Rabu, 3 Juni 2026

BWF World Tour

Rapor Merah Rian/Rahmat: Tersisih Cepat di Polytron Indonesia Open 2026, Alarm Olimpiade LA Menyala

Rian/Rahmat tambah deretan rapor merah di Polytron Indonesia Open 2026, performa stagnan dan alarm bahaya Olimpiade LA 2026.

Tayang:
Penulis: Niken Thalia
Editor: Dwi Setiawan
PBSI
RIAN/RAHMAT - Pasangan anyar ganda putra Indonesia, Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat, saat bertanding melawan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (India) dalam perempat final Denmark Open 2025 di Jyske Bank Arena, Odense, Denmark, pada 17 Oktober 2025. Dok/PBSI 

Ringkasan Berita:
  • Rian/Rahmat mengalami stagnasi performa setelah mencatatkan hasil buruk berupa lima kali gugur cepat hingga di Polytron Indonesia Open 2026
  • Kegagalan ini menuntut evaluasi dan tanggung jawab nyata dari pihak pemain, tim pelatih, hingga PBSI
  • Momentum pembenahan harus dilakukan tahun ini juga demi menyelamatkan proyeksi poin dan pematangan skuad menjelang kualifikasi Olimpiade LA 2028

TRIBUNNEWS.COM - Ekspektasi mengiringi setiap formula baru di sektor ganda putra Indonesia. Namun, apa yang ditunjukkan pasangan Rian Ardianto/Rahmat Hidayat justru jauh dari harapan.

Alih-alih menjadi kekuatan baru, duet yang diramu sejak Oktober 2025 ini justru terjebak dalam inkonsistensi yang akut.

Teranyar, kegagalan total di hadapan publik sendiri pada babak 32 besar Polytron Indonesia Open 2026 setelah dikalahkan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (Jepang) dengan skor mencolok 8-21, 13-21.

Hasil ini sudah jelas menegaskan progres pasangan ini stagnan.

Jika ditarik sejak kali pertama dipasangkan, praktis sudah tujuh bulan lebih Rian/Rahmat diberi panggung.

Statistik yang diharapkan tentu sebuah grafik menanjak. Kenyataannya, selama periode tersebut lemari piala mereka hanya dihiasi satu gelar minor dari ajang Astana International Challenge 2025.

Level turnamen yang tentu sangat timpang jika berkaca pada nama besar dan potensi yang mereka miliki. Ketika dinaikkan kelasnya ke panggung BWF World Tour mulai dari level Super 300 hingga Super 1000, keduanya seperti kehilangan taji.

Rentetan Hasil Minor yang Mengenaskan

Titik tertinggi pasangan ini sebenarnya sempat mengintip pada ajang All England 2026 maret lalu, saat mereka berhasil menembus babak perempat final.

Publik mengira itu adalah titik balik. Namun, performa Rian/Rahmat setelah itu justru menukik tajam.

Rapor Merah Rian/Rahmat:

  • Swiss Open 2026 (Super 300): 32 besar
  • Orleans Masters 2026 (Super 300): 32 besar
  • Thailand Open 2026 (Super 500): 32 besar
  • Malaysia Masters 2026 (Super 500): 32 besar
  • Polytron Indonesia Open 2026 (Super 1000): 32 besar

Baca juga: Kejutan Polytron Indonesia Open 2026: Jagoan Thailand Nyaris Angkat Koper Gegara Underdog Jepang

Lima turnamen beruntun, lima kali keok di babak pertama.

Ini bukan lagi sekadar belum beruntung atau masalah adaptasi. Ini adalah sebuah penurunan mutu permainan yang memalukan untuk kaliber pemain pelatnas utama.

Pemain, Pelatih, dan Federasi Harus Bertanggung Jawab

Kegagalan ini tidak boleh dibebankan kepada satu pihak saja. Rian dan Rahmat sebagai aktor di lapangan wajib mendapat kritik paling keras.

Di lapangan, keduanya kerap tampak ajek, minim kreativitas, dan kehilangan fighting spirit saat ditekan lawan.

Sebagai pemain senior, Rian gagal menjadi mentor yang tenang, sementara Rahmat seolah kehilangan determinasi.

Jika mentalitas bertanding mereka seperti ini, mereka hanya akan menjadi penggembira di setiap turnamen.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved