Produsen Ponsel Xiaomi PHK 900 Karyawan Usai Pendapatannya Turun 20 Persen

Pendapatan perusahaan Xiaomi mengalami penyusutan sebanyak 20 persen atau setara 70,2 miliar yuan.

Gizmochina
Markas Xiaomi di Kota Wuhan, China. Melemahnya ekonomi China di tengah memanasnya gejolak inflasi pasar global lantas mendorong turun minat beli masyarakat China, hingga membuat sejumlah industri elektronik khususnya dari segmen smartphone mencatatkan penurunan pendapatan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.Com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – Produsen smartphone asal China Xiaomi dilaporkan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 900 karyawan, usai pendapatan perusahaan mengalami penyusutan sebanyak 20 persen atau setara 70,2 miliar yuan.

Adanya kebijakan pembatasan wilayah atau zero covid akibat melonjaknya wabah virus corona telah membuat pertumbuhan ekonomi China selama kuartal kedua tahun 2022 anjlok drastis, dimana produk domestik bruto (PDB) negeri tirai bambu ini hanya tumbuh sekitar 0,4 persen.

Angka ini bahkan jadi yang terendah apabila dibandingkan dengan PDB kuartal pertama 2020, ketika wabah virus corona menutup sebagian besar negara itu, mengutip dari Mashable.

Baca juga: Sukses Bikin Ponsel, Xiaomi Bersiap Bikin Mobil Listrik Bareng BAIC

Melemahnya ekonomi China di tengah memanasnya gejolak inflasi pasar global lantas mendorong turun minat beli masyarakat China, hingga membuat sejumlah industri elektronik khususnya dari segmen smartphone mencatatkan penurunan pendapatan.

Seperti pendapatan Xiaomi yang ambles 28,5 persen hanya dalam kurun waktu satu tahun terakhir, dari 59,1 miliar yuan menjadi 42,3 miliar yuan.

Dalam laporan yang dirilis Xiaomi, merosotnya pendapatan raksasa smartphone ini mulai terjadi usai permintaan produksi ponsel pintar besutan Xiaomi turun sebanyak 26,2 persen.

Alasan inilah yang membuat Xiaomi nekat melakukan PHK massal demi mengurangi pembengkakan pengeluaran ditengah krisis pendapatan.

"Pada kuartal ini, industri kami menghadapi banyak tantangan, termasuk meningkatnya inflasi global, fluktuasi valuta asing dan lingkungan politik yang kompleks," kata presiden Xiaomi Wang Xiang.

Sebelum melakukan aksi PHK massal, pada 30 Juni kemarin Xiaomi diketahui sempat memiliki tenaga kerja tetap sejumlah 32.869 karyawan, dengan 30.110 karyawan berasal dari China sementara sisanya merupakan karyawan dari Xiaomi di pabrik India dan Indonesia.

Namun imbas perlambatan ekonomi di China, Xiaomi terpaksa mengikuti langkah para perusahaan teknologi lainnya yang telah lebih dulu memangkas jumlah karyawannya, seperti Apple yang telah memberhentikan 100 pekerja kontrak sementara Tencent Holdings, raksasa video game dan media sosial pada minggu ini dikabarkan tengah memangkas jumlah karyawannya sebesar 5.000 pekerja.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved