5 Fakta Gestun Merupakan Tindakan Ilegal

Nyatanya gestun merupakan kegiatan ilegal. Bank Indonesia sendiri telah mengeluarkan peringatan bagi penyedia jasa gestun yang beredar.

5 Fakta Gestun Merupakan Tindakan Ilegal
Unsplash
Ilustrasi gesek tunai. 

Saat seseorang membutuhkan uang, segala cara akan selalu dicoba demi mendapatkannya. Mulai dari mencari pinjaman kerabat dekat, hingga mencairkan dana di penyedia jasa pinjaman mungkin menjadi langkah yang dipilih.  Salah satu yang sedang marak dilakukan adalah gesek tunai atau kerap disebut gestun. 

Sesuai sebutannya, gestun merupakan tindakan menggesek kartu kredit untuk mendapatkan uang tunai. Umumnya, kartu kredit akan di gesek pada mesin Electronic Data Capture (EDC) dan dianggap seakan pengguna memakai kartu kredit untuk berbelanja. Padahal, pengguna telah bersepakat dengan penyedia EDC untuk mendapatkan uang tunai dari transaksi tersebut. 

Sekilas, tindakan tersebut tidak bertentangan. Namun, nyatanya gestun merupakan kegiatan ilegal. Bank Indonesia sendiri telah mengeluarkan peringatan bagi penyedia jasa gestun yang beredar. Meski begitu, penyedia gestun masih marak beredar baik offline maupun online. Masih banyaknya peminat serta kemudahan melakukan tindakan ini membuat jasa gestun tetap bertahan. 

Lalu, apa saja fakta dibalik tindakan gestun? Berikut adalah beberapa penjelasannya:

1. Berbeda dengan tarik tunai

Jika mengira gestun sama dengan kegiatan tarik tunai, maka Anda salah. Tarik tunai sendiri dilakukan di bank atau ATM resmi. Dengan begitu, kegiatan Anda langsung tercatat oleh bank penerbit dengan biaya potongan yang ditentukan. Tak hanya itu, tarik tunai umumnya juga memberikan batasan penarikan.

Aturan pada tarik tunai itulah yang pada akhirnya justru membatasi beberapa pengguna. Biasanya, pengguna yang membutuhkan uang dalam jumlah besar sekaligus akan menerapkan sistem gestun karena tidak memberlakukan batasan penarikan dana. Begitu pun biaya berlaku, di mana para penyedia umumnya menerapkan potongan langsung 2-3% dari dana penarikan. Tentunya, angka yang lebih rendah dari proses tarik tunai. 

2. Menambah kerugian pengguna

Penawaran potongan dana yang cukup rendah tersebut akhirnya mengundang banyak pengguna gestun. Padahal, ada bahaya di balik tindakan tersebut.  Meski angka potongan saat penarikan dana rendah, pengguna tetap akan dikenakan biaya utuh saat penagihan kartu kredit. Hal inilah yang akan merugikan pengguna.  

Contoh kasusnya adalah saat "A" melakukan gestun dengan limit kartu Rp6 juta. Pengguna dan penyedia bersepakat gestun dengan potongan dana 2%, sehingga "A" akan mendapatkan tunai sebesar Rp5,88 juta. 

Halaman
123
Editor: Content Writer
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved