BWF World Tour
Setelah Viktor Axelsen dan Carolina Marin Pensiun, Badminton Krisis Pemain Ikonik
Deretan pemain seperti Axelsen, Marin, Minions, hingga The Daddies sudah pensiun, krisis pemain ikonik di badminton terasa.
Sebab, status ikonik mereka tidak hanya dibangun di atas tumpukan trofi, melainkan lewat semangat juang yang melampaui batas kewajaran.
Carolina Marin, misalnya, berhasil mengharumkan nama Spanyol di tengah dominasi Asia dalam cabor yang awalnya tidak populer di negaranya.
Begitu pun Axelsen, yang sukses melewati kedigdayaan para seniornya seperti Mathias Boe dan menjadi wajah bulu tangkis Denmark.
Di sisi lain, Indonesia kehilangan sosok pengayom dalam diri Ahsan/Hendra serta daya dobrak luar biasa dari The Minions.
Kehadiran mereka di lapangan bukan hanya soal memenangkan poin, tetapi soal gairah dan tontonan berkualitas yang mampu menyihir ribuan penonton di tribun.
Kini, ketika kursi-kursi legenda itu kosong, muncul sebuah tanya besar, siapa yang akan meneruskan tongkat estafet ini?
Menanti Gebrakan Baru Tengah Inkonsistensi
Meski dunia masih memiliki pemain hebat seperti An Se-young, duet Korea Seo Seung-jae/Kim Won-ho, Kunlavut Vitidsarn, hingga Anders Antonsen, ada sesuatu yang dirasa masih kurang.
Geliat untuk menyaksikan perhelatan bulu tangkis dinilai mulai meredup karena belum ada pemain yang mampu tampil sedominan dan seikonik para pendahulu mereka secara konsisten.
Khusus bagi Indonesia, situasi ini menjadi alarm merah. Secara statistik, performa wakil Merah-Putih masih cenderung naik-turun.
Belum muncul sosok yang mampu memberikan gebrakan mengesankan selevel Taufik Hidayat atau gairah yang diledakkan oleh The Daddies dan The Minions pada masa jaya mereka.
Diharapkan setelah badai pensiun ini mereda, akan muncul bibit-bibit baru yang tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga memiliki karakter ikonik yang mampu meningkatkan kembali marwah bulu tangkis dunia.
(Tribunnews.com/Niken)