Riset: Asia Tenggara Pasar Bagus untuk Para Pengembang Aplikasi Smartphone

Teknologi seluler telah bertransformasi menjadi penyangga utama dari transformasi ekonomi di Asia Tenggara.

Riset: Asia Tenggara Pasar Bagus untuk Para Pengembang Aplikasi Smartphone
dunleacentre.org.au
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Platform pemasaran dan penargetan ulang aplikasi seluler Liftoff mempublikasikan riset terbarunya tentang prospek bisnis pengembang aplikasi smartphone di kawasan Asia Tenggara.

Riset ini menyebutkan, pasar Asia Tenggara merupakan tempat di mana para pengguna aplikasi seluler memiliki keterlibatan (engagement) tertinggi di dunia. Namun demikian, hasilnya tetap akan bergantung pada kemampuan pemasar seluler untuk beradaptasi dengan pendekatan yang dilokalisasi yang diperlukan untuk memanfaatkan kesempatan dalam pasar regional yang heterogen dengan populasi penduduk lebih dari 650 juta jiwa ini.

Laporan Aplikasi Seluler Asia Tenggara 2019 dari Liftoff menyediakan data terkait beragam aspek dari
penggunaan aplikasi yang meliputisegala hal mulai dari tolok ukur keterlibatan seluler, tren musiman,
biaya per tingkat konversi, platform keterlibatan, serta tingkat retensi di kawasan.

Laporan tersebut juga menyediakan pandangan terkait pemasaran aplikasi dari serangkaian kampanye aplikasi seluler
yang dijalankan Liftoff di Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam, Myanmar, Singapura, dan Thailand, antara 1 Maret 2018 hingga 28 Februari 2019.

Baca: Pilot Vincent Raditya Mengadu ke Menteri Kominfo, Menduga Ada Pihak yang Tak Suka Pada Dirinya

Kampanye ini mencakup 28 miliar tayangan iklan, 656 juta klik iklan, 5,8 juta instal, dan 13,5 juta peristiwa pasca-instalasi pertama kali.

Liftoff juga menyebutkan, teknologi seluler telah bertransformasi menjadi penyangga utama dari transformasi ekonomi di Asia Tenggara. Sekitar 90 persen penduduk di wilayah ini disebut telah terhubung ke internet melalui ponsel pintar. 

Baca: Harga Tiket Melambung Sampai Rp 21 juta, Menhub Tegur Garuda dan Traveloka

Rata-rata pengguna seluler di Asia Tenggara menghabiskan sekitar empat jam per hari untuk menggunakan aplikasinya,  atau satu jam lebih lama dari rata-rata masyarakat lain di dunia.

Meski begitu, tingkat adopsi dari teknologi digital maupun tingkat pertumbuhan pendapatan di kawasan
Asia Tenggara dinilai masih rendah jika dibandingkan dengan pasar-pasar utama lain di dunia. 

Hal ini menurut riset tersebut mengharuskan para pemasar aplikasi seluler untuk mengambil pendekatan hyperlocal di masing-masing negara dan bergantung pada data untuk memandu strategi mereka.

“Dalam laporan kami, kami bermaksud membagi informasi terkait tren dan tolok ukur bagi pasar aplikasi kepada industri, dengan harapan mereka dapat meningkatkan kinerja dan lebih cekatan dalam mmengikuti pasar yang berubah dengan begitu cepat di kawasan Asia Tenggara,” ujar Dennis Mink, Vice President Marketing, Liftoff dalam keterangan pers tertulis.

Dia berharap versi terbaru dari Laporan Aplikasi Seluler tersebut dapat membantu para pemasar agar menjadi lebih proaktif dalam membuat keputusan terkait kampanye mereka di Asia Tenggara, misalnya untuk memperhitungkan keragaman pengguna dan struktur dari masing-masing negara di kawasan.

Dia menyebutkan, mengukur akuisisi pengguna dalam pasar yang beragam memiliki tantangan tersendiri Asia Tenggara merupakan kawasan yang beragam dari segi budaya, politik, agama, bahasa, dan pendapatan yang berarti para pemasar harus mengambil pendekatan yang dilokalisasi pada tiap-tiap negara.

Beragam situasi yang bersifat musiman cenderung memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku konsumen di Asia Tenggara apabila dibandingkan dengan kawasan lain.

Misalnya, bulan Ramadan yang jatuh pada Juni 2018 memunculkan biaya tertinggi dalam hal akuisisi pengguna yang melakukan pembelian, yang mengindikasikan bahwa untuk memperoleh pengembalian investasi (return of investment) terbaik, para pemasar harus mempelajari dan mengakuisisi pengguna seluler bernilai tinggi tersebut pada waktu yang tepat.

Pola konsumsi di kawasan Asia Tenggara juga sangat dipengaruhi oleh musim liburan, perayaan Tahun Baru di negara setempat seperti Songkran di Thailand, liburan belanja, serta cuaca.

Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved