Breaking News:

Perjalanan Masih Panjang, dari 718 Bahasa Daerah Baru 10 yang Terdigitalisasi

Dari total 718 bahasa daerah yang terdapat di Indonesia, saat ini baru 10 bahasa daerah yang telah terdigitalisasi.

IST
Kick off Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara, Sabtu (12/12/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) secara bertahap akan terus mendigitalisasikan aksara-aksara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya Indonesia berikut tradisi lisan dan tradisi tulisnya ke digital.

Dari total 718 bahasa daerah yang terdapat di Indonesia, saat ini baru 10 bahasa daerah yang telah terdigitalisasi, hasil kerja keras tim PANDI bersama sejumlah pihak di Tanah Air.

Upaya mendigitalisasi aksara bahasa daerah ini sebenarnya untuk menyelamatkannya dari ancaman kepunahan ketika jumlah penutur aksara dan bahasa tersebut makin sedikit jumlahnya karena tergerus zaman dan modernitas.

Ditemui di acara launching Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara yang diselenggarakan PANDI dan dihadiri pejabat UNESCO melalui telekonferensi virtual di Hotel Alila SCBD Jakarta, Ketua Umum PANDI Yudho Giri Sucahyo, upaya memperjuangkan aksara daerah ke digital di Indonesia perjalanannya masih panjang karena aksara daerah jumlahnya mencapai ratusan.

"Kita punya bahasa daerah 718 tapi yang terdaftar di Unicode baru 10. masih ada 700 lebih aksara kita yang belum terdigital. Jika tak didigitalkan sememtara penutur bahasanya meninggal, aksara itu akan hilang punah," ujar Yudho.

Dia menegskan, PANDI tidak mungkin sendirian mengerjakan  digitalisasi aksara daerah ini.

"Kami mengajak semua komunitas pegiat aksara ikut terlibat mendigitalkan aksara daerah. Pak Sultan (Sri Sultan Hamengk Buwono X)  bilang ada 100 aksara yang akan didaftarkan ke Unicode. Kita sudah daftarkan ke Unicode 7 aksara daerah Indonesia seperti aksara Jawa, Bali, Arab Pegon, Bugis, Batak, Makasaar, Rejang, Sunda dan lain-lain," ungkapnya.

Yudho juga mengingatkan, di Unicode status aksara lokal Indonesia masih limited usage, alias penggunaan bahasa daerahnya masih terbatas.

"Harus dipertemukan pelaku pegiat aksara, pelaku budaya dan komunitas TI. Pelaku budaya perlu literasi untuk menghadirkan aksara daerah swcara digital. Karena itu kita perlu saling bersinergi."

"Selanjutnya kita perlu identifikasi lagi para pegiat aksara di luar 7 aksara lokal tadi. Kita perlu rembukan bikin tabel aksaranya seperti apa lalu kita daftarkan," ujarnya.

Halaman
123
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved