Jumat, 29 Agustus 2025

Ketua Mastel: Merger Hanya Langkah Awal Selamatkan Operator, Untuk Berjaya Harus Lebih Inovatif

Pemerintah telah mencanangkan program Digital Nasional 2024 untuk membangkitkan perekonomian nasional di masa pandemi.

IST
Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) resmi mengangkat Sarwoto Atmosutarno sebagai Ketua Umum organisasi untuk periode 2021-2024. 

Bayangkan jika bandwidth internet mengalami blackout, segalanya akan terganggu.

Tidak hanya layanan pemerintahan, kebutuhan masyarakat, hingga hal-hal terkait keadaulatan negara dapat terancam.

Industri telekomunikasi saat ini di Indoesia bahkan di seluruh dunia tidak dalam kondisi baik dikarenakan adanya tren pendorong negative.

Menurut Sarwoto Atmosutarno, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), CAPEX perusahaan terus meningkat akibat kebutuhan bandwith yang lebih besar.

“Dapat dikatakan sekarang jumlah pelanggan telekomunikasi sudah di titik jenuh tapi bertipe konsumen bandwidth hunger. Sedangkan harga layanan data di Indonesia merupakan yang terendah setelah India. Harga layanan terus turun, otomatis berpengaruh pada pendapatan yang menurun. Sedangkan, biaya investasi tinggi dan teknologinya memiliki durasi tertentu dengan kebutuhan pergantian platform,” jelas mantan Direktur Utama Telkomsel itu dalam diskusi terbatas yang digelar oleh Indonesia Technology Forum (ITF) pada Jumat (22/10/2021).

Baca juga: Era Disrupsi Digital, Pengguna Medsos Akan Dijamin Kendali Atas Data Pribadinya

Saat ini pergeseran nilai telekomunikasi dimana rantai nilai tidak lagi dikuasai oleh operator, tapi beralih ke device dan aplikasi. Bisa dikatakan era kejayaan operator sudah berakhir dan pertumbuhan perusahaan berbasis teknologi semakin jauh melesat.

Sarwoto menambahkan kondisi ini sudah diramalkan sejak 2013 dimana pendapatan konten akan lebih besar dari infrastruktur.

Padahal tanpa operator telekomunikasi semua industri teknologi itu tidak berdaya.
Untuk itu industri telekomunikasi membutuhkan langkah-langkah inovasi, salah satunya dengan melakukan konsolidasi bisnis atau merger, seperti yang dilakukan oleh Indosat Ooredoo dan Hutchison Tri Indonesia belum lama ini.

Dengan merger terjadi sinergi sehingga bisa melakukan efisiensi dan menekan biaya.

Sebab, operator yang tidak bisa mencapai target EBITDA 6—8% pertahun selama 4—6 tahun berturut akan mati dengan sendirinya.

Lewat merger dua perusahaan juga bisa melakukan akuisisi data konsumen dan membangun market share bersama.

Seperti yang kita ketahui bahwa jumlah pelanggan Tri sebanyak 44 juta dan Indosat Ooredoo 60 juta, yang jika dijumlahkan akan menempati posisi kedua operator dengan jumlah pelanggan terbanyak.

Namun merger hanyalah pintu masuk untuk menyelamatkan operator dari kondisi pasar saat ini. Untuk keluar dari posisi bertahan hingga mencapai kondisi sehat dan bertumbuh, operator dipaksa untuk mengubah dirinya menjadi perusahaan teknologi.

Caranya dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan teknologi rintisan (start up) sembari berinvestasi di infrastruktur.

Baca juga: Masyarakat Mulai Menerima, Transaksi Digital Hingga September Meningkat Jadi Rp 28.685 Triliun

Pertumbuhan perusahaan teknologi secara global berkembang pesat dengan kapitalisasi pasar tumbuh 29% (CAGR 2009—2020) yang diakselerasi oleh dampak Covid-19, sedangkan perusahaan telekomunikasi tumbuh stagnan hanya 3%.

Halaman
123
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan