Blog Tribunners
CITIZEN Article
Cina Simbol Perlawanan
Hiruk-pikuk malam minggu di Jakarta masih berlangsung, bahkan baru saja dimulai ketika bus way yang membawa rom
Hiruk-pikuk malam minggu di Jakarta masih berlangsung, bahkan baru saja dimulai ketika bus way yang membawa rombongan kecil saya bersama dengan teman-teman Komite pembubaran satpol PP bergerak membelah jalanan. Malam ini saya, Tommy, Maruli, Donny, Sari, Nek Della, Wahidah memutuskan untuk berangkat lebih awal menuju Tangerang tepatnya ke perkampungan Cina Benteng.
Tidak ada persiapan khusus yang saya lakukan, selain membawa beberapa potong kaos dan membawa perangkat dokumentasi. Perjalanan kali ini adalah rangkaian untuk mendampingi warga menjelang eksekusi rumah mereka pada akhir April 2010.
Sabtu, 24 April 2010, Perjalanan ini dimulai dengan kendaraan umum,
agar dapat merasakan langsung betapa sulitnya akses menuju perkampungan
Cina Benteng. Setelah tiga kali berpindah bus way, perjalanan
dilanjutkan dengan naik angkutan umum sebanyak dua kali.
Sepanjang jalan yang saya lewati jalanan berdebu dan aroma bantaran sungai yang menyengat. Kondisi ini diperparah dengan penerangan jalan yang tidak memadai bahkan terkesan remang-remang sepanjang jalan.
Rombongan saya menuju posko masyarakat Cina Benteng yaitu sebuah
vihara paling tua di wilayah itu, Vihara Maha Bodhi. Tempat ini
dijadikan posko koordinasi warga korban penggusuran karena letaknya
yang cukup strategis dan tempat ini sudah biasa dijadikan tempat
berkumpul warga.
Memasuki Vihara bagi saya adalah sebuah pengalaman pertama, tempat ini bernuansa merah menyala, dengan aroma hio yang semerbak wangi setiap sudutnya. Lampion merah menggantung sepanjang ruangan depan vihara, sementara pilar-pilarnya didesain naga-naga besar dengan mata menyala.
Vihara ini dibangun pertama kali pada tahun 1830, ini adalah bangunan vihara tertua di daerah ini, atau bangunan tertua nomor tiga di Tangerang. Tempat ini dijadikan pusat kegiatan dan doa bagi tiga agama besar masyarakat keturunan Cina, yaitu : yakni Budha/Taoisme/Khonghuncu.Ditempat inilah warga Cina Benteng berkumpul untuk ronda dan berjaga-jaga sepanjang hari menjelang eksekusi rumah tinggal mereka oleh satpol PP Tangerang. Warga Cina Benteng tetap bersikukuh untuk mempertahankan lahan mereka di bantaran sungai Cisadane, karena ditempat itulah mereka lahir dan tinggal sejak nenek moyang mereka.
Di Vihara itu saya bertemu dengan beberapa warga yang sedang menggelar rapat persiapan aksi mereka menghadang kedatangan satpol PP. Saya melihat ini adalah perjuangan warga keturunan cina untuk pertama kalinya mereka melakukan perlawanan terhadap walikota Tangerang. “kami tidak melawan pemerintah, tetapi kami mempertahankan hidup kami”. Ujar salah satu warga. Malam ini, saya bersama mereka dalam satu aroma perlawanan terhadap ketidak adilan.
ASAL WARGA CINA BENTENGAsal nama Benteng berasal dari benteng yang didirikan Belanda di Timur kali Cisadane untuk mempertahankan diri dari serangan Banten yang ingin merebut wilayah sebelah timur kali Cisadane, yang termasuk Tangerang yang saat itu dikuasai VOC. Saat ini Banten sudah tidak ada lagi, tinggalah pemukiman Tionghoa yang awalnya berdiri di Pasar lama yang terkenal dengan Petak Sembilan yang ditandai dengan Kelenteng Boen Tek Bio. Orang-orang yang tinggal di dekat benteng itulah yang kemudian menamakan diirnya Cina Benteng. Setelah itu warga keturunan Thionghoa tersebar di pedesaan yang terletak diwilayah Tangerang dan Batavia. Setelah memperoleh izin dari VOC, orang-orang dari tiongkok datang ke wilayah sebelah timur kali Cisadane untuk membuka hutan belantara untuk mendirikan perkebunan tebu dan mendirikan pabrik gula, hal ini terjadi setelah 1682 (tahun perjanjian antara VOC dan Banten). Namun pada masa itu industri gula menurun pada 1730an, sehingga menyebakan pengangguran dan menyebakan tragedi pembantaian pada 1740. Setelah itu warga beralih menjadi petani padi hingga sekarang.
