Selasa, 19 Mei 2026

Sikap Jonatan Christie di Lapangan, Jatuhkan Antonsen Malah Minta Maaf: 'Begitulah Kepribadian Dia'

Dalam sebuah kompetisi olahraga, intimidasi diperlukan utamanya untuk membuat mental lawan down. 

Tayang:
Editor: Toni Bramantoro
AFP/CLAUS FISKER
Jonatan Christie dari Indonesia merayakan kemenangannya setelah memenangkan pertandingan tunggal putra dalam pertandingan final beregu putra Piala Thomas antara China dan Indonesia, di Aarhus, Denmark, pada 17 Oktober 2021. (Photo by Claus Fisker / Ritzau Scanpix / AFP) / Denmark OUT 

Laporan wartawan tribunnews.com, Lusius Genik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam sebuah kompetisi olahraga, intimidasi diperlukan utamanya untuk membuat mental lawan down. 

Ada beragam bentuk intimidasi yang bisa diberikan kepada lawan. 

Misal di bulutangkis, memberikan tatapan tajam tiap mencetak poin dan tidak memberi kesempatan mengganti shuttle cock merupakan upaya mengintimidasi lawan. 

Namun, hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie

Terbukti saat memainkan partai semifinal Piala Thomas di Aarhus, Denmark, Sabtu (17/10), melawan wakil tuan rumah Anders Antonsen

Pada pertandingan yang berlangsung selama 100 menit itu, Jonatan justru selalu meminta maaf setiap kali bola-bola tipuannya membuat Antonsen jatuh bangun. 

Padahal, sikap yang ditunjukkan Antonsen sangat bertolakbelakang dengan yang dilakukan Jonatan.

"Sebenarnya dia bertolak belakang sama saya. Kalau saya ajarin dia, 'Kamu pasang muka garang ke lawan.' Tapi anaknya memang begitu," kata Andreas Adi Siswa, ayah Jonatan. 

Andreas Adi Siswa, ayah Pebulutangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie
Andreas Adi Siswa, ayah Pebulutangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie (tribunnews.com/genik)

Saat berbincang dengan Tribunnews.com di kediamannya, Jakarta, Senin (18/10/2021) kemarin, Andreas mengungkapkan bahwa kepribadian Jonatan berbeda dibanding atlet-atlet pada umumnya. 

"Saya bilang ke dia, 'Jo kamu harus seperti Liem Swie King, atlet nasional yang prestasi internasional.' Karena dia benar-benar proteksi hal-hal privasi dia." 

"Seperti raket tidak boleh dipegang sama orang lain segala macam, seorang juara seperti itu," tutur Andreas.

Andreas juga membahas perbedaan sikap Antonsen dengan Jonatan. 

Di mana Antonsen, sebagai tuan rumah, beberapa kali tidak memberikan Jonatan kesempatan mengganti shuttle cock. 

Bahkan tiap mencetak poin, Antonsen memberi tatapan tajam pada Jonatan, sebagai upaya mengintimidasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved