Arief Yahya Janji Bikin Digital Environment di Solo
Tak seperti biasa, suasana batin Menteri Pariwisata Dr Ir Arief Yahya MSc kali ini agak beda
TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Tak seperti biasa, suasana batin Menteri Pariwisata Dr Ir Arief Yahya MSc kali ini agak beda.
Biasanya pidato tak lebih dari 7,5 menit, tapi di Pembukaan International Creativity Cities Conference (ICCC) yang gongnya ditabuh di Benteng Vastenberg Solo ini minta izin berbicara lebih dari 15 menit di atas panggung kesenian terbuka. Ada angin apa ini?
“Maaf, saya ngomong agak panjang. Karena kebetulan, Doktor saya ya tentang creative industry ini. Kita berada di Solo, kota sejarah, kota budaya, kota heritage, kota kreatif, dan kota pariwisata. Kalau soal cultural and creative, saya tidak meragukan Solo, saya tidak khawatir kehabisan stok ide. Saya tak akan mengajari katak berenang. Orang Solo sudah sangat kreatif, punya 56 kalender event, dan itu berarti setiap Minggu ada festival. Itu adalah jumlah kalender event terbesar di Indonesia saat ini,” urai Menpar Arief Yahya, mengawali sambutan di heritage Vastenberg, pusat kota Solo itu.
Atmosfer kreatif, berbasis budaya Jawa sudah terasa sejak Jalan Jenderal Sudirman sebelum masuk ke perempatan patung Slamet Riyadi itu.
Kawasan yang dulu mangkrak dan tidak terurus itu, kini menjadi pusat arena kegiatan ICCC and Expo dari 22-25 Oktober 2015. Pentas music bambu, peralatan kentongan, background stage penjor bambu, rangka double LCD bambu, kreasi kampus STSI Kentingan Solo itu menjadi pembuka yang bernuansa artistik.
Koridor masuk, 100 meter, dari Jalan Raya menuju ke mulut pintu utama Benteng peninggalan Belanda itu pun sudah dirias serba bambu.
Pergola untuk melilitkan plafond kain kuning disokong bamboo kiri kanan. Kanvas panjang kiri-kanan sepanjang koridor masuk dibingkat dengan bambu, sampai di bawah karpet merah menuju pintu masuk dilapisi gedhek anyaman bambu. Semua terlihat direncanakan dengan matang.
Mantan Dirut PT Telkom ini mengapresiasi inisiasi Kota Solo, yang menjadi tuan rumah International Creative Cities Conference (ICCC) and Expo ini.
Dia juga merespons positif pada 60 daerah dari jejaring Kota Pusaka yang juga diundang, dan akan turut mendeklarasikan Kota Kreatif itu. Termasuk empat kota inisiator lain yang sudah siap, Bandung, Jogja, Pekalongan dan Denpasar.
Perang Bharatayudha-nya gelombang keempat revolusi industri itu, kata Arief Yahya, ada di era cultural industry. Jika dulu kala diawali dengan pertarungan di era agriculture (pertanian), lalu manufacturing (produksi, pabrikasi, mekanisasi), dan era teknologi informasi (The Third Wave Alvin Toffler).
Maka, ujung dari pertempuran revolusi itu adalah cultural industry. Industri yang berbasis pada budaya. “Di sini ada creative economy (ekonomi kreatif), dan pariwisata. Saat ini sebenarnya kita sudah masuk di era creative ini.
Pertarungan final dan global itu sudah dimulai sekarang,” papar dia meminjam istilah entrepreneur Peter Dracker
Soal kapasitas kemampuan berkreasi, Arief Yahya mengakui, Solo sudah sangat siap. Komunitas kreatifnya sudah kuat. Sudah akan mendeklarasikan kota kreatif. Track nya sudah betul mendesain kota sebagai kota kreatif. Tetapi, itu saja belum cukup, karena itu kalau disuruh menilai, angkanya masih C.
Mendengar huruf itu, seluruh audience di open space itu terdiam, saling memandang satu sama lain, bisik-bisik terdengar, “Kok mung C yo? (Kok cuma C ya?, red). Kok tidak B atau A? Padahal panitia sudah merasa habis-habisan menyiapkan acara ini?” gerutu mereka.
Nah, untuk mendapatkan nilai B dari Menpar Arief Yahya, Walikota Solo dan seluruh stakeholder harus mendukung, dengan menyiapkan tempat yang kita namakan incubator. Tempat untuk membesarkan karya-karya kreatif dari creators Solo. Inkubasi ini dibagi dua, pertama creative camp dan kedua creative center.
“Creative camp itu untuk menampung anak-anak muda, yang masih amatir, masih mencari bentuk, masih belajar, atau yang sudah jadi tapi menginginkan karya seni sebagai seni saja. Tidak mau dikomersialisasi dan dikemas di pasar dunia sebagai produk kreatif,” ungkapnya.
Sedangkan di kamar Creative Center, berkumpul mereka yang sudah dipasarkan, dipromosikan, dikemas, dikomersialisasi, agar menghasilkan benefit dan menguntungkan secara finansial.
“Jadi yang idealis, dan seni hanya untuk seni, ada kamarnya. Yang professional, yang karya seninya siap dijual, dikumpulkan dalam kamar yang berbeda. Kalau sudah punya tempat, ada dua kamar, ada para creator, maka nilainya baru naik menjadi B,” jelas Arief Yahya, yang masih saja disambut bengong.
Nah, kalau ingin poin A, lanjut Arief Yahya, setelah proses inkubasi itu berlangsung, selanjutnya ditambah dengan sentuhan komersialisasi. Tentu berbasis digital, dengan aplikasi teknologi yang bisa membuat diakses secara global, di seluruh dunia.
“Jadi karya kebudayaan atau cultural industry itu harus dikreasi agar memberi dampak ekonomi yang konkret, buat Solo dan Indonesia,” tegasnya.
Kelak, tugas daerah adalah menjaga atmosfer kota kreatif, dengan memberikan ruang kepada para creator untuk berkarya. Badan Ekonomi Kreatif (BKRAF) yang membangun inkubator-inkubator, creative camp dan creative center. Kemenpar yang mengkomersialisasi dengan digital, teknologi dan mempromosikan secara global. “Solo ini akan kita jadikan percontohan, untuk digital environment,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/arief-yahya-dikediaman_20150828_025534.jpg)