Satelit Elon Musk Masuk RI, Nasib Operator Seluler Bakal Padam? Budi Arie: Ini Revolusi Digital
Hadirnya satelit internet Starlink harus dipandang sebagai menjadi revolusi digital.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
"Sama PT Telkom, ini kan B2C, langsung ke konsumen, tapi kalau bukan perusahaan berbadan hukum di Indonesia mana boleh. Jadi, harus bikin perusahaan berbadan hukum di Indonesia," sambung Budi Arie.
Operator seluler eksisting seperti XL Axiata dan Indosat Ooredoo Hutchison mengkhawatirkan kehadiran Starlink bakal mematikan bisnis mereka yang sudah dilakukan sejak lama.
Mereka meminta pemerintah untuk turun tangan dan membuat iklim usaha industri telekomunikasi Indonesia berimbang seiring dengan adanya Starlink.
Rencana Satelit Low Earth Orbit (LEO) Starlink untuk menyediakan akses internet secara langsung ke masyarakat Indonesia juga mendapatkan dukungan penuh dari Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.
Menko Luhut sempat bertemu Elon Musk beberapa waktu lalu di antaranya membahas investasi Starlink di tanah air.
Purnawirawan TNI bintang empat itu memastikan Starlink berpotensi untuk masuk wilayah Indonesia untuk membantu ketersediaan akses internet di wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur telekomunikasi di darat.
"Kami juga berdiskusi terkait ketertarikan Elon untuk bekerjasama membangun jaringan internet murah di timur Indonesia lewat satelit Starlink-nya yang populer itu," ujar Luhut dalam postingan akun Instagramnya.
"Saya sampaikan bahwa manfaat yang ditimbulkan jika Starlink beroperasi di Indonesia amat besar, misalnya; infrastruktur kesehatan seperti akses internet di Puskesmas daerah terpencil bisa membantu tenaga kesehatan melaporkan data-data faskes secara real time," tuturnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang juga bertemu dengan Elon Musk meminta untuk menyediakan akses internet untuk Puskesmas di daerah Terpencil, Terdepan, dan Terluar (3T).
Elon Musk pendiri Tesla Inc kabarnya akan menyambangi Indonesia pada Oktober 2023 sebagai realisasi investasi Starlink.
Dongkrak Konsumsi Telkomunikasi
Peneliti dari Center of Digital Economy and SMEs Indef Nailul Huda menilai satelit internet memiliki biaya operasional yang tidak murah dibandingkan serat optik dan internet BTS.
Sehingga ongkos besar itu menjadi beban bagi konsumen.
"Biaya operasional Satelit yang mahal dan sedikitnya kompetitor akan berimplikasi pada biaya untuk konsumen. Biaya langganan akan lebih mahal dibandingkan yang ada sekarang," kata Nailul kepada Tribun Network, Rabu (13/9/2023).
Dia menuturkan konsumen tentunya akan memilih tarif internet yang terjangkau dengan kecepatan koneksi wajar.
"Maka saya rasa konsumen kita akan memilih harga sesuai dengan willingness to pay konsumen. Dengan demikian bisnis internet BTS dan serat optik masih tetap ada ceruk pasarnya sendiri," tuturnya.
Daftar Orang Terkaya di Setiap Negara 2025: Di AS Ada Elon Musk, Indonesia Punya Low Tuck Kwong |
![]() |
---|
Pemerintah Diminta Selektif Pilih Mitra KSO untuk Tingkatkan Produktivitas Sawit |
![]() |
---|
Menkop Budi Arie: 104 Kopdes Sudah Beroperasi |
![]() |
---|
HUT Ke-80 Republik Indonesia, Menkop Budi Arie Maknai Kebangkitan Kembali Koperasi |
![]() |
---|
Menkop Budi Arie Sebut Kebangkitan Koperasi Jadi Kado Terindah HUT RI 80 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.