Breaking News:

Aksi Phising dan Tag Akun Porno Marak di Facebook, Pakar Keamanan Siber Ungkap Penyebabnya

Pelaku dalam meluncurkan aksinya juga menyelipkan aksi phishing yang bertujuan untuk mencuri kredensial Facebook korbannya.

Pixabay.com/FirmBee
Facebook 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fandi Permana

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Beberapa hari ini jagat media sosial Facebook dihebohkan oleh aksi phising dan tag pada akun asusila yang mengintai para penggunanya.

Bahkan sudah ada puluhan ribu pengguna Facebook di Indonesia yang jadi korban aksi tag massal. Kejahatan siber ini membuat pengguna tiba-tiba saja mendapat mention dan di tag dalam sebuah unggahan yang berisi konten pornografi.

Atas kasus ini perusahaan keamanan siber Vaksincom mencoba mengungkapkan bagaimana hal ini bisa terjadi.

Baca juga: Layanan Audio Chat Facebook Akan Dirilis Musim Panas 2021, Seperti Apa Keunggulannya?

Awalnya mereka mencoba menelusuri informasi ini, namun saat melakukan penyelidikan, tiba-tiba saja unggahan dan situs yang melakukan mention sudah hilang dihapus oleh tim Facebook karena banyak dilaporkan pengguna.

Atas hasil itu, Vaksincom belum mengetahui penyebab utama dan modus, serta masalah ini tidak dapat dianalisa dengan baik.

"Namun, ketika aksi mention ini dilakukan kedua kali, beberapa teman mengirimkan bukti ke Vaksincom sehingga bisa langsung dianalisa. Saat kita selidiki, link website itu tak lagi ditemukan karena sudah ditindaklanjuti oleh Facebook," kata Pakar Keamanan Siber sekaligus Pendiri Vaksincom, Alfons Tanujaya, dalam keterangannya, Kamis (22/4/2021).

Baca juga: Facebook Bantu Kembangkan UMKM Perempuan Lewat Pelatihan Online

Menurut Alfons, modus ini memang sengaja dibuat dan dipersiapkan terlebih dahulu secara khusus. Pelaku dalam meluncurkan aksinya juga menyelipkan aksi phishing yang bertujuan untuk mencuri kredensial Facebook korbannya.

Aksi ini ditengarai juga oleh sebuah akun Facebook Page yang dibuat berbahasa Indonesia sehingga patut di duga ada orang Indonesia yang terlibat dalam aksi ini.

"Metode yang digunakan untuk memancing korbannya juga tidak jauh-jauh, ibarat memancing anak kecil dengan permen guna menculiknya, korban dipancing dengan video dengan judul bombastis dan gambar seronok. Setelah diklik, korban sudah masuk perangkap mereka dan kredensialnya sudah masuk semua dalam data pelaku," jelas Alfons.

Halaman
123
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved