Dengan
berbekal uang kurang dari 25 ribu rupiah iapun melengkapi persyaratan
berkas-berkas lamaran dengan memfoto copynya dan juga mengirimkan ke
panitia pendaftaran lewat Pos. Beberapa hari kemudian iapun memperoleh
nomor tes yang nantinya digunakan untuk mengikuti tes CPNS yang
ditempatkan disebuah gedung sekolah. Tibalah hari tes , dengan bekal
bismilah iapun berangkat mengikuti tes bersama dengan satu rekannya yang
sama-sama berwiyata bakti di SD Kedungkarang.
“
Alhamdulillah berkat jalan yang ditunjukkan Allah SWT nama saya muncul
di pengumuman dan dinyatakan diterima menjadi Guru SD di kabupaten
Kudus. Saat ini saya bersyukur karena satu tahun yang lalu saya juga
pernah mencoba untuk mendaftarkan diri sampai ke Lampung namun gagal “,
ujar Ahmad Miftah pada Mitra Pos yang mewawamcarainya.
Wiyata Bakti 9 tahun
Kepada
Mitra Pos Miftah yang dahulu berwiyata bakti bermodalkan ijasah SLTA
ini mengungkapkan setelah menamatkan sekolah lanjutan atas karena tidak
adanya biaya iapun mencoba membantu di SD yang pada waktu itu kekurangan
guru. Dalam perjalanan berwiyata itulah ada dorongan dari Kepala
Sekolah bapak Sutiyono disarankan untuk kuliah D2 PGSD agar wiyata
baktinya lebih terarah , dan jika ada lowongan dia bisa ikut
berkompetisi menjadi guru PNS. Setelah lebih kurang tiga tahun kuliah
di UT yang dilakukannya pada hari libur mengajar iapun memperoleh ijasah
D2 , sehingga hal ini menambah semangatnya untuk tetap mengajar
anak-anak meski dengan honor yang seadanya.
Dengan
berbekal ijasah D2 itu iapun memcoba untuk mengikuti tes CPNS yang
dilaksanakan di kabupaten Demak , karena belum peruntungannya beberapa
kali gagal . Namun kegagalan itupun menjadi cambuk untuk terus berwiyata
bakti dan juga terus belajar memprofesionalkan dirinya dengan kuliah
lagi S1 PGSD yang juga dilakoninya setelah mengajar dan juga ketika
libur tidak mengajar sehingga dia lulus.
| Ahmad Miftah ditengah anak didiknya |
Dengan
bekal ijasah itupun ia terus berwiyata bakti mendidik anak-anak meski
dari segi gajinya jauh dari harapannya . Namun berkat ketekunannya terus
berwiyata bakti itulah maka pada awal tahun 2011 ini ia berhasil
menjadi CPNS sesuai dengan cita-citanya setelah menekuni profesi Guru .
Setelah nanti menjadi guru PNS meski tidak bertempat di kampung
halamannya iapun tidak akan lupa dengan teman-teman seprofesinya di SD
Kedungkarang utamanya kepala sekolah yang selalu mendorongnya untuk
terus kuliah setinggi-tingginya.
“
Dalam hal ini yang cukup banyak berperan dalam keberhasilan saya
mengikuti tes CPNS ini adalah bapak Sutiyono kepala sekolah saya. Beliau
selain memberikan dorongan moril juga memberikan bantuan material
misalnya memberikan bantuan biaya kuliah saya dan yang lain agar kuliah
saya cepat selesai. Lewat kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih
yang tidak terkira “, ujar Ahmad Miftah dengan mata berkaca-kaca.
Ahmad
Miftah merupakan sosok tenaga wiyata bakti yang termasuk beruntung ,
karena belum genap 10 tahun berwiyata bakti dia berhasil menembus tes
CPNS dengan cara bersih yaitu kemampuan diri dan kemauan diri . Selain
dia mungkin masih banyak lagi tenaga wiyata bakti yang menunggu giliran
untuk diangkat menjadi CPNS, kendala para wiyata bakti ini diantaranya
kurang transparannya seleksi CPNS karena ada rumor yang menggejala di
lapangan untuk menjadi CPNS harus mengeluarkan biaya yang cukup besar,
Namun demikian Ahmad Miftah membuktikan bahwa untuk meraih kursi CPNS
yang ia butuhkan ialah kemauan dan ketekunan selain biaya yang tidak
begitu banyak . (FM)
