Sabtu, 6 Juni 2026

Wisata Kalsel

Legenda Nini Randa dan Kembang Barenteng, Bunga Khas Kalimantan Selatan

Keberadaan kembang barenteng ini hingga menjadi bagian dari kebudayaan Banjar sejak ratusan tahun lalu. yaitu Nini Randa.

Tayang:
Editor: Mohamad Yoenus
Banjarmasin Post/Yayu Fathilal
Kembang Barenteng, bunga khas Kalimantan Selatan yang bisa ditemui di pasar-pasar tradisional. 

Laporan Wartawan Banjarmasin Post/Yayu Fathilal

TRIBUNNEWS.COM, BANJARMASIN - Kembang Barenteng adalah rangkaian bunga khas Kalimantan Selatan.

Biasanya dipakai untuk keperluan ritual keagamaan, kematian, pernikahan hingga menyambut pejabat penting.

Ada juga segelintir kalangan yang menjadikannya oleh-oleh.

Namun di balik itu, ada legenda tentang sejarah atau asal usul keberadaan Kembang Barenteng ini hingga menjadi bagian dari kebudayaan Banjar sejak ratusan tahun lalu.

Kembang Barenteng adalah rangkaian bunga-bunga segar terdiri dari mawar, cempaka, melati, kenanga, kembang kuning dan bunga kertas.

Konon, legenda asal usulnya hidup di kalangan para perajinnya atau dalam bahasa Banjar disebut parentengan di kawasan Jalan Pangeran Hidayatullah, Kelurahan Pangambangan, Kecamatan Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Para parentengan yang sudah senior di sana sangat hafal dengan kisah legenda ini.

Seperti dituturkan Sabariyah, salah satu parentengan di sana.

Dulu, ada seorang puteri kerajaan bernama Nini Randa.

Karena ada masalah, dia terusir dari kerajaan, lantas hidup di hutan.

Hutan itu luas dan dipenuhi bunga atau kembang berbagai jenis yang kemudian disebut Pangambangan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia lantas membuat rangkaian bunga tersebut lalu dijualnya ke para bangsawan.

"Konon, dulu lokasi kerajaan ada di Masjid Raya Sabilal Muhtadin situ. Nini Randa naik perahu jualan ke dekat situ. Rangkaian bunganya disukai para bangsawan itu dan laku keras," ujarnya.

Karena disukai kaum bangsawan, rangkaian bunga itu kemudian kerap dipakai mereka dalam berbagai upacara hingga kemudian menjadi sebuah budaya yang lantas ditiru oleh rakyat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved