Breaking News:

Mirip Clubhouse, Perusahaan Induk TikTok Siap-siap Bikin Aplikasi Audio Chat

Popularitas Clubhouse menginspirasi ByteDance, perusahaan induk TikTok asal China, ikut mengembangkan aplikasi berbasis audio chat mirip Clubhouse.

Forbes
Popularitas Clubhouse menginspirasi ByteDance, perusahaan induk TikTok asal China, ikut mengembangkan aplikasi berbasis audio chat mirip Clubhouse. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fandi Permana

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Clubhouse, aplikasi audio chat rintisan perusahaan Valley Springs asal Amerika menjadi buah bibir karena unggul dalam daftar unduhan di iOS.

Aplikasi yang menghadirkan pembicaraan tokoh dunia seperti Elon Musk, Vladimir Putin, Mark Zuckerberg hingga pesohor dunia lainnya membuat popularitas Clubhouse makin melesat.

Popularitas tersebut yang kemudian menginspirasi ByteDance, perusahaan induk TikTok asal China, ikut mengembangkan aplikasi berbasis audio chat mirip Clubhouse.

ByteDance ingin aplikasi yang sedang digarap ini menjadi suksesor setelah TikTok sukses di pasar global dan merebut daftar aplikasi terpopuler selain Instagram dan Twitter.

Baca juga: Tantang Clubhouse, Twitter Kembangkan Fitur Audio Chat Room Spaces untuk Pengguna Android

Seorang sumber mengatakan jika aplikasi rintisan ByteDance sedang memasuki tahap yang masih dini.

Mengutip laman Reuters, Sabtu (6/3/2021), kesuksesan Clubhouse yang berasal Amerika Serikat ternyata turut memanaskan tensi politik di Beijing.

Baca juga: Netflix Kini Punya Fitur Fast Laughs, Mau Saingi TikTok?

Clubhose dituding menjadi ruang diskusi ilegal karena kerap membahas isu sensitif di Cina yang akhirnya sejak Februari lalu pemerintah memblokir Clubhouse.

Sebelum diblokir, Clubhouse menjadi ruang diskusi untuk membahas topik sensitif seperti isu kamp detensi terhadap muslim Xinjiang dan wacana untuk mewujudkan kemerdekaan Hong Kong.

Karena dinilai membahayakan, Pemerintah Cina gencar berpatroli secara virtual dan langsung memberikan peringatan pemblokiran terhadap aplikasi yang melanggar aturna hukum di sana.

Sejak diblokir, aplikasi serupa Clubhouse menjamur di China. Xiaomi Corp pekan lalu meluncurkan aplikasi bernama Mi Talk, yang juga berbasis undangan, untuk pengguna profesional.

Selain itu, aplikasi serupa bernama Zhiya buatan Lizhi Inc siap menggantikan kepopuleran Clubhouse. Aplikasi yang diluncurkan pada 2018 lalu, digunakan untuk membicarakan game atau bernyanyi, namun, pengguna harus menggunakan nama asli ketika mendaftar.

Menurut CEO Lizhi, Marco Lai, mendaftar dengan nama asli merupakan hal wajib di negara tersebut. Karena identitas semua akun media sosial hingga game mewajibkan penggunanya untuk memakai identitas resmi yang dikeluarkan pemerintah.

Penyelenggara livestreaming audio di China memiliki tim untuk mendengarkan dan menggunakan kecerdasan buatan untuk menghilangkan konten yang tidak pantas, termasuk pornografi dan isu politik yang sensitif.

Aplikasi tersebut sempat dicabut oleh regulator China pada 2019, namun, diizinkan kembali setelah Lizhi memperbaiki Zhiya.

Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved