Indonesia Open 2026
PBSI Tak Pasang Target Tinggi di Polytron Indonesia Open 2026, Fokus pada Performa Atlet
PBSI tak pasang target di Indonesia Open 2026, fokus pada performa dan semangat juang atlet.
Ringkasan Berita:
- PBSI menegaskan tidak membebani atlet dengan target juara di Polytron Indonesia Open 2026, 2–7 Juni di Istora Senayan.
- Fokus diberikan pada performa terbaik, semangat juang, dan dukungan penuh bagi 21 wakil Indonesia.
- Persaingan ketat di level elite jadi ajang penting pembinaan dan pengalaman atlet
TRIBUNNEWS.COM - PP PBSI memilih untuk tidak membebani para atlet dengan target yang terlalu tinggi pada ajang Polytron Indonesia Open 2026 yang akan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta pada 2–7 Juni 2026.
PBSI lebih menekankan pentingnya penampilan terbaik dan semangat juang para pemain dibandingkan tuntutan meraih gelar juara.
Ketua Umum PP PBSI, Fadil Imran, mengatakan bahwa seluruh wakil Indonesia memiliki peluang yang sama untuk meraih prestasi.
Namun, menurutnya, hasil akhir merupakan konsekuensi dari proses latihan dan persiapan yang telah dijalani para atlet.
"Kami tentu berharap seluruh atlet Indonesia dapat memberikan penampilan terbaik. Namun, PBSI tidak ingin membebani para atlet dengan target yang berlebihan. Yang kami harapkan adalah mereka bisa tampil maksimal, berjuang hingga poin terakhir, serta menunjukkan karakter juara untuk Indonesia," ujar Fadil dalam sesi konferensi pers Polytron Indonesia Open 2026 di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Senin (1/6/2026).
Baca juga: Polytron Indonesia Open 2026, Ajang Pembuktian Atlet Tuan Rumah dan Panggung Regenerasi
Salah satu pemain yang menjadi sorotan pada turnamen kali ini adalah tunggal putra muda Alwi Farhan.
Meski tengah menunjukkan perkembangan positif dan tampil menjanjikan dalam beberapa turnamen terakhir, PBSI tidak ingin memberikan tekanan berlebih kepada pemain berusia 21 tahun tersebut maupun atlet-atlet lainnya.
Fadil menegaskan bahwa peluang untuk menjadi juara masih terbuka bagi seluruh peserta.
Ia menilai persaingan bulutangkis dunia saat ini sangat ketat sehingga tidak ada jaminan bagi pemain unggulan untuk meraih kemenangan.
"Menurut kami, hasil merupakan konsekuensi dari proses dan persiapan yang baik. Jika ditanya siapa yang berpeluang menjadi juara, saya rasa semuanya memiliki peluang. Kesempatan untuk meraih gelar masih terbuka lebar bagi setiap atlet," katanya.
Lebih lanjut, Fadil menilai faktor penentu kemenangan saat ini bukan lagi nama besar ataupun status unggulan.
Kesiapan teknik, kondisi fisik, dan kekuatan mental saat bertanding menjadi aspek yang paling berpengaruh dalam persaingan di level elite.
"Persaingan bulutangkis dunia saat ini sangat ketat dan berat. Yang paling menentukan bukanlah nama besar, melainkan siapa yang paling siap secara teknik, fisik, dan mental saat pertandingan berlangsung," terang Fadil.
Untuk itu, PBSI saat ini memfokuskan diri untuk memberikan dukungan maksimal kepada seluruh atlet agar mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya di hadapan publik Indonesia.
"Fokus kami adalah membantu para atlet agar dapat mencapai penampilan terbaik mereka di turnamen ini," pungkasnya.