Tribunners / Citizen Journalism
Air Lambang Kehidupan, Kesucian, dan Malapetaka
Lihat saja bagaimana NASA menghabiskan biaya besar menjelajahi Planet Mars hanya untuk mendeteksi adakah air di planet merah tersebut.
b. Kota Kecil dengan kebutuhan 90 liter/per kapita/hari.
c. Kota Sedang dengan kebutuhan 110 liter/per kapita/hari.
d. Kota Besar dengan kebutuhan 130 liter/per kapita/hari.
e. Kota Metropolitan dengan kebutuhan 150 liter/per kapita/hari
Jumlah penduduk Indonesia menurut sensus 2010 telah mencapai 242,968,342 jiwa, dengan asumsi kebutuhan air yang ditetapkan UNESCO, maka kebutuhan air penduduk Indonesia saat ini berkisar 14,5 miliar liter/hari atau 14,5 juta M3/hari yang dimana masih jauh lebih tinggi dari data yang dikeluarkan oleh Ditjen Sumber Daya Air yang hanya kebutuhan Air Domestik 6,4 Juta M3.
Pada tahun 2010, Ditjen Sumber Daya Air menargetkan pembangunan prasarana dan sarana air baku sebesar 6.431 lt/detik yang tersebar di 25 provinsi. Sedangkan pada tahun 2011 target sebesar 5.060 lt/detik tersebar di 30 provinsi. Artinya Air baku pada tahun 2011 hanya dihasilkan sebesar (5.060 x 3600 detik x 30) = 546.480.000 Liter/jam atau 546.480 M3/jam jadi setip harinya 13,1 miliar liter atau 13,1 juta M3 yang berarti masih defesit sekitar -1,4 miliar liter air setiap harinya.
Data Direktorat Perkotaan dan pedesaan menyebutkan bahwa, saat ini jumlah penduduk Indonesia yang hidup di pedesaan hanya 56 persen dan di kota sebesar 44 persen. Dengan melihat perkembangan yang ada maka pada tahun 2015 diperdiksi angka ini akan berbanding terbalik, maka perkembangan ini juga tentunya akan berpengaruh terhadap naiknya kebutuhan air yang signifikan 5 tahun ke depan.
Permasalahan air bersih tidak hanya dikarenakan perkembangan penduduk yang saat ini mencapai 4 juta/tahun atau 1,3%/tahun, akan tetapi juga sumber air yang saat ini juga mengalami penurunan, akibat perambahan hutan yang luar biasa, dan terjadi hampir diseluruh daerah di Indonesia.
Hutan yang satu fungsinya sebagai tadah air hujan, semakin berkurang, dari sekitar 130 Juta ha luas hutan Indonesia, 42 Juta Ha di antaranya sudah gundul. Maka tidak heran, di berbagai daerah yang tidak memiliki hutan sering mengalami krisis air minum, terutama di Pulau Jawa.
Selain mengakibatkan krisis air minum, banyaknya hutan yang gundul juga berakibat banjir, dan longsor, mempercepat pemanasan global, tidak terjadinya lagi kesimbangan ekosistem dan berbagai dampak buruk lainnya, bahkan tidak jarang banjir dan longsor tersebut memakan korban jiwa dan kerugian material lainnya.
Pencemaran sumber air juga salah satu penyebab terjadinya krisis air, limbah pabrik yang belum diolah secara benar dan limbah-limbah rumah tangga (sampah) yang dibuang sembarangan merupakan permasalahan yang sudah lama berlangsung namun tidak juga selesai hingga saat ini, maka tidak jarang masyarakat yang masih memakai Air sungai yang tercemar sakit dan berujung pada kematian.
Sesuatu yang tidak dapat kita sangkal lagi bahwa air merupakan zat (unsur) yang sangat penting dalam kelangsungan hidup kita sebagai manusia. Tanpa air, hampir dipastikan maka kita akan sangat sulit untuk hidup. Jadi sangat bijaklah Tuhan menciptakan air pada yang berlimpah bagi kita, namun karena kelimpahan itu terkadang kita sering meremehkan keberadaan air, padahal selain untuk kehidupan, maka air juga dapat menjadi malapetaka bagi manusia itu sendiri.
Air merupakan lambang kehidupan, kesucian dan kematian, sehingga sebagai mahluk yang istimewa antara ciptaan Tuhan lainnya, sudah selayaknya kita menjaga, dan melestarikan ciptaanNya, kita perlu ingat bahwa “Bila Mata air terakhir berhenti menetes, dan pohon terakhir berhenti bertunas, maka disitu baru kita sadar bahwa uang tidak berarti apa-apa”
Selamat Hari Air bagi kita semua…!
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.