Liga Spanyol
Kehilangan Dua Trofi, Ramon Calderon Bongkar Cara Otoriter Florentino Perez di Real Madrid
Mantan Presiden Real Madrid, Ramon Calderon memberikan kritik tajam ke pemilik sekarang, Florentino Perez dalam membangun El Real.
Ringkasan Berita:
- Ramon Calderon mengkritik keras Florentino Perez, menilai kepemimpinannya otoriter, terlalu mencampuri urusan teknis, dan menjadi penyebab pemecatan Xabi Alonso.
- Calderon menyoroti buruknya struktur olahraga Real Madrid, termasuk kegagalan mengisi kekosongan lini tengah pasca kepergian Modric dan Kroos.
- Kekalahan Real Madrid dari Albacete di Copa del Rey di bawah Alvaro Arbeloa dianggap memperkuat kritik terhadap manajemen klub yang tengah kacau.
TRIBUNNEWS.COM – Mantan presiden Real Madrid, Ramon Calderon, melontarkan kritik keras terhadap Florentino Perez menyusul keputusan klub memecat Xabi Alonso dari kursi pelatih.
Calderon menilai kepemimpinan Perez terlalu otoriter dan dijalankan dengan “tangan besi” alias diktator bahkan kejam.
Pemecatan Alonso terjadi tak lama setelah Real Madrid kalah dari Barcelona di final Piala Super Spanyol 2026 yang digelar di Arab Saudi.
Kekalahan tersebut menjadi pemicu utama perubahan besar di tubuh Los Blancos.
Calderon yang pernah memimpin Real Madrid pada periode 2005 hingga 2009, menilai keputusan tersebut tidak sepenuhnya adil.
Ia percaya Real Madrid sejatinya masih memiliki peluang besar di laga final tersebut.
“Mereka bisa saja bermain imbang atau bahkan menang dengan mudah. Penampilannya tidak buruk,” ujar Calderon dikutip dari Mundo Deportivo.
Namun menurutnya, hasil tersebut langsung berdampak pada nasib Alonso.
“Pada akhirnya, tampaknya itu adalah keputusan presiden untuk memecatnya,” tambahnya.
Baca juga: Hadiah Copa del Rey 2025/2026: Real Madrid Dapat Rp2,4 Miliar, Barcelona Berpeluang Mandi Uang
Calderon kemudian menyoroti gaya kepemimpinan Perez yang dianggap terlalu mencampuri urusan teknis tim.
Mantan Presiden Real Madrid itu menilai Perez tidak memiliki struktur olahraga yang sehat.
“Tidak ada direktur olahraga maupun struktur penasihat sepak bola yang nyata di Real Madrid. Oleh karena itu, presidenlah yang membuat keputusan dan membatalkannya sesuka hatinya,” tegas Calderon.
Ia pun menyimpulkan dengan kritik tajam, “Dia menjalankan Real Madrid sesuka hatinya.”
Tak berhenti di situ, Calderon juga menyalahkan Perez atas perencanaan skuad yang dinilai buruk, khususnya di lini tengah.
Kepergian dua legenda klub, Luka Modric dan Toni Kroos, disebut meninggalkan lubang besar yang belum teratasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/florentino-perez-pernah-berkeinginan-buat-taman-hiburan-bernama-real-madrid-land.jpg)