Rabu, 6 Mei 2026

Kabar Artis

Ahli Sosial Digital Nilai Aksi Ahmad Dhani Justru Picu Putrinya Jadi Sasaran Bully

Sorotan muncul usai aksi Ahmad Dhani yang melindungi putrinya di unggahan medsos, ahli media sosial ingatkan dampak serius jejak digital.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Aksi Ahmad Dhani yang membela putrinya lewat unggahan justru memicu hujatan ke Shafeea di media sosial.
  • Pengamat menilai anak-anak kini lebih sensitif terhadap jejak digital dan privasi.
  • Dampak perundungan online disebut nyata dan bisa berpengaruh panjang pada kondisi mental anak.

TRIBUNNEWS.COM - Aksi Ahmad Dhani yang menyindir mantan istrinya, Maia Estianty, dengan dalih melindungi putrinya, Shafeea, justru menuai sorotan. 

Langkah tersebut dinilai membawa dampak lain yang tak kalah serius, yakni membuka ruang perundungan di ruang digital.

Musisi yang juga dikenal sebagai pentolan Dewa 19 itu kembali menjadi perbincangan setelah pernyataannya viral di media sosial.

Ia sempat menyinggung adanya sosok wanita yang disebut membuat putrinya menangis.

Momen itu terjadi setelah prosesi siraman El Rumi dalam rangkaian pernikahannya dengan Syifa Hadju.

Meski tidak menyebutkan nama secara gamblang, publik menduga sosok yang dimaksud adalah Maia Estianty.

Dugaan itu menguat lantaran Ahmad Dhani turut menyinggung konflik rumah tangga yang menyerupai masa lalunya.

Melalui akun Instagram pribadinya, Ahmad Dhani juga membagikan video saat acara siraman.

Dalam rekaman tersebut, terlihat Shafeea menangis sambil dipeluk sang ayah. Ahmad Dhani tampak berusaha menenangkan putrinya yang larut dalam emosi.

Namun, alih-alih meredakan situasi, unggahan tersebut justru memicu reaksi luas.

Akun Instagram Shafeea dilaporkan dibanjiri komentar negatif dari warganet.

Baca juga: Ahmad Dhani Siapkan Strategi di Pernikahan Dul Jaelani agar Tak Ketemu Maia Estianty Lagi

Kondisi ini kemudian menjadi perhatian pengamat media sosial atau ahli sosial digital, Tuhu Nugraha Dewanto.

Tuhu menilai bahwa dalam situasi seperti ini, ada hal mendasar yang kerap luput dari perhatian orang tua.

"Saya pikir begini. Nah, itu yang kadang-kadang kita suka lupa ya. Kita lupa bahwa tadi, terutama anak-anak sekarang, mereka itu kan lebih sensitif ya," ujar Tuhu, dikutip Tribunnews dalam YouTube Cumicumi, Rabu (6/5/2026). 

Pakar ekonomi digital sekaligus konsultan bisnis ini menjelaskan bahwa jejak digital menjadi faktor utama yang membuat anak-anak lebih rentan.

"Kenapa? Karena orang tua suka lupa gitu, jejak digital itu tidak pernah bisa hilang. Dia selalu ada di sana dan itu bisa dibuka terus-menerus gitu ya." 

Menurutnya, dampak dari jejak digital bisa muncul jauh di masa depan.

"Makanya anak-anak yang sekarang itu lebih sensitif terhadap data-data itu kan. Kenapa? Karena tadi satu saat nanti bisa jadi 10 tahun lagi data itu dibuka," jelasnya. 

Tuhu juga menyoroti potensi penyalahgunaan informasi di kemudian hari.

"Ketika dia lagi melakukan sesuatu, data itu diumbar lagi atau dijadikan senjata gitu. Itu sebabnya, makanya bagi anak-anak ini yang menurut saya, maksudnya perjalanannya masih panjang, mereka sangat sensitif terhadap hal ini gitu." 

Ia menilai konflik orang tua yang menyeret anak ke ruang publik patut disayangkan.

"Sangat disayangkan tadi ya ketika konflik itu menyinggung ke mereka dan kadang-kadang mungkin kita juga tidak sempat bertanya untuk kemudian apakah mereka bahkan nyaman dengan ini atau tidak. Bahkan sekarang kan kalau kita lihat, generasi Gen Z, generasi Alpha itu kan lebih sensitif ya," terangnya.

Lebih jauh, ia menyinggung soal kesadaran privasi di kalangan generasi muda.

"Jangankan membicarakan hal yang semacam ini, sering kali bahkan difoto saja mereka tidak mau gitu, harus pakai konsennya mereka. "

"Artinya apa? Mereka adalah generasi yang sangat sensitif terhadap privasi dan data mereka. Dan itu saya dengarkan di banyak pihak ya," paparnya.

Tuhu menekankan bahwa perbedaan sudut pandang antara orang tua dan anak kerap memicu masalah.

"Yang bagi orang tuanya biasa saja, bagi anaknya itu sensitif. Kenapa? Karena dia yang mengalami, dia di-bully sama teman-temannya gitu," beber Tuhu. 

Ia juga mengingatkan bahwa dalam konflik publik, pihak yang terdampak tidak hanya yang terlibat langsung.

"Karena kalau menurut saya ya, dengan situasi yang pernah beberapa kali terjadi itu sangat mungkin gitu. Kenapa? Karena sering kali yang diserang kan bukan hanya yang berkonflik, tapi juga orang-orang di sekitarnya ya," ujarnya.

Menurutnya, empati publik juga sering kali terabaikan dalam situasi seperti ini.

"Dan ini kan kasihan ya, kadang-kadang kita mungkin netizen juga merasa ini perlu juga dihukum, padahal dia juga lupa bahwa ini juga manusia gitu kan, dan yang salah kan bukan dia gitu," ucapnya. 

Tuhu juga menyoroti cara publik ‘menghukum’ melalui media sosial yang dianggap tidak kalah berdampak.

"Nah, kadang-kadang juga, ini juga permasalahannya, kita merasa ketika kita menghukum itu, quote-unquote, via media sosial, kita kadang-kadang tidak menyadari bahwa dampaknya itu sama seperti kita menghukum langsung ketika ketemu, misalnya ditampar atau kemudian dipukul atau kemudian dihujat secara langsung, " kata Tuhu. 

Anggota Indonesia Blockchain Society ini juga menegaskan bahwa dampak perundungan digital bisa sangat serius terhadap kondisi mental.

"Karena ketika ada medium sebagai perantara, orang merasa bahwa dampaknya tidak segitunya. Padahal menurut saya dampaknya, saya pernah melihat dan mendengar cerita beberapa kasus yang kemudian di-bully di media sosial itu depresi dan mental health-nya itu nyata gitu. Bahkan mungkin lebih parah," jelasnya.

Menurutnya, tekanan di media sosial berlangsung tanpa henti.

"Kenapa? Karena diserangnya kan 24 jam dari berbagai macam arah gitu ya, oleh banyak orang yang mungkin bahkan dia tidak kenal gitu, dan dia juga tidak tahu apa yang terjadi dan lain-lain," tambahnya.

Sebagai penutup, Tuhu mengingatkan pentingnya kesadaran figur publik terhadap dampak jangka panjang.

"Nah, ini sebenarnya public figure seharusnya menyadari bahwa ada dampak yang jangka panjang yang harus dipikirkan dari hal-hal semacam ini gitu ya. Kerugiannya kan luar biasa gitu," pungkasnya. 

Baca juga: Muak Ketemu Maia Estianty Jadi Alasan Ahmad Dhani & Keluarga Besarnya Absen Resepsi El Rumi di Bali

Unggahan Ahmad Dhani 

Dalam unggahannya, Kamis (30/4/2026) itu, Dhani nampak membagikan video yang menangkap momen saat dirinya tengah berusaha menenangkan putrinya, Shafeea yang menangis di prosesi siraman El Rumi.

Sembari memeluk putri sulung dari pernikahannya dengan Mulan Jameela itu, Ahmad Dhani nampak membisikkan sejumlah kalimat kepada Shafeea.

Lewat narasi di caption-nya, suami Mulan Jameela itu menguraikan kalimat apa yang ia bisikkan pada adik Al, El, dan Dul itu.

"Ketika Shafeea menangis gara gara drama sinetron di sebuah acara Siraman, Aku langsung peluk Putri ku tersayang dan membisikkan sebuah Fakta yg harus ke ungkap," tulis Dhani memulai kalimatnya.

Ia lantas menyindir sosok wanita yang berakting di momen itu.

Yang tadi km lihat adalah akting yg sangat buruk dari wanita yg mentalnya perlu diperiksa

Wanita itu diTalak 3 oleh suaminya karena perselingkuhannya dgn pemilik tv swasta dan perbuatannya itu sudah diakui secara tertulis dan ditandatangani.

Tp demi citra nya , dia dibantu pemilik tv swasta itu bikin konten konten di infotainment yg isinya :

1. Suaminya yg selingkuh dgn orang ke 3

2. Tidak bisa bertemu anak anak nya

3. Bikin Drama KDRT , hingga bikin LAPORAN PALSU KDRT.

4. Masuk Rumah harus Lompat pagar

Dhani melanjutkan tulisannya.

