Kamis, 9 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Nyanyi Sunyi Matinya Pelaut Indonesia di Selat Hormuz

Sudah sebulan 3 pelaut Indonesia tewas di Selat Hormuz. Kabar ini tenggelam di balik gegap gempita amarah banyak pihak pasca kematian 3 serdadu TNI

Editor: Dodi Esvandi
HO/IST/dok.
TERTAHAN DI SELAT HORMUZ - Kapal tanker Gamsunoro milik Pertamina mengangkut kargo milik pihak ketiga (third party) dan kini masih tertahan di kawasan Selat Hormuz, Iran, menunggu situasi kondusif untuk bergeser meninggalkan kawasan Teluk. 

Oleh: Algooth Putranto 
Director of Community Evident Institute

Sudah sebulan tiga pelaut Indonesia tewas di Selat Hormuz

Kabar tragis ini tenggelam di balik gegap gempita amarah banyak pihak pasca kematian tiga serdadu TNI yang bertugas sebagai bagian Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon. 

Jadi pada 6 Maret 2026, para pelaut kita meregang nyawa ketika dua rudal menghantam kapal tunda (tugboat) Musaffah 2. 

Kapal berbendera Uni Emirat Arab (UEA) yang mereka awaki meledak dan tenggelam di perairan di antara UEA dan Oman.

Benar menjadi fakta bahwa representasi kita di UEA dan Oman yakni KBRI di Abu Dhabi dan KBRI Muscat langsung berkoordinasi secara intensif dengan otoritas setempat untuk mengawal proses pencarian ketiga WNI tersebut.

Mereka bahu membahu melakukan evakuasi dan repatriasi atau pemulangan jenazah pelaut Indonesia. 

Sisanya, nasib sial pelaut itu sayup di tengah hiruk pikuk konflik yang sedang terjadi. 

Tentu saja, jangan tanyakan atensi yang diberikan negara ini pada tiga pelaut sial tersebut.  

Justru terasa sunyi! Tragedi ini bahkan tidak dibahas sebagai sesuatu yang penting oleh Duta Besar Umar Hadi yang menjadi representasi kita di Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

Kematian sipil Indonesia seperti yang sudah-sudah ya serupa kaset kusut diputar ulang. 

Sekadar mengingatkan peristiwa kematian 12 warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam tragedi penembakan pesawat Malaysia Airlines MH-17 oleh milisi yang didukung Rusia di wilayah udara Ukraina pada 17 Juli 2014. 

Seperti kita tahu, sejarah mencatat Indonesia yang sebelumnya bisa bersikap garang pada Australia karena skandal penyadapan telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru memilih bersikap manis pada Rusia. 

Nah dalam peristiwa kematian tiga pelaut Indonesia di Hormuz, wajah Indonesia sungguhlah cantik lewat bahasa diplomatis yang sopan di Sidang Luar Biasa Dewan International Maritime Organization (IMO) ke-36 yang diselenggarakan pada 18–19 Maret 2026 di London, Inggris.

Hasilnya, yah bolehlah dijadikan catatan sejarah diplomasi maritim bahwa Indonesia, sebagai anggota Dewan International Maritime Organization (IMO) Kategori C berhasil mendorong disepakatinya Council Declaration di kegiatan tersebut.

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved