Bisha'h, Ritual dari Mesopotania Kuno yang Dipercaya Bisa Mendeteksi Kebohongan
Sebuah suku Badui di Timur Laut Mesir mempunyai tradisi yang unik sekaligus ekstrim untuk mendekteksi sebuah kebohongan.
TribunTravel.com/ Gigih Prayitno
TRIBUNNEWS.COM - Sebuah suku Badui di Timur Laut Mesir mempunyai tradisi yang unik sekaligus ekstrim untuk mendekteksi sebuah kebohongan.
Suku yang bernama Ayaidah ini adalah suku terakhir yang mempraktekkan Bisha'h, sebuah ritual kuno yang digunakan untuk menentukan apakah seorang tersangka dalam kejahatan bersalah atau tidak bersalah.
Ritual Bisha's sebenarnya cukup sederhana namun sangat ekstrim dan berbahaya, sehingga banyak negara yang meninggalkan ritual ini seperti Yordania dan Arab Saudi.
Dengan ritual ini, seseorang harus menjilat sendok yang sangat panas di hadapan penguasa suku, apabila lidah mereka melepuh karena panas berarti orang tersebut bersalah.
Namun apabila lidah mereka tidak cidera, berarti orang tersebut tidak bersalah.
Pada peradaban Mesopotania kuno, Bisha's digunakan oleh sebagian besar suku di Mesir, Yordania dan Arab, namun saat ini hanya Suku Ayaidah yang menerapkan ritual ini.
Biasanya Bisha's banyak digunakan dalam situasi ketika dimana kejahatan dilakukan oleh seseorang namun tidak ada saksi seorangpun yang melihatnya.
Para tersangka harus menjilat sendok yang dipanaskan untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah, dan ketika sudah diputuskan bersalah atau tidak, putusan tersebut tidak dapat diganggu gugat.
Ritual Bisha's menggunakan prinsip apabila seseorang berbohong maka mereka akan menjadi gugup yang mengakibatkan mulut menjadi kering, sehingga lidah mereka akan dibakar oleh logam panas.
Namun apabila seseorang tidak berbohong, maka mereka akan menjadi rileks sehingga air liur di lidah akan melindungi dari logam panas tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bishah-sebuah-ritual-kuno.jpg)