Formula 1
Ralf Schumacher Bongkar Rahasia Kontrak Lewis Hamilton di Ferrari, Jadi Pembalap Nomor Satu
Klausul kontrak Lewis Hamilton di F1 Ferrari dibongkar eks pembalap F1, Ralf Schumacher, yang menyebutkan status pembalap nomor satu.
Ringkasan Berita:
- Ralf Schumacher menduga Lewis Hamilton memiliki kontrak khusus yang memberinya status pembalap nomor satu
- Dominasi Hamilton ini dikhawatirkan merusak otoritas Prinsipal Tim, serta memicu ketegangan dengan rekan setimnya, Charles Leclerc
- Persaingan internal dua ego besar tersebut dianggap berisiko merugikan efisiensi tim dan mentalitas para mekanik
TRIBUNNEWS.COM - Musim F1 2026 menjadi panggung pembuktian bagi Lewis Hamilton. Setelah melewati 2025 yang penuh lika-liku bersama Ferrari, sang juara dunia tujuh kali itu kini tampil seolah terlahir kembali.
Keberhasilannya mengamankan podium perdana bagi Si Kuda Jingkrak di GP China menjadi sinyal kuat bahwa pria berjuluk The Billion Dollar Man belum habis.
Namun, di tengah euforia tersebut, eks pembalap F1 Ralf Schumacher melempar spekulasi yang memicu kontroversi.
Ralf menilai ada alasan mendalam dan mungkin bersifat politis di balik performa gemilang Hamilton musim ini.
Ia menduga adanya klausul kontrak eksklusif yang membuat Hamilton seolah menjadi penguasa tunggal di lintasan.
Setelah setahun beradaptasi dengan lingkungan Maranello, Hamilton musim ini terlihat jauh lebih agresif.
Persaingannya dengan rekan setim, Charles Leclerc, pun semakin memanas. Di Shanghai, keduanya terlibat duel wheel-to-wheel yang sengit namun sportif.
Meski publik melihatnya sebagai tanda kebangkitan, Ralf Schumacher justru melihat adanya ketidakseimbangan kuasa di dalam garasi Ferrari.
"Saya sebenarnya berpendapat.. dan ini mungkin akan memancing banyak kritik lagi, tapi saya tidak peduli, bahwa Hamilton memiliki kontrak yang memberikan dia kebebasan mutlak di lintasan," ujar Schumacher dalam siniar Backstage Boxengasse di Sky Sport Jerman.
Ralf bahkan menduga bahwa otoritas Fred Vasseur sebagai Prinsipal Tim pun seolah tumpul jika berhadapan dengan kontrak sang pembalap Inggris tersebut.
"Saya bisa membayangkan bahkan Fred Vasseur pun tidak bisa ikut campur, meskipun dia menginginkannya. Hamilton kemungkinan besar bisa memutuskan sendiri apa yang dia lakukan."
"Dia mungkin memiliki status nomor satu. Itu berarti Ferrari tidak punya cara nyata untuk mengontrolnya; dia yang memutuskan sendiri. Tapi hal itu tentu berdampak di dalam tim," ujar sang mantan pembalap F1.
Ego Dua Banteng dan Nasib Mekanik
Masalah utama yang disorot Ralf bukan sekadar soal siapa yang lebih cepat, melainkan dampak psikologis bagi tim.
Ferrari kini dihuni oleh dua pembalap dengan ego raksasa. Pertarungan internal antara Hamilton dan Leclerc memang menjadi tontonan menarik bagi penonton, namun bisa menjadi mimpi buruk bagi efisiensi tim.
Baca juga: Dilema Masa Depan Max Verstappen di F1 Gegara Gairah Balap yang Mulai Pudar
Schumacher menekankan bahwa setiap gesekan di lintasan tidak hanya merugikan poin, tetapi juga melukai mentalitas kru di balik layar.