Wisata Yogyakarta
Pasar Sore Ramadan Kauman, Bermula dari Tiga Pedagang
Awalnnya hanya tiga orang yang menjajakan lauk pauk di sore hari pada bulan Ramadan
Makanan khas yang rasanya manis dan gurih ini menjadi salah satu menu favorit di bulan Ramadan.
Ketika dimakan, kicak akan terasa lembut dan manis.
Taburan parutan kelapa menambah rasa asin dan gurih dengan aroma buah nangka dan daun pandan.
Satu porsi kicak, terdapat dua potong jadah berukuran kecil yang dibungkus dalam plastik mika.
Paduan warna putih dari ketan dan parutan kelapa, warna kuning dari buah nangka, dan warna hijau dari daun pandan menggugah selera pembeli.
Satu porsi kicak dihargai Rp 2.500.
Selain kicak, ada juga beragam jajanan pasar khas Jawa, sperti clorot, carang gesing, garang asem, martabak, tahu, sus, agar-agar, hingga aneka minuman segar untuk buka puasa.
Tidak hanya jajanan sejumlah lauk seperti aneka pepes ikan, udang goreng tepung, berbagai sayur juga terseia di sini.

Pedagang melayani pembeli di Pasar Sore Ramadan Kauman. (Tribun Jogja/Hamim Thohari)
Pasar Sore Ramadan Kauman terbuka bagi siapa saja yang ingin berjualan.
Setiap pedagang yang berjualan dipungut biaya Rp 150 ribu untuk satu bulan.
Uang tersebut digunakan panitia untuk pengadaan lapak, listrik, meja, dan biaya kebersihan.
“Nantinya jika uang tersebut sisa akan masuk ke kas RW,” tambah Chawari.
Pasar sore Ramadan Kauman selain dikunjungi warga yang mencari makanan untuk berbuka puasa, pasar tersebut juga dikunjungi wisatawan asing yang bekunjung ke Yogyakarta.
Karena keberadaanya yang sudah cukup lama, Pasar Sore Ramadan Kauman menjadi salah satu tujuan wisata selama Ramadan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pasar-kauman_20150618_193159.jpg)