Tribunners / Citizen Journalism
Iran Vs Amerika Memanas
Ketegangan AS–Iran Picu Risiko Global, Bersiap untuk Saling Menjaga
Ketegangan AS-Iran picu risiko krisis global, masyarakat diminta perkuat solidaritas dan kemandirian hadapi dampak ekonomi

KEGAGALAN pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran pada hari Minggu (12/4) lalu semakin meningkatkan ketidakpastian global. Ketegangan ini juga berpotensi menaikkan harga minyak dunia karena kawasan konflik merupakan jalur penting distribusi energi global.
Bagi Indonesia, hal ini dapat memicu kenaikan harga bahan bakar dan meningkatkan inflasi, sekaligus menambah beban anggaran negara. Jika konflik berlanjut, gangguan perdagangan global dan perlambatan ekonomi dunia juga bisa terjadi, yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kondisi global hari ini memberi pesan jelas: Indonesia tidak sepenuhnya kebal dari guncangan dunia. Ketika konflik geopolitik memanas, dampaknya merambat hingga ke dapur rumah tangga—melalui harga energi, bahan pokok, hingga peluang kerja. Sayangnya, dalam banyak kasus, respons kebijakan seringkali datang terlambat atau belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, menggantungkan harapan sepenuhnya pada negara bukanlah strategi yang cukup. Masyarakat perlu mulai membangun kesadaran kolektif bahwa krisis bisa datang tanpa aba-aba. Persiapan tidak bisa ditunda, dan ketahanan tidak bisa hanya menunggu dari atas.
Teori Kemandirian
Dalam ekonomi modern, gagasan tentang kemandirian masyarakat bukan hal baru. Elinor Ostrom (1990) melalui karyanya Governing the Commons menunjukkan bahwa komunitas lokal mampu mengelola sumber daya dan bertahan dari krisis tanpa selalu bergantung pada negara atau pasar. Ia menekankan pentingnya kepercayaan, norma sosial, dan kerja sama sebagai fondasi ketahanan ekonomi masyarakat.
Selain itu, konsep community resilience yang berkembang pasca krisis global 2008 juga menegaskan bahwa masyarakat yang memiliki jaringan sosial kuat, kemampuan adaptasi, dan inisiatif lokal cenderung lebih mampu bertahan menghadapi guncangan ekonomi. Demikian juga, kegotongroyongan antar warga saat pandemi covid 19 lalu juga membuktikan hal yang tidak jauh berbeda. Artinya, solusi tidak selalu harus datang dari kebijakan besar; justru sering kali dimulai dari tindakan kecil yang konsisten di tingkat komunitas.
Modal Kebersamaan Masyarakat Kita
Indonesia sejatinya memiliki modal sosial yang sangat kuat. Budaya gotong royong, kepedulian antar tetangga, dan jaringan komunitas berbasis agama maupun adat adalah kekuatan yang tidak dimiliki semua negara. Di banyak tempat, masyarakat masih saling mengenal, saling membantu, dan memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi.
Modal ini bisa menjadi “jaring pengaman” pertama ketika krisis datang. Melalui lingkungan RT/RW, masjid, gereja, banjar, atau komunitas lokal lainnya, masyarakat dapat mulai membangun komunikasi yang lebih intens: siapa yang rentan, siapa yang membutuhkan bantuan, dan siapa yang bisa menjadi penopang. Dengan mengenali kondisi sekitar sejak dini, respons terhadap krisis akan jauh lebih cepat dan tepat sasaran.
Tak Perlu Menunggu Negara
Jika pemerintah belum memiliki program antisipasi resesi yang terasa langsung, masyarakat tidak perlu menunggu. Inisiatif bisa dimulai dari hal sederhana: mempererat silaturahmi, memastikan tetangga dalam kondisi baik, serta membangun kepedulian kolektif di lingkungan masing-masing. Prinsip “warga bantu warga” bukan sekadar slogan, melainkan strategi nyata untuk bertahan.
Suka tidak suka, rasanya kita memang harus benar-benar mahfum, bahwa pemerintah saat ini tidak mau bergeming pada program prioritas mereka yaitu MBG dan KDMP -yang kita tahu mengalokasikan trilyunan rupiah perhari.
Dengan demikian, ketika krisis benar-benar terjadi, kekuatan terbesar bukan hanya pada kebijakan negara, tetapi pada kedekatan sosial. Kita akan tahu siapa yang harus dibantu lebih dulu, bagaimana membagi sumber daya, dan bagaimana memastikan tidak ada yang tertinggal. Di situlah letak ketahanan sejati: bukan hanya pada negara, tetapi pada masyarakat yang saling menjaga.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Prasetyo-Nurhardjanto-1-21012026.jpg)