Tribunners / Citizen Journalism
Deep Learning ‘Sepatu Lama dalam Kardus Baru’
Istilah deep learning menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam ruang diskusi publik.

BAGI sebagian orang, khususnya insan pendidikan Indonesia, istilah deep learning menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam ruang diskusi publik.
Tidak sedikit yang beranggapan bahwa kemunculannya mampu menjawab tantangan pendidikan yang ada di Indonesia saat ini.
Kehadirannya seolah menjadi setitik cahaya terang di tengah meredupnya sinaran pendidikan bagi anak bangsa.
Namun, tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai produk lama yang dikemas dengan bungkus baru, alias ‘sepatu lama dalam kardus baru.’
Sebelum berdiskusi lebih lanjut, ada baiknya mengupas dulu apa itu deep learning? Apakah yang ditawarkan dalam pendekatan deep learning? Lalu, apa saja elemen komplementernya?
Mari kita kupas satu per satu.
Deep learning sejatinya adalah suatu pendekatan (approach) pembelajaran.
Pertama kali dikenalkan oleh Geoffrey Hinton pada 1980-an. Hinton sendiri merupakan seorang ilmuan di bidang komputer dan psikolog kognitif asal Kanada.
Dia terlibat aktif dalam mengembangkan penelitian berbasis Artificial Neural Networks (jaringan saraf tiruan).
Aktifitasnya ini kemudian mengantarkan dirinya menemukan dan memformulasikan deep learning.
Secara konseptual, deep learning (pembelajaran mendalam) dalam Kurikulum Merdeka bukanlah konsep yang sepenuhnya baru.
Akan tetapi, lebih pada pendekatan yang di-‘daur ulang’ dengan penyempurnaan sebagai respons atas kebutuhan pendidikan saat ini.
Deep learning dapat dianggap sebagai transformasi dari pendekatan sebelumnya dalam kurikulum nasional, yakni sientific approach.
Istilah deep learning sendiri di Indonesia mulai menjadi perbincangan dalam berbagai diskursus pendidikan.
Tepatnya sejak 2025, ketika Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) mulai mempopulerkan istilah tersebut. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di jenjang sekolah dasar dan menengah.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/proses-pembelajaran-tatap-muka-siswa-smp-n-9-semarang_20210504_130238.jpg)