Kamis, 28 Mei 2026

Atasi Miom dan Adenomiosis Tanpa Operasi, Metode HIFU Jadi Harapan Baru Perempuan

Selama ini, penanganan miom dan adenomiosis identik dengan tindakan operasi besar, bahkan pengangkatan rahim atau histerektomi.

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com
ILUSTRASI MIOMA - Atasi miom dan adenomiosis tanpa perlu angkat rahim! Dengan teknologi HIFU, jaringan abnormal bisa dihancurkan tanpa sayatan medis. Alternatif terbaik bagi Anda yang ingin mempertahankan kesuburan dan fungsi reproduksi secara aman dan nyaman. 

Ringkasan Berita:
  • Metode High Intensity Focused Ultrasound (HIFU) hadir di Indonesia sebagai terapi nonoperasi untuk menangani miom dan adenomiosis tanpa sayatan 
  • Metode ini menggunakan gelombang ultrasound berkekuatan tinggi untuk menghancurkan jaringan abnormal dengan tingkat ablasi mencapai 80–90 persen
  • HIFU dinilai lebih aman bagi pasien yang ingin mempertahankan rahim dan merencanakan kehamilan
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –  Miom dan adenomiosis masih menjadi masalah kesehatan yang kerap menimbulkan kekhawatiran bagi banyak perempuan. Selain memicu nyeri haid hebat dan perdarahan berkepanjangan, kondisi ini juga dapat memengaruhi kesuburan hingga peluang kehamilan.

Selama ini, penanganan miom dan adenomiosis identik dengan tindakan operasi besar, bahkan pengangkatan rahim atau histerektomi. Kondisi tersebut sering membuat pasien merasa cemas, terutama perempuan yang masih memiliki rencana untuk hamil dan mempertahankan fungsi reproduksi.

Namun, perkembangan teknologi medis kini menghadirkan solusi modern tanpa operasi melalui metode High Intensity Focused Ultrasound (HIFU). Teknologi ini menjadi alternatif terapi noninvasif yang memanfaatkan gelombang ultrasound berkekuatan tinggi untuk menghancurkan jaringan abnormal di dalam tubuh tanpa sayatan maupun pembedahan terbuka.

Baca juga: Miom Tak Hilang Tapi Membesar Saat Hamil, Dokter Kandungan Ungkap Fakta yang Jarang Diketahui

Secara sederhana, HIFU bekerja seperti kaca pembesar yang memfokuskan sinar matahari pada satu titik hingga menghasilkan panas. Energi ultrasound diarahkan secara presisi ke jaringan target, kemudian menghasilkan suhu panas sekitar 60–90 derajat Celsius untuk menghancurkan sel abnormal seperti miom dan adenomiosis.

Setelah prosedur selesai, jaringan yang telah rusak akan diserap secara alami oleh tubuh dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan. Karena tidak memerlukan sayatan, metode ini dinilai mampu meminimalkan risiko perdarahan, mempercepat masa pemulihan, dan mengurangi rasa nyeri pascatindakan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Mandaya Royal Hospital Puri, dr. Edward Tony Ngantung menjelaskan, HIFU menjadi pilihan karena mampu mempertahankan organ rahim sehingga lebih aman bagi pasien yang masih merencanakan kehamilan.

“HIFU jadi pilihan karena prosesnya tanpa operasi, masa pemulihan lebih cepat, dan jauh lebih aman bagi pasien yang masih merencanakan kehamilan. Teknologi ini bekerja menghancurkan jaringan miom tanpa sayatan, sehingga organ rahim tetap dapat dipertahankan,” ujar dr. Edward, Senin (25/5/2026).

Dokter menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Sam Ratulangi ini menuturkan, selama prosedur berlangsung pasien hanya perlu berbaring tengkurap di atas mesin khusus dengan sedasi ringan. Tidak ada luka sayatan maupun rasa nyeri signifikan karena pasien umumnya hanya merasakan sensasi hangat di area yang diterapi.
Menurut dr. Edward, hasil evaluasi pascatindakan menunjukkan tingkat ablasi atau penghancuran jaringan mencapai 80–90 persen. Angka tersebut menunjukkan efektivitas HIFU dalam membantu mengecilkan miom tanpa merusak jaringan rahim yang sehat.

Tak hanya untuk miom dan adenomiosis, teknologi HIFU juga mulai dimanfaatkan dalam penanganan beberapa jenis kanker, seperti kanker hati dan kanker pankreas, terutama pada kasus yang sulit dioperasi karena lokasi tumor berada dekat organ vital atau pembuluh darah besar.

“Pada kondisi tertentu, HIFU dapat menjadi alternatif terapi karena mampu menargetkan jaringan tumor secara presisi tanpa harus melakukan operasi terbuka,” jelasnya.

dr. Edward juga menceritakan salah satu kasus pasien yang datang dengan keluhan perdarahan dan nyeri haid berkepanjangan. Setelah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG), ditemukan benjolan pada rahim berukuran sekitar 6×7 sentimeter.

“Beberapa bulan terakhir pasien mengeluh perdarahan dan nyeri haid. Setelah dilakukan USG, ditemukan adanya massa atau benjolan di uterus sebesar 6×7 cm,” katanya.

Menurutnya, HIFU dipilih sebagai terapi karena pasien masih ingin memiliki anak sehingga diperlukan tindakan yang minim risiko terhadap rahim.

“HIFU kami tawarkan karena teknologi ini tanpa sayatan, tanpa operasi, dan masa penyembuhannya lebih cepat. Mengingat pasien masih ingin punya anak lagi, maka dengan HIFU risiko ruptur atau robekan rahim lebih kecil dibandingkan tindakan miomektomi,” katanya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved