Olimpiade
Milano Cortina 2026: Menyelamatkan Napas Olimpiade dengan Model Multi-Tuan Rumah
Siasat Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan, Italia, memakai model multi-tuan rumah untuk menyelamatkan eksistensi event.
Ringkasan Berita:
- Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan, Italia, bawa konsep anyar yang berefek ke efisiensi
- Cara baru yang dibawa Milano Cortina 2026 sebagai upaya menyelamatkan api Olimpiade ke depannya
- Mengorbankan detail kecil tak apa bagi tuan rumah edisi 2026 agar gelaran empat tahunan terus menyala
TRIBUNNEWS.COM - Perhelatan Olimpiade Musim Dingin 2026 dengan tajuk Milano Cortina 2026 di Italia, memberikan warna yang berbeda ketika ditunjuk sebagai tuan rumah gelaran elite tersebut.
Menarik ke belakang terkait gelaran Olimpiade Musim Dingin, tuan rumah akan menyulat tempat yang megah dan berfokus pada satu kota dengan bangunan baru untuk memberikan fasilitas lengkap.
Demi menjamin terselenggaranya gelaran empat tahun sekali itu, tuan rumah biasanya akan menghabiskan puluhan miliar dolar hanya untuk pesta dua minggu.
Namun, cara lama itu perlahan mulai 'membunuh' ajang ini. Sebab, banyak negara mulai ketakutan melihat bayang-bayang utang dan stadion yang akhirnya terbengkalai atau yang bisa disebut "gajah putih".
Italia yang ditunjuk sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2026 melakukan eksperimen bersejarah dengan tak lagi menawarkan kemewahan gedung baru, namun menggunakan model Multi-Tuan Rumah.
Model Multi-Tuan Rumah ala Milan, Italia
Milan sebagai tuan rumah memecah tradisi pada edisi Olimpiade Musim Dingin 2026 ini sebagaimana merangkum Olympics.
Biasanya, gelaran Olimpiade akan berpusat di satu kota. Tapi Milano Cortina 2026 justru menempatkan lokasinya hingga tersebar di wilayah seluas 22 ribu kilometer persegi di Italia Utara.
Baca juga: Google Doodle Curling Muncul Jelang Olimpiade Musim Dingin 2026, Apa Itu Curling?
Sebagai gambaran, Opening Ceremony digelar di Stadion San Siro, Milan, sementara pertandingan ski dilakukan ratusan kilometer jauhnya di pegunungan Dolomites, Cortina d’Ampezzo.
Jarak antara klaster ini bisa memakan waktu hingga 5 jam perjalanan darat. Adapun alasan Italia melakukan hal yang merepotkan ini hanya untuk agenda keberlanjutan setelah Olimpiade ini selesai.
Mengakhiri Era "Gajah Putih"
Menyambung dari alasan konsep multi-tuan rumah, dalam sejarahnya edisi seperti Sochi 2014 menelan biaya fantastis sebesar $51 Miliar (sekitar Rp800 Triliun).
Penyebab pengeluaran sebesar itu karena tuan rumah harus membangun segalanya dari nol dalam satu kota. Hal itu berdampak banyak fasilitas yang kini terbengkalai karena biaya perawatan yang tak masuk akal.
Italia belajar dari kesalahan itu. Maka, dengan model multi-tuan rumah, mereka menerapkan strategi "New Norm".
Dari International Olympic Committee (IOC) menjelaskan bahwa 92 persen venue di Milano Cortina 2026 adalah fasilitas lama.
Seperti contoh, Italia menggunakan stadion hoki yang sudah ada di Milan dan lintasan ski legendaris di Cortina yang sudah dipakai sejak 1956.
Hasilnya dari penggunaan itu mampu menekan estimasi biaya operasional Milano Cortina 2026 hanya berkisar $1,9 Miliar (sekitar Rp30,4 Triliun).
Angka ini jauh lebih waras jika dibandingkan dengan Olimpiade Musim Panas, Paris 2024 yang menyentuh $10 Miliar (sekitar Rp160 Triliun), atau Beijing 2008 yang mencapai $40 Miliar (sekitar Rp640 Triliun).
Risiko Efisiensi
Tujuan dari eksperimen efisiensi ini jelas bukan tanpa risiko sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian.
Dengan lokasi yang sangat tersebar, para atlet dan penonton harus menghadapi tantangan logistik yang nyata.
Selain itu, kehangatan "Olympic Village" yang biasanya menyatukan seluruh atlet dari berbagai cabang kini tersebar di berbagai klaster. Namun, bagi penyelenggara menyebutkan ini pengorbanan kecil demi tujuan besar.
Model ini membuktikan bahwa Olimpiade tidak lagi harus menjadi venue eksklusif bagi negara yang mau membuang uang.
Pesan dari Milano Cortina 2026
Milano Cortina 2026 adalah tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2026 dengan konsep baru memberi pesan bagi dunia.
Melansir International Journal of Sport Policy and Politics, olimpiade harus beradaptasi dengan kondisi kota, bukan sebaliknya. Jika eksperimen Italia ini sukses secara finansial maupun penyelenggaraan maka kan berefek kepada negara lain.
Khususnya negara lain akan membukakan pintunya agar mau mengajukan diri untuk berkolaborasi menjadi tuan rumah bersama.
Ini bukan sekadar tentang medali atau rekor baru, melainkan tentang bagaimana menjaga agar api Olimpiade tetap bisa menyala tanpa harus membakar ekonomi negara tuan rumahnya.
(Tribunnews.com/Niken)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.