Akademisi Kritik Tarif Masuk TN Komodo Rp 3,75 Juta: Tak Ada Kaitan Biaya Masuk dengan Konservasi

Mulai Senin, 1 Agustus 2022, biaya masuk ke Taman Nasional (TN) Komodo melonjak menjadi Rp 3,75 juta.

Tribunnews/Irwan Rismawan
Wisatawan melakukan trekking di Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/3/2021). Mulai Senin, 1 Agustus 2022, biaya masuk ke Taman Nasional (TN) Komodo melonjak menjadi Rp 3,75 juta. Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mulai hari ini, Senin, 1 Agustus 2022, biaya masuk ke Taman Nasional (TN) Komodo melonjak menjadi Rp 3,75 juta.

Namun menurut sebagian kalangan, biaya masuk tersebuttidak masuk akal lantaran kelewat mahal. Mahalnya biaya masuk dikaitkan dengan biaya kontribusi konservasi yang dibebankan kepada penunjung yang bertandang ke Pulau Komodo dan Pulau Padar.

Guru Besar Pariwisata Universitas Trisakti, Prof Azril Azhari melihat tidak ada kaitannya antara kenaikan harga tiket masuk TN Komodo yang begitu mahal dengan urgensi konservasi.

"Tidak ada hubungan antara konservasi dengan kenaikan harga tiket karena konservasi biaya pemerintah anggarannya ada," ujar Azril saat dihubungi Tribunnews, Senin (1/8/2022).

Ia menilai biaya konservasi harusnya masuk ke Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah, ucap Azril, sudah menarik pajak dari masyarakat, sehingga biaya konservasi harusnya tidak lagi dibebankan kepada masyarakat atau calon pengunjung.

"Tidak bijak menyatakan bahwa untuk konservasi lahan kita butuh kenaikan harga tiket," kata Azril.

Baca juga: Peluncuran Aplikasi Manajemen Kunjungan ke Komodo Ditolak Warga, Apa Tanggapan Sandiaga?

Menurut Azril, pemerintah seharusnya menghitung secara rinci berapa daya dukung fisik atau physical carrying capacity (PCC) di Labuan Bajo. Diketahui, berdasarkan hasil kajian itu menunjukkan, kapasitas pengunjung yang ideal bagi TN Komodo sebanyak 219.000, maksimal 292.000 kunjungan per tahun.

"Itu dari mana rumusnya. Kok bisa dapat angkanya beda-beda. Sama saja seperti Candi Borobudur, kenapa beda? Padahal rumusnya sama. Kalau kita mau kaitkan konservasi hitung PCC, harus ada time in motion studies, berapa yang masuk dan keluar TN Komodo itu harus sama," imbuh Azril.

Baca juga: Mulai 1 Agustus 2022, Tarif Pelesiran ke Taman Nasional Komodo Naik Jadi Rp 3,75 Juta

Azril menyarankan, jika memang fokus terhadap konservasi, seharusnya dua pulau inti tidak boleh dikunjungi sama sekali, yakni Pulau Komodo dan Pulau Padar, sehingga habitat komodo tidak terganggu.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved