Dapat Pendanaan 35 Juta Dolar AS, Snapask Siap Ekspansi ke Asia Tenggara

Tahun 2020 ini Snapask akan mendorong pembelajaran mandiri melalui pendekatan 'questionasking'.

DOK SNAPASK
Mobile app Snapask di smartphone. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Startup teknologi pendidikan Snapask siap melakukan ekspansi ke Asia Tenggara setelah mendapatkan dukungan pendanaan baru senilai US$ 35 juta.

Snapask berambisi untuk menjadi pemimpin dalam teknologi pendidikan, mendorong
revolusi pembelajaran mandiri di Asia.

Tahun 2020 ini Snapask akan mendorong pembelajaran mandiri melalui pendekatan 'questionasking'.

Sebelumnya, Snapask telah membuat terobosan di sejumlah negara di Asia seperti Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Jepang dan Korea Selatan sejak awal 2015.

Tahun 2020, Snapask berhasil mencatatkan rekor pendanaan yang mencapai hampir 700
miliar rupiah atau sekitar 50 miliar dolar AS, termasuk dana segar senilai Rp 487 miliar yang
berasal dari Asia Partners asal Singapura dan Intervest dari Korea Selatan.

Baca: Pinjaman Online Lagi Disorot, Begini Metode Penagihan yang Benar Menurut Cashwagon

Timothy Yu, pendiri dan CEO Snapask mengatakan, suntikan dana segar ini akan
digunakan untuk mengukuhkan bisnis Snapask di Asia Tenggara, khususnya di Vietnam yang
kian menjadi pasar yang potesial untuk produknya.

Baca: Kisah Rahmat, Membangun Usaha Bakmi Medan dari Kamar Kos-kosan 2x2 Meter

Dana segar ini juga akan dipakai ekapansi di Singapura dan menjadikan Singapura sebagai kantor pusat regional Snapask di Asia Tenggara.

Snapask juga akan fokus pada pengembangan produk analitik untuk mempromosikan teknologi pembelajaran mandiri dan berbasis konten video.

Nick Nash, Co-Founder yang juga Managing Partner dari Asia Partners menjelaskan, Snapask merupakan manifestasi akan fokus Asia Partners dalam mengurangi kesenjangan pertumbuhan pendanaan modal untuk perusahaan teknologi di Asia Tenggara.

Bisnis Snapask tumbuh kuat di Hong Kong, Taiwan dan Singapura dan kemudian berekspansi di Indonesia.

Snapask membuat dampak revolusioner pada sektor pendidikan dengan mengembangkan minat siswa untuk belajar secara swadaya melalui cara mengajukan pertanyaan yang bisa difasilitasi oleh bantuan tutor berkualitas, yang bisa terhubungkan secara instan dan personal melalui sistem Snapask.

Mobile app Snapask memungkinkan siswa untuk mengajukan pertanyaan dengan
snapshot dan kemudian mencocokkannya dengan tutor dalam hitungan detik untuk memiliki sesi pembelajaran one-on-one yang cepat.

Snapask didirikan pada 2015 dan kini melayani sekitar 3 juta siswa dengan lebih dari 350,000 guru di 8 Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Jepang dan Korea.

Berita Populer
Penulis: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved