Tribunners / Citizen Journalism
Hantu Wanita Melotot Seperti Mengusirku
RUPANYA anak-anak jin yang menunggui pepohonan kolang ka
RUPANYA anak-anak jin yang menunggui pepohonan kolang kaling di pinggir jembatan masih mengenaliku ketika usiaku sudah remaja menginjak baligh. Terbukti, saat aku melintas di jembatan penghubung dua desa yaitu Karang Gondang dan Karang Gedhe di kabupaten Boyolali Jawa Tengah, mereka masih tinggal di pohon itu.
Saya sebelumnya tidak mengira kalau mereka masih ingat dan bahkan menebar senyum saat aku melintasi jembatan. Bedanya, mereka, teman main waktu aku kecil itu, sekarang sudah lebih besar dariku.
Anak-anak jin (hantu) yang dulu tiga, kulihat hanya tinggal dua. Sebenarnya saat aku melintas di jembatan itu, aku merasa bahwa mereka ingin mengajakku bermain lagi seperti dulu. Tapi entah mengapa mereka justru bersembunyi di belakang ibunya yang saat itu sedang berdandan.
Ibu hantu itu duduk bertelekan di atas pelepah daun kolang kaling yang posisinya lebih tinggi dan pohonnya besar. Ibu jin itu sesaat melihatku seperti kenal tapi matanya tampak keheranan.
Saya tidak paham apa yang mereka mau. Tapi mata ibu jin melotot melihatku. Ketika itu saya kelas tiga SMP hampir lulus, belum lama sunat (khitan).
Melintas di jembatan berukuran lebar 3 meter dan panjang 12an meter merupakan aktivitas sehari-hari warga dan juga saya untuk mandi ke sungai Samba yang berjarak sekitar satu kilo dari jembatan.
Saya masih ingat, waktu saya melintas adalah sepulang mandi dari sungai Samba untuk pulang ke rumah sekitar jam 7 malam. Hanya tinggal beberapa sepeda ontel yang masih lewat bahkan bisa dibilang sepi.
Ketika ibu jin (hantu) melihat saya, kelihatannya dia tidak berkata apa-apa. Ada gelagat mereka ketakutan karena anak-anak jin malah bersembunyi di belakang punggung ibunya.
Sengaja saya tidak membaca doa dan surat-surat pengusir jin sebagaimana diajarkan oleh guru ngaji. Tidak ada rasa takut atau kekhawatiran kalau para jin itu menyerangku. Bahkan sebenarnya saya rindu bercengkerama lagi dengan mereka dalam suasana lain.
Sesaat saya menghentikan langkah pas di atas jembatan itu untuk melihat mereka. Walau tampak seperti ketakutan ingin meninggalkan tempat duduknya di atas pelepah kolang kaling itu, tapi ibu jin (hantu) tidak beranjak. Aku tetap berdiri di pinggir jembatan Gandul berpegangan pagarnya. Tinggi jembatan itu sekitar 10 meter dari dasar sungai yang di bawahnya banyak bebatuan.
Tangan ibu jin (hantu) yang tadinya dipakai untuk berhias membetulkan rambutnya yang panjang terurai dan pakaian warna putih putih, tiba-tiba memegangi kedua anaknya. Saya tidak tau dan tidak bertanya kemana satu anak lagi karena seingatku dulu ada tiga.
Dan memang saya juga tidak bisa lagi berdialog dengan mereka karena ini dunia nyata, berbeda waktu kecil dulu pas saya terbaring sakit. Saya hanya diajari oleh guru ngaji bagaimana cara mengusir dan menjauhkan diri dari godaannya. Saat dulu kecil pun bisa bermain dengan mereka adalah bukan kehendakku.
Bahkan saat remaja bisa 'melihat' mereka bukan atas keinginanku dan memang tidak memiliki ilmu untuk itu. Saya merasa senang mengetahui bahwa keluarga jin itu masih tinggal di pohon kolang kaling. Tapi kulihat mereka tidak senang aku berada di jembatan itu. Karena kulihat mata ibunya seperti mengusirku.
Saya pun segera beranjak meninggalkan tempat itu bukan karena takut dengan keluarga jin yang dulu pernah kukenal itu. Tapi saya tidak ingin mengusik atau mengganggu ketenangan mereka. Walau guru ngaji mengajariku bagaimana mengusir mereka tapi hal itu tak kulakukan.
Kejadian ini kemudian saya ceritakan kepada guru ngaji, apakah boleh berteman dengan para jin. Bagaimana jika keluarga jin itu kuajak main ke rumah. Apakah mereka bisa membantu untuk berbuat sesuatu. Ternyata guru ngajiku itu melarang dan tidak merestui keinginanku untuk bersahabat dengan para jin. (bersambung)
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.