Minggu pagi, 25 April 2010, sejak pagi Vihara telah ramai dikunjungi anak-anak. Mereka berkumpul untuk belajar bersama dan bermain, kegiatan mereka beragam dari latihan tata cara ibadah, menyanyi bersama atau sekedar bercengkerama dengan sesama teman. Hari minggu menjadi saat yang hidup bagi vihara tersebut. Anak-anak menghabiskan waktu mereka disana, dengan bercanda dan bermain bersama, keceriaan mereka tak terganggu meskipun penggususran tengah menghantui kehidupan mereka.
Siang mulai beranjak ketika tiba saatnya untuk berkunjung ke pemukiman warga, kali ini tempat pertama yang saya datangi adalah wilayah Tangga Asem. Pemukiman warga yang diapit sunga Cisadane serta kuburan Cina ini, bisa dibilang perkampungan yang tak juga menguntungkan buat warga. Akses jalan menuju daerah teersebut adalah jalan tanah dan berdebu. Sepanjang perjalanan saya berpapasan dengan truk pembawa sampah yang meninggalkan aroma busuk luar biasa.
Bertemu dengan ibu Ani, perempuan tua berumur 65 tahun ini hanya termangu ditepi jalan bersama cucunya. Teror penggusuran itu telah mengubah kehidupannya menjadi was-was tiap saat. “ Saya tinggal disini sudah puluhan tahun, dan baru kali ini saja akan digusur. Mau kemana kalau rumah digusur..paling-paling pindah ke depan…” Telunjuknya mengarah pada kuburan cina di seberang jalan. Kuburan Cina itu berdiri amat megah diantara deretan rumah berdinding bambu dan beratap daun kelapa. Rata-rata rumah warga di Tangga asem masih seperti itu, berderet amat rapat sehingga tak jelas batas antar keluarga.
Siang itu beberapa warga berkumpul dan membahas persoalan penggusuran yang mereka alami. rata-rata kaum ibu berkumpul bersama anak-anaknya. Dari pembicaraan mereka, tersirat bahwa kekecewaan mereka terhadap walikota Tangerang mengemuka. Bahkan janji kampanye walikota beberapa waktu lalu menjadi angin surga saja bagi mereka. “Saya disuruh milih Wahidin saja waktu pilihan, katanya orangnya baik, suka menolong dan tak akan menggusur warga. Tapi apa buktinya….sekarang kita suruh pindah tanpa diberi tahu kemana…”.
Sore mulai merambat ketika saya bertemu dengan Ivana, arsitek lulusan Univedrsitas Indonesia itu datang atas undangan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH), membawa peta wilayah sepanjang bantaran sunga Cisadane. “Peta ini akan membantu kita untuk melihat wilayah kita tinggal, termasuk peninggalan bersejarah, aktivitas warga, kebudayaan dan tradisi yang ada. Peta ini akan membantu warga memetakan sendiri wilayahnya sebelum digusur”. Ujarnya. Hal ini menerik sekali menurut saya, bagaimana warga diajak untuk mengenali potensi wilayah mereka, dan memetakan kedaan daerahnya sendiri. Bahkan gambaran bagaimana mengatur wilayah mereka apabila tidak terjadi penggusuran kelak. Malam ini rapat digelar bersama warga untuk mempersiapkan penghadangan satpol PP pada penggusuran esok.
Senin, 26 April 2010 sejak pagi warga sudah berkumpul di Vihara Maha Bodhi, mereka sudah mempersiapkan diri untuk menunggu perintah dari koordinator warga seandainya penggusuran terjadi hari ini. Pagi ini saya bersama beberapa teman menelusuri sepanjang bantaran suanga Cisadane, salah satu tempat yang ingin saya kunjungi adalah rumah paling tua disana. Menurut warga tempat itu adalah bangunan paling tua dikampung itu.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.