Breaking News:

Polemik European Super League Seret MU, Sir Alex Ferguson Beri Komentar Nada Kecewa

Dicetuskannya European Super League membuat mantan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson memberikan komentar yang bernada kecewa.

TWITTER.COM/OPTAJOE
Pelatih legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, mengangkat trofi Liga Inggris terakhirnya pada musim 2012-2013. 

TRIBUNNEWS.COM - Polemik soal gagasan pembentukan kompetisi European Super League atau Liga Super Eropa yang diproyeksikan menjadi pengganti Liga Champions milik UEFA terus berkembang.

Sejumlah kalangan mulai menujukkan reaksi yang beragam mengenai dicetuskannya European Super League, termasuk mantan juru taktik Manchester United, Sir Alex Ferguson.

Sebagaimana yang diketahui, Manchester United bersama Manchester City, Chelsea, Liverpool, Arsenal, dan Spurs, tergabung dalam sebuah kompetisi yang tak mengenal adanya sistem degradasi maupun promosi tersebut

Baca juga: Gegara European Super League, AC Milan, Juventus & Inter Kena Semprot Petinggi Sassuolo

Baca juga: Manchester United Sukses Lewati Prestasi Musim Lalu, Setan Merah Lanjutkan Tren Positif

Di sisi lain, Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid (Spanyol), serta Juventus, AC Milan, dan Inter Milan (Italia) juga berstatus kontestan tetap untuk European Super League nantinya.

Lebih jelasnya, format kompetisi ini tak mengindahkan sama sekali piramida maupun kaidah sepak bola dalam aturan sebuah kompetisi.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh New York Times, bahwa dasaran dibentuknya kompetisi European Super League adalah tim-tim yang memiliki kekuatan finansial mumpuni.

Artinya, jika hanya tim-tim elite seperti Manchester United hingga Barcelona tergabung dalam sebuah kompetisi tersebut, maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi sebuah klub kecil untuk berproses menjadi besar.

Sir Alex Ferguson dan Rafael da Silva
Sir Alex Ferguson dan Rafael da Silva (instagram/orafa2)

European Super League juga membuat ke-12 tim itu akan memisahkan diri dari ajang Liga Champions. .

Padahal jika dilihat kembali, Liga Champions sudah menjadi kiblat maupun tolak ukur bagi tim-tim di Benua Biru.

Di sisi lain, berubahnya daftar peserta di setiap musimnya menjadikan kompetisi yang memperebutkan trofi si Kuping Besar ini kian berwarna.

Halaman
12
Penulis: Drajat Sugiri
Editor: Dwi Setiawan
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved