Serial Netflix
Cerita Dibalik Layar Serial Night Shift for Cuties, dari Shenina Cinnamon dan Nadya Syarifa
Cerita dibalik layar serial Night Shift for Cuties dibintangi Shenina Cinnamon dan Nadya Syarifa terinspirasi dari Penggemar K-Pop di kehidupan nyata.
Menurutnya, fenomena fandom sering kali dipandang sebelah mata, padahal banyak penggemar yang mendapatkan semangat hidup, motivasi, bahkan kepercayaan diri dari sosok idola yang mereka kagumi.
Mengangkat Perspektif Perempuan Lewat Purple Tea
Penulis naskah Aline Djayasukmana yang mengembangkan serial ini bersama Mica menjelaskan alasan memilih dunia girl group sebagai latar cerita.
“Buat saya dunia Kpop ini menarik sekali, fandom terlihat sebagai sesuatu yang sangat magnetis, dan girl group adalah sesuatu yang dekat dengan kami. Perempuan menghadapi banyak sekali tantangan, ditambah adanya berbagai tuntutan ketika seseorang menjadi idol. Kami mencoba mendobrak batasan dengan mengajukan gagasan bagaimana kalau pentolan (leader) sebuah grup adalah seseorang yang plus size, sesuatu yang tidak konvensional di industri.”
Melalui Purple Tea, serial ini berusaha menghadirkan perspektif yang lebih luas tentang standar kecantikan, penerimaan diri, dan tekanan yang sering dihadapi perempuan dalam industri hiburan.
Shenina Cinnamon Tertarik Karena Karakter Fangirl
Bagi Shenina Cinnamon, Night Shift for Cuties menghadirkan pengalaman baru dalam karier aktingnya.
Ia mengaku langsung tertarik ketika mengetahui karakter Muti merupakan seorang penggemar K-Pop garis keras.
“Saya belum pernah memerankan fangirl yang habis-habisan seperti di sini. Dan di balik itu ada Muti yang sangat membanting tulang karena ia termasuk dalam sandwich generation. Saya membayangkan seru deh untuk bisa menggambarkan karakter yang terjepit tapi tidak pantang menyerah, mau berkembang demi menggapai mimpinya untuk bertemu idolanya.”
Shenina menilai Muti adalah sosok yang menghadapi banyak tekanan hidup namun tetap berusaha mencari kebahagiaan dari hal-hal yang ia sukai.
“Muti yang berumur 20-an tahun bisa mengambil keputusan-keputusan yang tidak dipikirkan dengan panjang. Tapi saya selalu ingat bahwa karakter ini menjalani perjuangan yang tidak mudah, ia ditinggal ayahnya dan harus menghidupi ibu dan adiknya. Di sisi lain dia punya keinginan sendiri yang harus dia capai dan membuat dia bahagia. Bagi dia, Purple Tea membuat dia bersemangat hidup dan memberikan motivasi kala semua orang di sekitar dia tidak melakukan itu.”
Nadya Syarifa Merasa Sangat Dekat dengan Karakter Jenar
Nadya Syarifa yang juga dikenal sebagai penyanyi SailorMoney mengaku langsung merasa cocok dengan proyek ini sejak pertama membaca konsep serialnya.
“Saat menerima proposal serial ini dengan referensi grup XG dan New Jeans tertera di situ, saya langsung merasa sangat relate dengan karakter Jenar dan topik-topik yang dibahas. Saat bicara dengan Shenina pun saya merasa ini proyek yang tepat untuk saya.”
Menurut Nadya, banyak sisi kehidupan Jenar yang mirip dengan pengalaman pribadinya.
“Karakter Jenar berumur 20 tahun dan saya melihat ada banyak sisi diri saya di Jenar, misalnya dihakimi orang lain maupun keluarga, segala perjuangan yang ia lakukan, hingga ‘meminjam’ kepercayaan diri idolanya agar dia juga bisa percaya diri dan pada akhirnya membuat dia bisa menjalani hidup.”
Tantangan Membangun Grup Idola Fiktif
Di balik layar, tim produksi menghadapi tantangan tersendiri dalam menciptakan dunia Purple Tea agar terasa autentik bagi para penggemar K-Pop.
Produser Kevin Ryan Himawan menjelaskan bahwa proses pembuatan lagu dan koreografi menjadi salah satu pekerjaan terbesar selama produksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemain-dan-kreator-serial-Night-Shift-for-Cuties-dalam-konfrensi-pers-Netflix.jpg)