Selasa, 19 Mei 2026

Menggambar Jadi Bahasa Emosi Anak, Orang Tua Diminta Lebih Banyak Bertanya daripada Menghakimi

Sebagian orangtua khawatir melihat anak menggambar pedang, pistol, monster, atau coretan “menyeramkan” hingga beri label agresif pada mereka.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Siti Aminah terlihat sedang mendampingi ketiga anaknya Tania, Nindya dan Afandi belajar menggambar. Menggambar tidak hanya menyenangkan tapi juga punya banyak manfaat untuk anak, salah satunya dapat mengasah kemampuan seni serta meningkatkan sisi kreativitas anak. Kemampuan ini akan terus berkembang secara bertahap hingga pada usia tiga tahun anak mulai mampu menggambar dari bentuk yang sederhana. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

Ringkasan Berita:
  • Anak sering menggunakan gambar sebagai bahasa emosi karena kemampuan verbal mereka belum berkembang sempurna
  • Bagi anak, menggambar menjadi media untuk menyampaikan rasa takut, sedih, marah, atau rasa ingin aman
  • Namun, kesalahan terbesar orang dewasa adalah terlalu cepat memberi makna pada gambar anak tanpa bertanya langsung kepada mereka

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang tua langsung khawatir saat melihat anak menggambar pedang, pistol, monster, atau coretan yang dianggap “menyeramkan”.

Tidak sedikit yang buru-buru menganggap anak agresif, nakal, bahkan memiliki masalah perilaku.

Padahal menurut praktisi terapi seni atau Registered Art Therapist, Calvin Pang, MA, AThR, gambar anak tidak bisa langsung diartikan secara sepihak oleh orang dewasa.

“Untuk benar-benar memahami apa yang ada dalam lukisan, kita selalu bertanya kepada anak-anak. Karena itu lukisan mereka,” ujarnya dalam program Momspiration yang tayang di kanal YouTube Tribun Health, Selasa (19/5/2026). 

Baca juga: Co-Parenting Ala Zack Lee & Nafa Urbach Agar Tetap Kompak Demi Anak

Menurut Calvin, kesalahan terbesar orang dewasa adalah terlalu cepat memberi makna pada gambar anak tanpa bertanya langsung kepada mereka.

Calvin menjelaskan anak sering menggunakan gambar sebagai bahasa emosi karena kemampuan verbal mereka belum berkembang sempurna.

Karena itu, gambar menjadi media untuk menyampaikan rasa takut, sedih, marah, atau rasa ingin aman.

Ia mencontohkan saat seorang anak menggambar pedang atau pistol, terapis tidak langsung menyimpulkan anak memiliki kecenderungan kasar.

Sebaliknya, gambar itu dijadikan pintu masuk untuk berdialog.

“Siapa yang kamu lindungi? Siapa yang kamu serang?” kata Calvin mencontohkan pertanyaan yang biasa digunakan dalam terapi seni.

Menurutnya, jawaban anak sering kali menunjukkan hal yang jauh berbeda dari asumsi orang dewasa.

Anak Coret Dinding Belum Tentu Nakal

Calvin juga menyinggung kebiasaan anak mencoret tembok rumah yang sering membuat orangtua marah.

Menurutnya, tindakan itu bisa menjadi bentuk ekspresi emosi yang muncul secara spontan.

“Mungkin ketika mereka menulis di dinding, itu bisa jadi ekspresi emosi mereka,” ujarnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved