Selasa, 5 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Mari Berdoa dan Bergerak untuk Sepakbola Indonesia!

Sudah cukup lama saya ingin menuliskan ini alhamdulillah tersampaikan sekarang

Tayang:
Editor: Toni Bramantoro
lanyallamm.com
Imam Nahrawi dan La Nyalla Mattalitti 

Oleh: Tubagus Adhi dari Madinah Al Munawaroh

Sudah cukup lama saya ingin menuliskan ini, alhamdulillah tersampaikan sekarang. Mohon dimaafkan sebelumnya jika terlintas kesan kesombongan di benak pembaca, terkait tempat mencatatkan ini, akan tetapi tentu saja saya tak bisa berbohong.                               

Saya masih berada di kota suci Madinah al Munawaroh sebagai bagian dari perjalanan menunaikan ibadah haji di 1436 Hijriyah atau tahun 2015 ini bersama sahabat baik saya, Heru Pujihartono, pemilik klub sepakbola Jakarta Matador dan salah satu anggota dari Indonesia Millenium Development Force (IMDF) PSSI 2015-2019 pimpinan La Nyalla Mahmud Mattalitti.

Heru usianya jauh lebih muda dibanding saya dan La Nyalla.                                                   

Karena saya tak bisa berdusta maka tak masalah kiranya jika saya juga harus menerangkan siapa Heru Pujihartono yang sahabat baik saya dan La Nyallla itu.                                                       

Saya juga tak ingin mengabaikan kenyataan bahwa saya senantiasa mengikuti dan mencermati 'update' dari permasalahan persepakbolaan nasional yang kian menggila.         

Karenanya, saya memahami mengapa Komisi Disiplin FAM (Malaysia) harus memberi sanksi kepada tim SBAI dari usia U-16 tahun pada penampilannya di turnamen negeri jiran itu.

Keputusan mencoret tim Indonesia muda itu (karena mereka membawa nama timnas) dari keikutsertaannya di babak semifinal adalah sah karena bagaimanapun PSSI, sebagai institusi, sedang menjalani sanksi pembekuan dari FIFA.

Yang menjadi masalah, kenapa dalam kondisi 'suspend' ini federasi melegalisasi keikutsertaan tim ke event mancanegara? Apalagi, event U16 sifatnya bukanlah festival.  

Di luar 'case' itu, saya dihadapi pada sebuah kenyataan mengenai pencitraan massiv instrumen tidak resmi dari pemerintah atau negara terkait kompetisi sepakbola Pra PON.

Tim Transisi yang diketuai Bibit Samad Riyanto, mantan anggota KPK yang sudah sepuh itu, mengeluarkan perintah terkait pelaksanaan kompetisi Pra PON. Intinya, kompetisi Pra PON di seluruh provinsi harus mengikuti 'tata kelola' yang diatur oleh TT.

Tanpa kecuali. Seluruh pendanaan kompetisi Pra PON akan dikeluarkan dari kas TT, atau Kantor Menpora.  Intruksi TT implikasinya luar biasa.

Beberapa kompetisi Pra PON yang sejak pekan kemarin digelar di sejumlah daerah, terbatalkan. Intruksi TT langsung ditindakanjukuti tanpa reserve oleh institusi atau legalitas pengamanan di berbagai daerah, dengan tidak menganulir izin keramaian yang sudah diberikan jauh-jauh hari.

Rujukannya adalah perintah dari Mabes Polri yang meminta agar seluruh kepolisian daerah mengikuti petunjuk dari TT.                     

Lebih ironis lagi adalah apa yang disampaikan oleh representasi negara, yakni Kantor Menpora. Menpora Imam Nahrawi secara terbuka kembali mengeluarkan statemen mengenai 'road-map'-nya untuk, menurutnya, pengelolaan persepakbolaan nasional yang lebih baik.

Antaranya, melakukan dialog dengan utusan FIFA/AFC yang akan datang ke Indonesia atas permintaan PSSI. Menpora tampaknya bermaksud menjelaskan kepada mereka bahwa langkah mereka dengan 'mengubur' kepengurusan PSSI 2015-2019 adalah memang keinginan pemerintah.

Menpora tentunya berharap bahwa tindakan mereka melakukan 'KLB' --versi pemerintah-- akan direspon baik atau disetujui oleh utusan FIFA/AFC tersebut.    

Sehubungan dengan tekad Menpora tersebut, saya sangat meragukan jika FIFA, secara institusi, akan mengapresiasi sikap represif pemerintah yang dengan kata lain menjadi pengabaian dari misi mereka menumbuhkan kemerdekaan sepakbola dari intervensi atau campur tangan pemerintah atau negara.                                               

Utusan FIFA/AFC tentunya juga tidak bodoh untuk tidak memahami bahwa langkah Kantor Menpora, atau pun Tim Transisi, adalah inkonstitusionil dari aturan atau tata-kelola sepakbola yang sebenarnya, yakni yang merujuk pada Statuta FIFA.

Dasar dari Statuta FIFA juga jelas-jelas menunjukkan bahwa sepakbola bersifat mandiri, independen, tidak bergantung pada keuangan negara.            

Karenanya pula saya memahami kekesalan, kemarahan sekaligus kegeraman seorang Agum Gumelar menyikapi sikap represif Tim Transisi mau pun Menpora Imam Nahrawi saat ini.

Stakehoders sepakbola sudah waktunya bersatu, menunjukkan perlawanan.

Upaya 'devide et impera' dari Tim Transisi dengan dukungan penuh pemerintah/negara sudah sangat menciderai semangat demokrasi dam pro rakyat yang ironisnya justru terus diagung-agungkan oleh Presiden Joko Eidodo sendiri.                   

KEKUATAN DOA & GERAKAN MASSA.                                      

Kembali ke subtansi paparan ini yang juga menjadi judul tulisa di atas: ya, marilah kita sama-sama berdoa untuk sepakbola Indonesia.                                   

Agar sepakbola Indonesia terhindar dari kehancuran yang lebih parah. Agar sepakbola Indonesia selamat dari kezholiman atas indikasi atau potensi ketidaksukaan, kebencian, atau dendam pada orang per orang.                                      

Bersama-sama kita senandungkan  dan sinergikan doa agar kedepannya sepakbola Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat, dengan adanya penyamaan dan kesesuaian visi dan misi dari kesemua pihak.    

Jika selama ini La Nyalla Mattalitti sebagai Presiden PSSI sudah sangat legowo untuk terus berininsiatif melakukan pendekatan kepada pemerintah, khususnya kantor Menpora, mungkin sudah waktunya sekarang pemerintah atau negara menunjukkan kebijaksanaannya untuk bersikap welas-asih, sebagaimana orangtua kepada anaknya.        

Saya tetap percaya bahwa pada dasarnya tak ada orangtua yang memakan atau menelan anaknya sendiri, kendati beberapa kenyataan duniawi menunjukkan sebaliknya.                                          

Saya juga percaya pada kekuatan doa, karena doa merupakan salah satu ikhtiar kita untuk adanya perbaikan atau perubahan-perubahan kearah yang lebih baik. Saya percaya, bahwa kekuatan doa akan menjadi awal dari sebuah gerakan nyata yang kekuatannya tentu akan jauh lebih dashyat.                       

Kekuatan dari simpul-simpul kebersatuan, kebersamaan, kekompakan dan soliditas seluruh stakeholders sepakbola nasional yang tetap menginginkan kemandirian atau independensi.

Kekuatan yang jauh lebih bermartabat dibanding kehendak sepihak dari ikatan yang tidak benar-benar menyatu karena dilatar-belakangi berbagai kepentingan, baik dari unsur pemerintah/negara, atau individu-individu dengan beragam tujuan.

Ada kecenderungan kalau mereka semakin asyik bermain di situ, berkubang dalam pembenaran atau justifikasinya sendiri, karena nama mereka kian dikenal. Padahal, ketenaran seperti pisau bermata dua.                                  

* Tubagus Adhi, pencinta sepakbola nasional

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved