Virus Corona

Kominfo Dorong Startup Digital Terus Tumbuh di Tengah Tantangan Krisis Covid-19

Menurut Riset Katadata Insight Center hampir 50 persen startup optimistis bisa bertahan hingga lebih dari satu tahun

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Hendra Gunawan
Reynas Abdila/Tribunnews.com
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Semuel Abrijani Pangerapan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 memukul sendi-sendi perekonomian termasuk startup digital.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan pihaknya mendorong ekonomi digital atau startup terus bertumbuh di tengah tantangan krisis Ini.

“Kami ingin program dan kerja kita tepat sasaran, kami ingin ekonomi digital ini terus tumbuh dan berkembang dan belajar dari apa yang menjadi potensi dari kondisi pandemi Covid-19,” jelas Semuel saat webinar Pandemi Covid: Dampak Terhadap Pelaku Ekonomi Digital, Kamis (9/6/2020).

Baca: Startup Kecantikan Ini dapat Pendanaan Baru Senilai 58 Juta Dolar AS di Tengah Pandemi

Baca: Masuki New Normal, Hotel dan Restoran Gandeng Startup untuk Terapkan Protokol Kesehatan

Menurut Riset Katadata Insight Center hampir 50 persen startup optimistis bisa bertahan hingga lebih dari satu tahun ke depan kendati ekonomi Indonesia tengah mengalami krisis.

"Sebanyak 50 persen yakin bisa survive, 21 persen startup mampu bertahan hingga kuartal 1 2021. Sisanya, bisa bertahan dalam tempo 3-6 bulan ke depan,” terang Direktur Riset Katadata Insight Center, Mulya Amri dikesempatan yang sama.

Menurut Mulya, ada sejumlah cara yang dilakukan oleh startup digital untuk bisa bertahan di tengah pandemi.

Sebagian besar pengelola tersebut melakukan pengurangan biaya operasional.

Selain itu juga melakukan pengurangan biaya promosi dan mengurangi biaya produksi.

"Pengurangan biaya operasional yang banyak dilakukan adalah pemotongan gaji karyawan (35 persen) dan pemangkasan jumlah karyawan (24,5 persen)," katanya.

Dari hasil riset yang dilakukan terhadap 139 eksekutif perusahaan startup digital pada Mei-Juni 2020 menunjukkan bahwa startup cenderung tidak melakukan perubahan strategi pada masa pandemi.

“Tapi dari perubahan yang dilakukan, kebanyakan terkait jumlah dan jenis produk/layanan. Perubahan jenis produk/layanan didorong perubahan preferensi konsumen yang cenderung mencari barang kebutuhan pokok dan yang terkait kesehatan,” tutur Mulya.

Survei terhadap jajaran eksekutif startup dari berbagai sektor ini juga menunjukkan jika sektor pariwisata, sektor ekosistem pendukung digitalisasi dan maritim paling terpukul.

Sedangkan sektor sistem pembayaran, logistik, pertanian, kesehatan, teknologi informasi dan sektor pendidikan, meski terkena dampak, namun kondisi perusahaan masih cukup baik.

“Pelaku ekonomi digital yang sudah memiliki valuasi lebih besar atau pada tahapan Pony, Centaur dan Unicorn cenderung masih bisa menahan tekanan memburuknya ekonomi akibat pandemi,” kata Mulya.

Tekanan yang dialami selama pandemi tergambar dalam penurunan terhadap jumlah pengunjung/pengunduh aplikasi, jumlah transaksi per bulan, nilai transaksi per bulan dan jenis produk/layanan yang ditawarkan.

Jumlah startup dengan nilai transaksi di atas Rp 1 miliar - 100 milyar per bulan, banyak yang mengalami penurunan omzet menjadi di bawah Rp 1 miliar, yakni dari 30,2 persen menjadi 14,7 persen.

Namun, jumlah startup dengan transaksi di atas Rp 100 miliar yang semula sebanyak 10,9 persen startup mengalami kenaikan 2,3 persen menjadi 13,2 persen.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved