Waktunya Muda Mudi Dapat Wawasan
Fitur AI Grok Disalahgunakan, Ini Cara Lindungi Foto Pribadi dari Digital Undressing
Hadirnya fenomena ini tentu memunculkan suatu pertanyaan. Teknologi makin maju, kok etika penggunanya masih ada yang ketinggalan, ya?
TRIBUNNEWS.COM - Belakangan ini, fitur AI di media sosial X (sebelumnya Twitter) menuai kontroversi. Sejumlah pengguna kedapatan nge-mention ‘Grok’ untuk memanipulasi foto user lain tanpa izin.
Ada yang diedit mengenakan bikini, dilepas hijabnya, hingga “dilepas pakaiannya” secara digital. Mirisnya, korban dari aktivitas ini bukan hanya perempuan saja, tetapi juga anak-anak.
Fenomena ini dikenal dengan istilah digital undressing, yakni penyalahgunaan teknologi AI untuk merekayasa foto seseorang hingga terlihat seperti konten seksual eksplisit. Padahal, visual yang dihasilkan sepenuhnya palsu dan tidak pernah terjadi di dunia nyata.
Ironisnya, proses manipulasinya terbilang mudah. Cukup dengan prompt sederhana dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, Grok mampu mengubah foto selfie biasa, foto liburan, bahkan outfit check seseorang menjadi konten deepfake dalam hitungan detik.
Di titik ini, digital undressing enggak bisa lagi dilihat sebagai sekadar uji coba teknologi. Aktivitas ini jelas masuk ke ranah pelecehan seksual berbasis teknologi sekaligus melanggar privasi atas tubuh seseorang.
Efeknya pun enggak bercanda. Korban dapat mengalami tekanan mental, kehilangan rasa aman, hingga pencemaran nama baik. Padahal, itu adalah ulah seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Hadirnya fenomena ini tentu memunculkan suatu pertanyaan. Teknologi makin maju, kok etika penggunanya masih tertinggal, ya? Kenapa AI yang awalnya dihadirkan sebagai alat bantu, malah disalahgunakan menjadi instrumen kekerasan digital?
Baca juga: Grok AI Tak Punya Sistem Cegah Konten Asusila, Komdigi Ancam Akan Putus Akses X
Cara Mengatasi Digital Undressing
Sejatinya, enggak ada cara yang benar-benar menjamin foto pribadi kita aman dari manipulasi AI seperti Grok. Tapi, risiko penyalahgunaan oleh oknum tidak bertanggung jawab bisa kita minimalisir.
Bagi pengguna platform X, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi potensi penyalahgunaan foto pribadi. Langkah-langkah ini memang tidak bersifat mutlak, tetapi setidaknya dapat memperkecil peluang foto dimanfaatkan tanpa izin.
- Matikan izin data sharing untuk Grok. Caranya dengan membuka menu Settings, memilih sub-menu Grok, lalu hapus centang pada opsi yang mengizinkan platform menggunakan postingan, interaksi, dan data pengguna untuk melatih model AI Grok.
- Ubah akun menjadi private. Makin terbatas akses terhadap unggahan pribadi kamu, makin kecil pula risiko foto digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
- Penggunaan tools anti-AI seperti PhotoGuard juga dapat menjadi alternatif. Teknologi ini menambahkan noise tertentu pada gambar sehingga menyulitkan sistem AI untuk mengedit foto secara mulus.
Sebagai langkah tambahan, kamu bisa menyematkan watermark pada foto untuk menegaskan kepemilikan sekaligus menjadi penanda bahwa konten tersebut bukan untuk digunakan tanpa izin.
Meski demikian, persoalan deepfake seksual ini enggak bisa cuma dibebankan ke individu saja. Risiko yang ditimbulkan, khususnya bagi perempuan dan anak, menuntut kehadiran negara dan platform digital untuk bertindak lebih tegas.
Sejumlah negara pun mulai mengambil langkah konkret. Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital melakukan pemutusan akses sementara akses chatbot AI ‘Grok’ sejak Sabtu (10/1/2026). Langkah ini kemudian disusul oleh Malaysia yang juga turut memblokir akses platform AI milik Elon Musk tersebut pada Minggu (11/1/2026).
Otoritas Prancis pun tak tinggal diam. Meski belum mengumumkan secara resmi pemblokiran akses sementara, Pemerintah setempat secara aktif memantau dan menyelidiki pembuatan konten deepfake seksual oleh Grok.
Sementara di India, pemerintah meminta platform X untuk segera menghapus konten bermasalah serta menyerahkan laporan tindakan resmi dalam waktu 72 jam sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Dari kasus ini, kita kembali diingatkan bahwa teknologi tidak pernah sepenuhnya netral. Tanpa kontrol, regulasi, dan kesadaran nilai-nilai moral, inovasi secanggih apa pun dapat berubah menjadi alat yang merugikan, bahkan mampu melukai orang lain di ruang digital.
Baca juga: Mengenal Kedigdayaan Grok 3, Chatbot Milik Elon Musk yang Diklaim Punya Penalaran Kuat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-sensitive-content.jpg)