Breaking News:

Ekonom Indef: Merger Operator Telekomunikasi Berdampak Positif Pada Persaingan Usaha

Merger operator seluler dinilai dapat membawa efek positif persaingan usaha yang makin sehat dan efisiensi operasional sehingga menguntungkan konsumen

Penulis: Sanusi
Editor: Choirul Arifin
INDEF
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda. 

“Saya melihatnya merger yang terjadi di industri telekomunikasi membawa efek positif terhadap pengembangan industri ICT kita. Terlebih pengembangan 5G nasional saat ini dikuasai oleh salah satu operator. Sehingga merger ini diharapkan mampu membuat persaingan makin sehat sehingga pada akhirnya konsumen yang akan diuntungkan dari adanya peningkatan dan pengembangan industri telekomunikasi,” jelasnya.

Di sisi lain, menurut dia, merger juga akan memudahkan pemerintah melakukan pengawasan serta sinergi dengan program-program yang dibuat.

“Misalnya, pemerataan infrastruktur telekomunikasi dan digital itu menjadi program pemerintah. Dengan merger, kemampuan provider pun meningkat untuk dapat membangun infrastruktur seperti tower dan BTS yang diakibatkan dari adanya efisiensi dan penambahan daya modal dari perusahaan provider. Harapannya adalah mereka dapat membangun di daerah-daerah yang belum terjamah sinyal internet kuat," tegasnya.

Hal senada disampaikan Head of Research Praus Capital, Alfred Nainggolan.

Menurut dia, aksi korporasi merger dan akuisisi ditujukan sebagai sinergi organisasi atau korporasi untuk menyatukan kekuatan guna menghadapi persaingan yang makin ketat. Dengan merger, kolaborasi dua korporasi akan memberikan nilai tambah yang lebih besar.

Baca juga: Transaksi GoFood Meningkat Sejak Gojek dan Tokopedia Merger

“Sebagai contoh karena mereka berada dalam satu sektor atau satu core business, tentu yang diperoleh economic scale dalam bisnis tersebut, misalnya operator telekomunikasi, akan menciptakan efisiensi infrastruktur dan operasional,” jelasnya.

Alfred menilai ke depan kolaborasi dengan skema merger akan makin marak saat pemulihan ekonomi pasca pandemi bergulit cepat.

“Kolaborasi dan konsolidasi menjadi kebutuhan dasar korporasi setelah melewati badai pandemi. Dan ini terlihat di berbagai sektor,” paparnya.

Dia menilai sedikitnya ada dua faktor yang melatarbelakangi maraknya merger belakangan ini. Faktor pertama, persaingan yang semakin ketat. Dan faktor kedua, target pertumbuhan yang makin tinggi setelah melewati badai pandemi. “Merger ibarat menyatukan dua kekuatan sehingga menciptakan kekuatan baru yang lebih dahsyat,” jelasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved