Tribunners / Citizen Journalism
Rakyat Berharap atau akan Menagih Janji?
SEMUA orang berharap pada pemenang Pilpres 2009 untuk membawa perubahan kehidupan masyarakat lebih baik.
SEMUA orang berharap pada pemenang Pilpres 2009 untuk membawa perubahan kehidupan masyarakat ke arah lebih baik. Untuk itu dibutuhkan pemimpin yang punya visi ke depan yang mampu membawa perubahan menuju Indonesia baru yang bermartabat.
Setelah tumbangnya Orde Baru, belum ada presiden produk Orde Reformasi yang dalam kepemimpinannya menawarkan visi ke depan. Mau dibawa ke mana masa depan bangsa Indonesia, tidak jelas! Disinilah karakter kepemimpinan seseorang diperlihatkan.
Bangsa ini butuh pemimpin visioner, pemimpin yang punya visi ke depan yang mampu membawa perubahan, yang mampu mengembalikan kedaulatan martabat sebagai bangsa besar. Bangsa ini juga butuh pemimpin visioner yang juga memiliki wawasan dan visi kebudayaan. Bangsa ini juga butuh pemimpin yang punya gagasan strategi kebudayaan.
Sayangnya selama pemerintahan produk Orde Reformasi, dari nama-nama yang pernah memangku jabatan presiden belum secara tersirat melahirkan gagasan strategi kebudayaan. Sudah saatnya bangsa ini giliran dipimpin oleh pemimpin yang memiliki gagasan besar “Strategi Kebudayaan” untuk membawa perubahan bangsa ini menuju Indonesia baru yang siap menghadapi tantangan zaman glonalisasi. Tapi sayang harapan ini jauh api dari panggang.
Padahal mengenai pentingnya “Strategi Kebudayaan” ini pernah disinggung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka Munas ke 10 Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada, 4 tahun lalu. Presiden SBY sempat menyinggung perlunya disusun rumusan strategi kebudayaan untuk menjawab tantangan zaman di era globalisasi seperti saat ini.
Menurut SBY, strategi kebudayaan yang harus disusun ini tak lain adalah sebagai hasil perenungan, refleksi, kontemplasi mendalam dengan memahami hakekat kehidupan kebangsaan yang mengacu pada tujuan kita membentuk dan membangun negara. Karena keberadaan strategi kebudayaaan inilah yang nantinya akan menuntun dan mengarahkan bangsa ini kepada kepada suatu tujuan yang ingin dicapai, termasuk tahapan-tahapan yang harus kita dilalui dalam mencapainya.
Sebagai bangsa, Indonesia memerlukan gagasan-gagasan besar yang diharapkan mampu membawa ke arah kejayaan masa depan. Di tengah-tengah terpaan budaya asing yang masuk ke tanah air, budaya bangsa harus menjadi pilar utama dalam menangkal pengaruh negatif yang menyertainya.
Gagasan-gagasan besar macam apa, atau strategi kebudayaan macam apa yang diharapkan mampu membawa bangsa ini ke arah kejayaan masa depan? Ternyata gagasan-gagasan besar yang diharapkan saat diucapkan di Munas Kagama X, 4 tahun silam dan sampai menjelang masa pemerintahannya, belum juga ada wujudnya.
Janji perlunya strategi kebudayaan yang akan menjadi arah penuntun ke kejayaan masa depan, strategi kebudayaan yang mana? Dari sisi kesenian saja, kita semakin tidak berdaya menghadapi serbuan globalisasi budaya asing, apalagi menangkalnya. Padahal keberadaaan “Strategi Kebudayaan” inilah yang akan menuntun dan mengarahkan bangsa ini menjawab tantangan zaman di era globalisasi.
Nyatanya memasuki jabatannya yang kedua, SBY belum juga memenuhi janjinya yang diucapkan kala itu. Atau jangan-jangan pemimpin dan elit politik kita memang tidak mempersiapkan diri untuk mengantisipasi menjawab tantangan zaman. Atau jangan-jangan nakhodanya memang tidak punya “Strategi Kebudayaan” sebagai arah penuntun akan dibawa berlayar ke mana kapal negeri ini.
Semua itu memang tidak lepas dari sejauhmana pengembangan wawasan dan visi kebudayaan para pemimpinnya akan arti pentingnya strategi kebudayaan. Bagaimana bangsa ini akan mampu bersaing dengan bangsa lain kalau pemimpinnya tidak memiliki agenda strategi kebudayaan sebagai langkah dan dasar pijakan menapak masa depan menghadapi tantangan zaman di era globalisasi ini.
Sebegitu pentingkah rumusan strategi kebudayaan dalam menentukan arah mau dibawa ke mana masa depan bangsa ini. Di mana pemahaman kita tentang kebudayaan hendaknya tidak lagi hanya dibatasi oleh keartistikan benda-benda purbakala, kesenian tradisional, atau nilai-nilai budaya warisan leluhur. Tapi justru bagaimana meletakkan pengertian kebudayaan sebagai bentuk dinamika kreasi dari pola pikir, pola laku, daya cipta, daya saing dan budaya tanding untuk mengantisipasi menghadapi tantangan zaman era globalisasi.
Ketidaksiapan ini pada akhirnya harus ditebus dengan harga mahal, seperti hilangnya semangat kebangsaan, moralitas yang rusak, hingga lemahnya daya saing bangsa. Akibatnya, bangsa ini kehilangan martabat. Untuk itu, bagaimana mengembalikan lagi harkat dan martabat serta kehormatan rakyat, baik secara ekonomi maupun politik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Termasuk bagaimana bangsa ini mengembangkan nilai-nilai dari akar-akar budaya sebagai sumber kekuatan daya cipta, rasa dan karsa. Begitu pula, bagaimana menciptakan iklim kedamaian dan harmonis di tengah kehidupan dan budaya bangsa yang pluralistik.
Mengingat begitu luasnya cakupan pemahaman tentang kebudayaan, setiap orang pasti punya persepsi dan visi beragam mengenai kebudayaan. Mengacu pada kalimat, tidak ada kata terlambat. Sekarang tinggal bagaimana pemimpin negeri ini dan elit politiknya merumuskan strategi kebudayaan yang mampu membawa perubahan bangsa ini menuju Indonesia baru yang bermartabat. Atau setidaknya mau dibawa ke mana negeri ini. Rakyat berharap dan akan menagih janji!
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.