Blog Tribunners
Memahami Agresivitas Mahasiswa Makassar
HATI terluka bak tersayat sembilu ketika mendengar berita, "dodo" mahasisw
Karena itulah perlu ada pemaknaan yang lebih dalam mengenai perbedaan dan konflik. Manusia setiap saat berhadapan dengan konflik. Konflik tidak selamanya negatif. Konflik memberikan kesempatan kepada manusia untuk belajar menghargai perbedaan. Konflik adalah medan subur untuk melatih kecerdasan kita secara keseluruhan, baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan sosial juga kecerdasan spiritual.
Konflik akan selalu hadir sering kehidupan manusia sebagai sunnatullah dan itu bukanlah sebuah kekeliruan. Harmoni bukanlah hidup tanpa konflik, tapi sejauh mana individu atau kelompok mengelolah konflik tersebut untuk tidak menjadi benturan, perilaku agresif dan kekerasan serta destruktif.
Karena itu berangkat dari persoalan diatas maka penulis berpikir bahwa sudah saatnya mahasiswa dibekali dengan kemampuan resolusi konflik mengingat rentangnya mahasiswa Makassar terlibat dalam berbagai peristiwa anarkis dan kekerasan yang sangat merugikan banyak pihak bukan saja pada mahasiswa yang bersangkutan, kampus itu sendiri, proses belajar mengajar, yang lebih penting lagi pada citra kota Makassar yang negatif di dunia luar.
Kemampuan komunikasi dan negosiasi menjadi skill penting yang perlu dimiliki mahasiswa untuk mencari titik temu atas sebuah miskomunikasi dan perbedaan. Komunikasi menjadi begitu penting untuk mempertahankan keutuhan rasa kesatuan. Komunikasi yang diharapkan dikembangkan oleh mahasiswa baik dalam masa resolusi terlebih dalam masa damai adalah komunikasi emphatic, yakni kemampuan verbal dan non-verbal untuk memberikan kesempatan pada orang lain untuk tetap merasa nyaman dengan segala kondisinya, sehingga orang tersebut tidak terbersit hatinya untuk menyerang dan menganggap kita sebagai lawan yang harus di hancurkan.
Komunikasi, tata bahasa menjadi sangat penting untuk dijaga, kerap kali dilupakan bahwa tugas kita bukan sekedar memenangkan kepentingan sendiri, bukan sekedar memuaskan libido oral kita, tapi kemenangan kita kepuasan kita tidak boleh menghilangkan rasa nyaman orang lain atau kelompok lain. Komunikasi yang empatik dan persuasive akan meredam kemarahan sementara komunikasi destruktif akan memicu provokasi dan agresif.
Penggunaan simbol-simbol kekerasan seperti pentungan, parang, badik, busur, bamboo runcing, lemparan batu dan sebagainya sebaiknya dihilangkan dari lingkungan kampus. Bahasa kampus adalah bahasa dialektika, komunikasi yang santun dan menempatkan perbedaan sebagai keniscayaan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.