Senin, 1 Juni 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Spotify Tutup Kantornya di Rusia, Bentuk Protes Atas Invasi di Ukraina

Spotify menghapus semua konten dari media Rusia seperti RT dan Sputnik di Uni Eropa, Amerika Serikat dan pasar lain di seluruh dunia

Tayang:
Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Tek Deeps
Ilustrasi Spotify. Spotify Tutup Kantornya di Rusia, Bentuk Protes Atas Invasi di Ukraina 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Platform layanan streaming musik, Spotify mengumumkan penutupan kantornya di Rusia sebagai tanggapan atas serangan yang dilancarkan Vladimir Putin terhadap Ukraina.

Pemerintah Barat mendesak perusahaan-perusahaan untuk memberikan serangan balik pada Rusia dengan cara apa pun, yang memungkinkan negara beruang putih ini akan kelimpungan.

Dalam pernyataannya, Spotify tetap berusaha untuk menjadi sumber penting bagi berita global dan regional.

Baca juga: Spotify Mengakuisisi Dua Platform Teknologi Podcast, Chartable dan Podsights

"Prioritas pertama kami selama seminggu terakhir adalah keselamatan karyawan kami dan untuk memastikan bahwa Spotify terus berfungsi sebagai sumber penting berita global dan regional pada saat akses ke informasi lebih penting dari sebelumnya," ungkap Spotify dalam sebuah penyataan yang dikutip dari Reuters.com, Kamis (3/3/2022).

Layanan musik streaming ini mengatakan telah meninjau ribuan konten sejak awal serangan terjadi, dan membatasi acara yang dimiliki dan dioperasikan oleh media yang berhubungan dengan Pemerintah Rusia.

Mengikuti langkah Facebook, pada awal pekan ini Spotify menghapus semua konten dari media Rusia seperti RT dan Sputnik di Uni Eropa, Amerika Serikat dan pasar lain di seluruh dunia, kecuali untuk wilayah Rusia.

Sejak Juli 2021, undang-undang Rusia yang ditandatangani Presiden Vladimir Putin, memberikan kewajiban perusahaan media sosial asing dengan jumlah pengguna harian mencapai lebih dari 500.000 pengguna, untuk membuka kantor lokal atau layanan mereka akan dibatasi.

Hanya beberapa perusahaan, termasuk Spotify yang memenuhi aturan itu, menjelang tenggat waktu UU tersebut yaitu pada Maret 2022.

ILUSTRASI Spotify
ILUSTRASI Spotify (Freepik)

Spotify menambahkan, para pegawainya akan memberikan donasi kepada korban invasi Rusia atas Ukraina dengan jumlah yang telah disesuaikan.

Masuknya Spotify ke Rusia

Pada Juli 2020, Spotify memperluas layanan streaming musiknya ke wilayah Rusia, yang mereka sebut sebagai pasar internasional dengan perkembangan musik paling cepat. Rusia menjadi salah satu dari 20 pasar streaming terbesar di dunia dengan budaya musik yang sangat kaya seperti yang disampaikan Wakil Presiden Spotify Gustav Gyllenhammar.

“Rusia memiliki budaya musik yang sangat kaya, dan untuk melayani pasar ini dengan baik, kami meluncurkan pengalaman yang dibuat khusus. Kedatangan Spotify di Rusia, serta 12 negara Eropa tambahan, merupakan langkah besar ke depan dalam strategi pertumbuhan global kami secara keseluruhan.” kata Gustav Gyllenhammar.

Dengan memperluas layanan streamingnya, peluncuran Spotify di Rusia akan membuka pintu bagi 250 juta pengguna untuk mendengarkan musik baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pada saat yang sama, Spotify juga meluncurkan layanannya di wilayah lain, yaitu Albania, Belarusia, Bosnia dan Herzegovina, Kroasia, Kazakhstan, Kosovo, Moldova, Montenegro, Makedonia Utara, Rusia, Serbia, Slovenia, dan Ukraina untuk menikmati pengalaman bmendengarkan musik yang mencakup 50 juta lagu, 4 miliar daftar putar, dan fitur personalisasi musik yang dilokalisasi.

Baca juga: Konflik Rusia-Ukraina, PBB: Laporan Kematian Tertunda, Jumlah Korban Sebenarnya Jauh Lebih Tinggi

Berdasarkan data dari statista.com, pendapatan pasar streaming musik di Rusia pada tahun 2018, posisi pertama ditempati oleh Apple Music, sebesar 28 persen. Dua pemain besar lainnya di segmen tersebut adalah layanan streaming musik dari situs jejaring sosial terbesar di Rusia Vk.com, Boom.

Kemudian di posisi selanjutnya ada layanan streaming audio Yandex Music, yang sahamnya tercatat di bawah 26 persen, dan disusul YouTube Music, sebesar 5,2 persen.

Pada tahun itu, platform streaming musik di Rusia memperoleh total 4,7 miliar rubel Rusia dari model pendapatan iklan dan langganan berbayar. Hal ini tentunya menggiurkan minat penyedia layanan streaming musik di dunia untuk mengembangkan bisnisnya di Rusia.

Spotify dan Apple Music didesak tunjukkan dukungan

Anggota komunitas musik Ukraina mendesak platform streaming musik seperti Apple Music dan Spotify untuk mengizinkan artis negara tersebut berbagi pesan politik di kedua platform itu sebagai tanggapan atas invasi Rusia ke Ukraina.

Baca juga: Diblokir dari Sistem SWIFT, Rusia Siapkan Alternatif Untuk Pembayaran di Pasar Internasional

Musisi Ukraina berusaha untuk memanfaatkan platform streaming digital untuk menyampaikan kejadian dan peristiwa yang terjadi di negara mereka kepada Rusia dan dunia. Permohonan serupa juga disampaikan salah satu promotor yang berbasis di ibu kota Ukraina Kyiv, H2D melalui akun Instagram resmi mereka dan meminta raksasa streaming seperti Apple Music dan Spotify untuk mengubah sikap "tidak ada politik dalam musik" mereka.

"Kami, artis Ukraina, ingin mengubah sampul album dan trek kami untuk menyampaikan informasi ini kepada pendengar kami dari Rusia dan di seluruh dunia. Tapi ini tidak mungkin sekarang, karena platform streaming memegang posisi tidak ada politik dalam musik dan jangan lewatkan inisiatif kami. Musik tidak bisa lagi keluar dari politik," tulis H2D dalam unggahannya di akun Instagram resminya, h2d.concerts.

Namun, sayangnya layanan streaming musik seperti Apple Music dan Spotify memiliki aturan tertentu terhadap pesan politik yang disampaikan di platformnya. Buntut lain dari serangan ini adalah dibatalkannya tur dan konser di Moskow dan di Kyiv, salah satunya tur konser yang akan dilakukan oleh musisi dan mantan anggota One Directions Louis Tomlinson.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved