TRIBUNNEWS.COM - Pertigaan atau protelon kota Pecangaan
Jepara jika malam tiba merupakan pusat jajanan atau kuliner malam bagi
warga kota Pecangaan dan sekitarnya . Di pertigaan yang dulu dikenal
sebagai pertigaan karung goni ini jika malam tiba bertebaranlah puluhan
warung tenda yang menjual berbagai macam menu dari makanan kecil seperti
keripik singkong, kue Bandung dan Martabak.
Juga makanan berat
seperti sate gule kambing, lonthong sate ayam, Nasi goreng dan juga
lonthong tahu telur (LTT). Salah satu penjual kue martabak yang paling
terkenal dan lama mangkal di pertigaan ini adalah pak Muhammd Nor yang
setiap harinya mangkal mulai jam 4 sore sampai jam 11 malam .
Dengan
menggunakan kereta dorong panjang ia menggelar dan membuat dagangan
martabak yang dikenal orang asli dari negeri Hindustan India. Dengan
bahan baku tepung terigu, bumbu-bumbu, sayuran dan telur ia racik
martabak yang dulu ia pelajari dari majikannya dulu orang keturunan
India sebelum ia membuka sendiri. Terutama tekhnik pembuatan martabak
bagian luar yang terbuat dari tepung terigu dan juga bumbu yang membuat
martabak menjadi enak dan disukai pelanggan.
“ Sebelum saya membuka sendiri saya ikut
majikan selama beberapa tahun , setelah tekhnik pembuatan dan racikan
bumbu saya kuasai sayapun membuka usaha sendiri . Alhamdulillah sampai
sekarang saya jualan martabak sudah 40 tahun lebih karena saya ingat
saya kerja pertama kali tahun 1969 “, cerita pak M.Nor sambil membuat
martabak pesanan saya.
 |
| Pak Nor cekatan
meracik martabak |
Pak Muhammad Nor yang asli Tegal mengaku
, sebelum mangkal di Pecangaan kurang lebih 10 tahun ini ia telah
melanglang buana ke berbagai kota di pulau Jawa untuk nunut hidup
berjualan martabak , namun yang paling lama ya di kota Pecangaan ini .
Meskipun kotanya kecil , namun minat warga kota ini akan makanan
martabak tetap stabil sehingga kondisi ramai atau sepi permintaan
konsumen tetap biasa oleh karena itu ia kerasan di kota ini. Meskipun
seminggu atau dua minggu sekali harus menengok keluarga ke Tegal namun
hal itu bukan masalah yang menganggu asalkan usahanya jalan terus karena
itu satu satunya usaha untuk menghidupi keluarga. Di Pecangaan ini ia
ngekos , semua pekerjaan ia kerjakan sendiri mulai menyiapkan bahan baku, meracik bumbu sampai dengan membuat martabak untuk para pelanggannya
yang setiap malam datang di lapaknya.
Namun demikian ia mengaku
bersyukur meski harus jauh dari keluarga namun setiap hari ia bisa
mendapatkan penghasilan yang lumayan , untuk membiyai kebutuhan keluarga
dan juga menyekolahkan anak-anaknya.
 |
| Piagam dari Al-
Marjan |
“ Ya gimana ya dikatakan berat ya berat
ringan ya ringan karena jauh dari keluarga , namun bagi saya ini saya
syukuri karena dengan berjualan disini saya dapat penghasilan yang dapat
untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dan menyekolahkan anak-anak “,
ujar pak M. Nor yang mengaku anggota Asosiasi Penjual Martabak dan
Jajanan ( Al- Marjan) kabupaten Tegal .
Pengalaman yang cukup lama berjualan
martabak inilah yang membuat pak Nor mendapat undangan dari Al - Marjan
dan pemerintah daerah Tegal untuk pemecahan rekor MURI membuat Martabak
Telor terbesar di Indonesia yang diselenggarakan pada tahun 2008 yang
lalu.Dia dan kawan-kawannya itu membuat martabak telor dengan ukuran
jumbo yang setelah jadi di beli oleh Bupati atas nama pemerintah daerah
Tegal yang kemudian martabnak itupun dibagi-bagikan secara beramai-ramai
kepada warga kota yang menyaksikan acara pemecahan rekor ini. Selain
itu dengan adanya asosiasi itu setiap tahun sekali ada acara pertemuan
yang dihadiri oleh pedagang-pedagang martabak Tegal yang menyebar di
seluruh wilayah Indonesia .
Ketika ditanya jenis martabak yang ia
jual , Pak Nor mengatakan ia menjual martabak dengan harga bervariasi
tergantung dengan keinginan konsumen dari harga Rp 8.000,- - Rp 50.000
tergantung dari besar kecilnya dan juga bahan-bahannya. Untuk martabak
yang biasa ini yang cukup laris selain harganya ekonomis juga bisa
dinikmati siapa saja , isiannya selain sayur-sayuran , telur juga ada
daging cincangnya . Jika yang super selain besar ukurannya , isinyapun
beragam selain telur ada daging dengan ukuran besar-besar , sehingga
dinikmati oleh semua keluargapun cukup karena ukurannya yang besar itu.
Selain martabak telur pak Nor ini juga menyediakan martabak manis
berbagai ukuran untuk para pelanggannya , martabak ini rasanya mirip
dengan roti bakar namun ada rasa khasnya tersendiri.
 |
| Kereta dorong
setiap sore sampai malam mangkal di pertigaan Pecangaan |
“ Kamipun menerima pesanan membuatkan
martabak ini untuk berbagai acara , entah itu perkawinan ,khitanan atau
yang lainnya bagi yang ingin pesan dapat datang ke lapak saya di
pertigaan pabrik plastic Pecangaan kami menerima dengan senang hati “,
ujar Pak M.Nor berpromosi dan menutup sua. (FM)
Fatkhul Muin