MotoGP
F1 Bikin Jiper, Popularitas MotoGP Bermasalah Tanpa Valentino Rossi
Manajer Ducati Davide Tardozzi terang-terangan akui MotoGP menurun popularitasnya sejak Valentino Rossi pensiun, sementara F1 melesat jauh.
Ringkasan Berita:
- Manajer Ducati Davide Tardozzi mengakui popularitas MotoGP bermasalah dan alami penurunan sejak kehilangan Valentino Rossi
- Keberadaan Pecco Bagnaia sebagai perpanjangan tangan Valentino Rossi tak berbuah banyak
- Davide Tardozzi dibuat takjub oleh perkembangan popularitas balapan F1
TRIBUNNEWS.COM - Popularitas MotoGP tidak dalam kondisi baik-baik saja menyusul kepergian sang ikon, Valentino Rossi, yang pensiun tahun 2021.
Dalam sudut pandang Manajer Ducati Lenovo Team, Davide Tardozzi, eksistensi kejuaraan dunia MotoGP, mengalami penurunan. Khususnya di Italia.
Hadirnya Francesco 'Pecco' Bagnaia sebagai 'perpanjangan tangan' Rossi di MotoGP, tidak bisa berbuat banyak. Sekalipun Italiano 29 tahun itu sudah memberikan dua gelar juara dunia MotoGP (2022 dan 2023) bagi Ducati, tak menjadi jaminan.
"Kami telah kehilangan pangsa pasar di Italia dalam beberapa tahun terakhir,” kata manajer tim Ducati-Lenovo, Davide Tardozzi dalam wawancaranya kepada Speedweek.
Dalam pengakuan Tardozzi, tidak ada rider yang bisa menyamai pamor Rossi, untuk melebarkan sayap pangsa pasar MotoGP di dunia.
Bahkan melalui tarikan gas Valentino Rossi, MotoGP bukan cabang olahraga "segmented" atau khusus bisa dinikmati pecintanya saja. Namun juga semua kalangan.
“Saya tidak bisa berbicara untuk negara lain. Fakta bahwa kami tidak lagi memiliki Valentino Rossi adalah masalah. Valentino Rossi adalah seorang bintang, pahlawan bahkan bagi para nenek. Dia memastikan mereka menonton MotoGP.
Di era sekarang ini, banyak yang mengklaim kalimat "sudah tak pernah menonton MotoGP sejak Valentino Rossi pensiun".
Ini dianggap sebagai ungkapan usang di platform media sosial. Hal itu mengacu kepada peta persaingan gelar juara dunia MotoGP, beririsan dengan performa apik Marc Marquez tahun lalu.
Tetapi kalimat itu, jika dilihat dari popularitas dan eksistensi, memanglah relate. Realitanya di sirkuit, animo penonton untuk menyaksikan balapan MotoGP menurun.
Hal ini yang kemudian membuat Dorna 'memodifikasi' kejuaraan dunia, meniru langkah Formula 1 (F1) dengan hadirnya balapan ekstra, atau lebih dikenal sebagai sprint race.
Nyatanya itu tak bisa mendongkrak popularitas MotoGP secara masif. Bahkan melalui saluran TV berbayar yang mulai diperkenalkan Dorna, dalam pandangan Davide Tardozzi, belum membantu.
Baca juga: MotoGP Italia 2026 Akhir Pekan Ini: Kesempatan Emas Bezzecchi, Aji Mumpung Marquez Bersaudara Absen
"Di sisi lain, Pecco Bagnaia telah sangat terkenal di Italia selama beberapa tahun terakhir, dan tentu saja Ducati dan Aprilia juga, mereka melakukan pekerjaan yang baik dalam hal promosi," sambung pentolan di garasi Ducati Lenovo Team.
"Tetapi jelas juga bahwa TV berbayar tidak membantu. Namun, dunia ini harus bertahan, dan penyiar TV berbayar membayar uang yang banyak, jadi penyelenggara cenderung ke arah itu."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Balapan-sprint-race-MotoGP-Valencia-2025.jpg)