Dia menggambarkan pengkhianatan sosok wanita tersebut.

"BEBERAPA NARASI ITU TERUS DI ANGKAT OLEH INFOTAINTMENT ( terutama PH INDIGO )yang bekerja untuk selingkuhannya pemilik TV SWASTA.

Sudah 20 TAHUN BERLANGSUNG, BEBERAPA NARASI itu HANYA DIPERCAYA oleh PARA PENGGEMAR SINETRON DAN DRAMA KOREA.

Tetapi TIDAK DIPERCAYA oleh MAHKAMAH AGUNG.

Terbukti MA HANYA MENGABULKAN PERMOHONAN CERAI SAJA. Bahkan HAK ASUH ANAK pun tidak dikabulkan apalagi Gugatan yg lain.

Terbukti , HAKIM MAHKAMAH AGUNG bukan penggemar SINETRON dan DRAMA KOREA.

Mau tau siapa pemilik TV SWASTA Tersebut ? Cek di mana Wanita Drakor ini diblacklist oleh TV SWASTA tersebut hingga saat ini!.

ISTRI PEMILIK TV SWASTA itupun tau siapa PELAKOR SEJATI NYA.

Yg membingungkan , sudah 20 TAHUN , DRAMA SINETRON itu masih saja dilakukan di SIRAMAN yg harusnya menjadi ajang Silaturahmi, tetapi dimanfaatkan untuk mengais perhatian penggemar sinetron dan drama Korea. Menyedihkan," tandasnya.

Baca juga: Tanggapan Ahmad Dhani soal Sikap Maia Estianty ke Mulan Jameela di Resepsi El Rumi

Di akhir kalimatnya, Dhani membandingkan wanita itu dengan memuji sang istri.

"Kubisikkan lagi kepada putriku tersayang , “ BERSYUKURLAH KM PUNYA BUNDA YANG :

1. Menomorsatukan keluarga.

2. Tidak membabi buta mencari materi dan menomor dua kan anak.

3. Tidak pernah pergi meninggalkan Rumah meskipun ada masalah sebesar apapun," pungkasnya.

Diduga, tulisan Dhani itu ditujukan untuk Maia Estianty yang sempat membahas masa lalunya di siraman El Rumi.

Ucapan Maia Estianty di Prosesi Siraman El Rumi

Sebelumnya, suasana haru mewarnai prosesi siraman jelang pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju. 

Maia Estianty membacakan pesan khusus untuk putra keduanya sambil menahan tangis. 

Dalam video singkat yang beredar di media sosial melalui akun @elsyifa.story, Maia Estianty terlihat memegang mikrofon sambil menyampaikan isi hatinya kepada El Rumi. 

Ia mengenang masa-masa sulit ketika harus berpisah dengan anak-anaknya setelah perceraian di masa lalu. 

Dengan suara bergetar, Maia Estianty mengingat saat El Rumi masih berusia delapan tahun. 

"Tapi kemudian di usiamu yang baru 8 tahun, kita pernah harus berpisah. Berpisah untuk sementara waktu itu sayangku," ucap Maia, dikutip Sabtu (25/4/2026). 

Ia mengaku sejak saat itu harus belajar menjadi sosok ibu yang tak bisa selalu hadir dan memeluk sang anak setiap hari. 

"Dari hari itu Bunda belajar menjadi ibu yang tidak bisa memeluk kamu setiap hari sampai sekarang," lanjutnya. 

Tak hanya menyampaikan pesan untuk El, Maia juga menitipkan putranya kepada Syifa Hadju yang kelak akan menjadi pendamping hidup El Rumi. 

Syifa Hadju sendiri diketahui tidak berada dalam proses siraman dan pengajian El Rumi. 

"Untuk Syifa yang sedang tidak ada di sini, Bunda titipkan El Rumi. Yang dulu mungkin Bunda tidak selalu bisa memeluknya setiap hari," ujar Maia. 

Maia pun meminta Syifa untuk memberikan kasih sayang lebih besar kepada El. 

"Untuk Syifa, untuk selalu memeluk El, sering-sering dan yang lama ya. Lebih lama dari yang pernah Bunda lakukan, karena Bunda tidak bisa melakukan itu sampai hari ini," katanya.

Baca juga: Unggahan Ahmad Dhani Kembali Viral, Psikolog Singgung Penilaian Publik Terhadap Mulan Jameela

(Tribunnews.com, Rinanda/Salma)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved