunakan logat Belitung dan bahasa Belanda agar terasa autentik di layar.

“Ya yang sulit itu bahasanya, gimana caranya penonton percaya. Kalau Belitung lebih ke logat, kalau Belanda aku banyak latihan lewat voice note sama teman,” jelasnya.

Film The Bell: Panggilan untuk Mati yang disutradarai Jay Sukmo ini mengangkat kisah horor dari mitos lokal Belitung tentang sosok Penebok. 

Rencananya film yang juga dibintangi oleh Mathias Muchus, Givina, Shaloom Razade, dan Bhisma Mulia akan tayang pada 7 Mei 2026.

 

(Tribunnews.com/ Bayu Indra Permana)

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved