Selasa, 2 Juni 2026

Pemahaman Etika AI dan Literasi Digital Senjata Penting Melawan Kejahatan Deepfake

Praktik penipuan deepfake untuk memangsa korbannya dengan memanfaatkan kecanggihan AI belakangan marak dikeluhkan.

Tayang:
Tribunnews.com/Jeprima WD
TERSANGKA DEEPFAKE - Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen. Pol. Himawan Bayu Aji bersama Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko dan perwakilan dari Komdigi saat menggelar konferensi pers dugaan tindak pidana penipuan dengan memanfaatkan aplikasi Deepfake AI di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (7/2/2025). Dari praktik jahat ini para tersangka meraup pendapatan Rp65 juta. 

Berbagai metode tengah dikembangkan, seperti penandaan digital (digital watermarking), penyisipan pola tersembunyi pada gambar, serta teknik deteksi berbasis pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi konten yang dihasilkan atau dimanipulasi oleh AI.

Sejumlah solusi inovatif pun terus dikembangkan para pemimpin teknologi untuk membantu mendeteksi dan memitigasi risiko konten palsu berbasis AI. IBM, misalnya telah berkontribusi melalui kemitraan global dengan Reality Defender untuk mendeteksi konten suara, video, dan gambar yang dimanipulasi dalam skala besar.

Catherine bilang, IBM juga mengembangkan Granite Guardian, model yang dirancang untuk memitigasi risiko generative AI di lingkungan perusahaan, termasuk prompt berbahaya dan respons yang berpotensi merugikan.

Selain itu, kolaborasi antara pemerintah dan swasta menjadi kunci dalam membangun ekosistem AI yang aman dan tepercaya. 

Di tengah meningkatnya ancaman deepfake di Indonesia, pemanfaatan AI secara bijak menjadi tanggung jawab bersama yang didukung oleh literasi, arah regulasi, dan teknologi yang tepat. (fin)

caption:

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved