84 Persen Milenial Tidak Percaya Pada Traditional Advertising

"Menjangkau konsumen dengan cara-cara konvensional kini amatlah sulit. Sebanyak 84 persen milenial tidak percaya pada traditional advertising"

84 Persen Milenial Tidak Percaya Pada Traditional Advertising
TRIBUNNEWS/CHOIRUL ARIFIN
Antoine Gross, GM Southeast Asia Impact Radius 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Accesstrade menggelar talkshow interaktif untuk komunitas digital marketing berkolaborasi dengan Synrgy, sebuah akselerator untuk startup, bertajuk 'Growth Hacking Trough Digital Marketing to Empower Your Business' di Synrgy Innovation Hub, Manhattan Square Mezzanine Floor, Selasa (12/8/2019) malam.

Talkshow ini menghadirkan Richard Anggadiwirja, Program Lead Synrgy; Antoine Gross, GM Southeast Asia Impact Radius; Bambang Triharto, Head E commerce Kalbestore.com; Usman Raezra, Business Director Digenesia dan Yudhistira Ditya, Digital Marketing Manager Bukalapak.

Antoine Gross, GM Southeast Asia Impact Radius mengatakan, perusahaan dengan program partnership yang telah matang, mampu tumbuh lebih cepat dari perusahaan sejenis.

"Menjangkau konsumen dengan cara-cara konvensional kini amatlah sulit. Sebanyak 84 persen milenial tidak percaya pada traditional advertising," ujarnya mengutip hasil riset IPSOS.

Antoine Gross, GM Southeast Asia Impact Radius2
Paparan Antoine Gross, GM Southeast Asia Impact Radius di talkshow digital marketing yang digelar Accestrade Indonesia bersama Synrgy di Manhattan Square, Jakarta, Selasa (12/8/2019) malam.

Dia menjelaskan, sebanyak 90 persen belanja iklan atau ad spend saat ini terjadi di Facebook dan Google. Sementara, sebanyak 29 persen pendapatan mobile berasal dari rekomendasi dan 82 persen konsumen mengandalkan rekomendasi dari influencer.

"Sebanyak 70 persen orang dewasa di AS percaya pada rekomendasi yang diberikan oleh orang lain ketimbang yang disampaikan oleh merk tersebut," sebutnya. 

Baca: Ganti Rugi untuk Keluarga Ahli Waris Korban Boeing 737-8 Max Lion Air Lebih dari Rp 2 Miliar

Prayudho Rahardjo, CEO Accesstrade Indonesia menyatakan, industri  e-commerce saat ini sudah tidak terlalu peduli lagi berapa banyak orang yang melihat iklan mereka tampil, tapi lebih melihat berapa banyak user yang melakukan aksi, misal user baru yang melakukan registrasi dan melakukan payment.

Bambang Triharto, Head E commerce Kalbestore.com mengatakan, Kalbe mulai masuk ke digital sejak 2011. "Di 2017 kita mengembangkan di apps store dengan launching aplikasi mobile," ujar Bambang.

Dia menyebutkan, sejak dua tahun lalu seluruh unit Kalbe telah mengembangkan konsep inovasi. 

Talkshow digital marketing
Talkshow digital marketing yang digelar Accesstrade Indonesia bersama Synrgy di Manhattan Square, Jakarta, Selasa (12/8/2019) malam.

"Kita mulai jual produk di online untuk beri kemudahan ke konsumen. Produk yang kita pasarkan ke konsumen kita ambilkan dari jalur distribusi kita yang terdekat," jelasnya. 

Di bisnis barunya ini, Kalbe menganut konsep kolaborasi, memadukan antara bisnis offline kita dan di online. "Target digital campaign Kalbe adalah membangun awareness bahwa Kalbe kini punya channel di online.  Sejak 2018 penjualan online kita sudah di atas Rp 35 miliar," bebernya.

Usman Raezra, Business Director Digenesia mengatakan, pada prinsipnya customer behavior dari dulu sampai sekarang sama. "Yang beda, ketika datang teknologi semua jadi berubah," ujarnya.

Yudhistira Ditya, Digital Marketing Manager Bukalapak menambahkan, harga paket data internet yang kini makin terjangkau dan maraknya penggunaan smartphone menjadi faktor utama pendorong tumbuhnya dunia digital di Indonesia.

"Tren ini mendorong masuknya digital marketing yang memberi peluang interaksi dua arah. Tantangannya sekarang adalah memilih channel channel yang tepat agar tepat sasaran dengan konsumennya," ungkap Yudhistira Ditya.

Penulis: Choirul Arifin
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved